Novel ...
Ya Sabbit (4)
Oleh Wak Amin
Oleh Wak Amin
10
"CLEAN ..."
"CLEAN ..."
"Clean ..."
"Clean ..."
Mr Clean membuka matanya pelan-pelan.
"Clean ... Ini aku, sahabatmu. Letnan Salam," kata Letnan
Salam. Dia bantu Mr Clean duduk dengan bersandar di batang pohon kelapa.
"Lolos lagi Let .."
"Ya sudah. Lupakanlah dulu ..."
Mr Clean menceritakan peristiwa yang dialaminya sebatas
yang dia ingat. Selebihnya dia tidak tahu karena kepalanya masih pusing
tertimpa buah kelapa.
Ha ha ha ha ...
"Ada-ada saja kamu Clean. Dikalahkan oleh buah kelapa ..."
"Tak mungkin oleh orang lain," ujar Mr Clean. "Pasti yang saya kejar itulah orangnya ..."
Geram tampaknya Mr Clean.
"Ya sudah. Sekarang mari kubantu berjalan. Kita berhenti setelah ketemu warung." Letnan Salam merasa haus dan lapar.
Letnan Salam kemudian mene lepon rekan sekerjanya untuk segera menjemput dia dan Mr Clean yang belum terlalu kuat berjalan.
Sementara di rumah sakit, Nona Sabrina mulai merasa lebih enak mengunyah dan menelan maka nan yang masuk ke dalam mulutnya.
Sebelum ini dia memang susah jika disuruh makan. Kerongko ngan terasa kering dan selain air, terasa sakit ketika menelan.
Muhsin tak henti-hentinya memompa semangat Nona Sabrina agar cepat sembuh sediakala.
Begitu juga dengan kedua orang tuanya, Pak Broto dan isteri, serta Pak Kandar dan Bu Kandar.
Tak henti-hentinya mereka berdoa demi kesembuhan Nona Sabrina.
"Doa Mas selalu untukmu Sab," bisik Muhsin sambil tersenyum. Di tangan kanannya ada segelas air putih hangat.
"Minum dulu ya Sab." Nona Sabri na merasa tersanjung Muhsin memberinya segelas air minum.
"Kasih ya Mas."
"Sama-sama." Muhsin menaruh gelas besar yang airnya diminum
separo oleh Nona Sabrina itu di atas meja. Kemudian dia menga duk-aduk
sisa bubur ayam di piring seng motif bunga.
"Udahan dulu Mas ah .." Nona Sabrina menolak halus ketika Muhsin hendak menyuapinya dengan sesendok bubur.
Dia hanya ingin sesekali berjalan-jalan di luar kamar rawatnya se perti hari-hari yang kemarin itu.
"Bisa temani aku ya Mas?"
"Tentu Sabrina. Tapi kemana. Ke taman atau duduk-duduk saja?"
"Tengoklah nanti."
Sore di luar sal perawatan banyak pasien yang ditemani
keluarganya duduk, berkeliling dengan kursi roda, jalan kaki sambil
bersenda gurau.
Sesekali terdengar suara tangis bayi di gendongan ibunya.
Bebera pa lansia tampak beristirahat di taman. Belum lagi hilir mudiknya
para petugas medis , keluar masuk sal rawat pasien.
"Kita di sana saja. Mau kan Sab?" Menunjuk dua buah bangku kosong di bawah pohon mengha dap ke jalan raya besar.
"Mas Muhsin suka?"
"Suka sekali ..."
Menurut Muhsin, tempat teduh dan sejuk merupakan obat ampuh mempercepat penyembuhan penyakit.
"Terus ... Kalau saya gimana Mas. Lebih cepat ataukah ..."
Bola mata Nona Sabrina menari lembut ke wajahnya Muhsin, sebelum beralih
ke jejeran aneka tanaman di sekitar tempat mereka duduk berdua saat
ini.
"Mas doakan besok sudah bisa pulang .."
He he he he ...
"Mas Muhsin ini lucu." Ingin rasanya Nona Sabrina mencubit
kedua belah pipi Muhsin. Tapi tak ia lakukan karena tak tega menyakiti
orang yang paling dia sayangi saat ini.
"Lucu kenapa?"
"Masa pulang besok, sementara dokter yang merawat Sabrina belum bilang apa-apa .."
"Nanti Mas bilang pada dokternya." Muhsin merapikan rambut sang pujaan hati yang rada kusut terkena hembusan angin sore.
"Mas bilang apa barusan?"
"Pak dokter. Nona Sabrina ingin pulang. Beliau sudah rindu dengan rumahnya .."
Hi hi hi hi ...
"Kalau dokternya bilang enggak bisa, gimana Mas Muhsin?"
"Mas bilang aja gini .. Saya siap gantikan Nona Sabrina Pak Dokter .."
Wuuuuu ...
Hi hi hi hi ...
"Aduh. Ampun .. Ampun .. Ampun." Berulangkali Nona Sabrina
menepuk punggungnya Muhsin dengan kertas koran yang ia bawa dari sal
tempat dia dirawat.
11
SETELAH Nona Sabrina diperbo lehkan meninggalkan rumah sa kit, Muhsin kembali melakukan aktivitas seperti biasanya.
SETELAH Nona Sabrina diperbo lehkan meninggalkan rumah sa kit, Muhsin kembali melakukan aktivitas seperti biasanya.
Dia berdagang mie ayam, gado-gado dan berbagai minuman dingin dan hangat seperti es campur, kopi, air teh manis dan sekoteng.
Muhsin telah memutuskan untuk berhenti dari tempatnya
bekerja, karena ingin mencoba aktivitas baru sebagai pedagang mie. Ke
inginannya ini didukung penuh oleh kedua orang tuanya.
Selama ini Pak Broto dan isteri selalu mendukung apapun
kepu tusan sang anak, asalkan baik dan berman faat bagi yang
bersangkutan.
Sebagai orang tua dari keluarga sederhana, Pak Broto dan isteri selalu mendoakan yang terbaik buat buah hati mereka.
Dukungan dari kedua orang tua tentu melecut semangat
Muhsin untuk memulai usaha kulinernya. Apalagi dia juga didukung penuh
sang pacar. Dukungan ini diutara kan Nona Sabrina sebelum keluar dari
rumah sakit.
"Asal itu yang terbaik buat Mas, kenapa saya tak mau
dukung. Tak ada alasan bagi saya untuk tidak mendukung keputusan Mas
Muhsin," kata Nona Sabrina sesaat setelah memasuki mobil yang
mengantarnya pulang ke rumah.
Di tengah perjalanan, Muhsin ya ng bertindak selaku sopir, tak hen
ti-hentinya mengucapkan teri ma kasih kepada sang kekasih hati.
ti-hentinya mengucapkan teri ma kasih kepada sang kekasih hati.
Ibarat mengendarai sepeda mo tor, apa yang dialaminya sore
hari ini, sungguh di luar kebiasaan. Bebas macet, jalan mulus dan sama
sekali tidak terganggu lampu merah.
"Cuma ingat lho Mas." Nona Sab rina mengambil tisu di kotak
tisu dekat kaca mobil depan, mengu sapkannya di sekitar leher yang
sedari tadi terasa gerah.
"Ingat apanya Sab?" Muhsin ter paksa mengerem karena di depan ada mobil berhenti karena macet.
"Mas Muhsin kan jualan. Biasanya orang yang berjualan itu maunya cepat laku dan dapat banyak uang ..."
"Basi lu Sab, jika sampai seminggu enggak laku-laku ..."
Nona Sabrina tertawa.
"Nah, itu yang aku maksud Mas. Agar laku pedagang sering buat curang. Benar enggak?"
Reeen ...
Macet sudah terurai. Mobil melaju. Tidak boleh berhenti, apalagi sampai lama. Kasihan dengan pengendara yang ada di belakang ...
"Mungkin juga Sab," jawab Muhsin sembari melihat kaca spion
sebelah kanan. Ada pengen dara motor yang hendak lewat, mendahuluinya.
"Selain itu Mas. Seringkali terjadi keributan ..."
" Mudah-mudahan tidak sampai terjadi ya Sab," kata Muhsin. Minta Nona Sabrina turut mendoakannya agar dagangan laris dan aman.
"Yang namanya mendoakan, itu pasti Mas. Tapi yang dagang kan Mas Muhsin sendiri kan?"
"Ya ialah. Masa kamu Sab. Apa kata Mr Clean dan Letnan Salam nanti ..."
He he he he ...
Keduanya baru mengakhiri tukar pikiran setelah mobil
berhenti di salah satu rumah gudang berting kat. Rumah itu tampak asri,
ber sih, rapi dan indah.
Hampir tak diketemukan sampah berceceran ketika kaki ini melang kah masuk ke teras rumah bercat kuning, hijau dan biru itu.
Bunga-bunga berjejeran di taman rumput. Ada ayunan dan kolam kecil tempat beristirahat kala sore hari.
Suara cicit burung sesekali terde ngar. Terbang riang ke sana ke mari di atap rumah.
Tobe Continued
Tidak ada komentar:
Posting Komentar