Novel ....
Ya Sabbit (5)
Oleh Wak Amin
Oleh Wak Amin
12
"HEI Mas ... Kopinya mana?" Teriak seorang lelaki berambut gondrong.
"HEI Mas ... Kopinya mana?" Teriak seorang lelaki berambut gondrong.
"Maaf Pak. Menunggu giliran," ja wab Muhsin, yang baru datang menghampiri setelah melayani pembeli yang ingin menambah porsi mie dan gado-gado, sudah kena semprot.
"Maaf-maaf ... Mudah saja Mas bilang maaf ... Tidak bisa!" Bentak nya sambil memukul meja. Saki ng kuatnya pukulan itu, pengun jung lain terkejut dan kaget.
Salah seorang dari mereka, pria berambut pendek, datang mendekat.
"Tak usah pukul-pukul meja gitulah Pak. Terganggu kita," tegurnya dengan sopan dan suara pelan.
"Kenapa?" Enggak senang?" Tanya si rambut panjang. Berdiri sambil melotot. Beberapa pengun jung lain datang melerai kedua nya.
"Sudah-sudah ... Ayo Mas!" Kata teman si rambut pendek, menga jak kembali ke tempat duduknya semula.
"Rugilah kita melayani dia, Mas." Nasehat temannya.
"Tak boleh dibiarkan. Ini kan tempat makan. Semua orang boleh makan di tempat ini. Dari yang miskin sampai kaya sekalipun ..."
"Justru itu .."
"Kenapa?"
"Kalau mau cari perhatian kan di sinilah tempatnya. Cari teman juga termasuk cari balak. Nah, orang itu cari balak dan cari perhatian Mas. Jangan lupa itu. Menurutku, biarkan sajalah. Kita lihat sampai dimana kehebatannya .."
"Keburu tutuplah Bro," kata si rambut pendek.
"Maksudnya?"
"Kalau tengah malam kan tutuplah tempat makan ini. Kita enggak bisa tengok apa-apa. Tapi kalau saja tadi kamu biarkan, so pasti adegan seru bisa ditonton .."
"Begocoh maksudmu?"
"It's oke ..."
Ha ha ha ha ...
Karena hampir semua pengun jung tertawa, si rambut panjang tersinggung. Dia merasa semua yang makan di kedainya Muhsin menertawakannya.
Praaak ...
Guaarrr ....
Meja di dorong ke depan, menge nai pantat cewek yang lagi makan berdua dengan sang pacar. Sementara kursi dibanting, patah kedua kakinya.
" Ayo lawan saya ..." tantang si rambut panjang.
Kali ini rambut pendek tak bisa dihalang-halangi lagi. Dia melompat sambil membawa kursi dari belakang. Kursi itu ia angkat tinggi-tinggi lalu melemparkannya ke kepala rambut panjang.
Guaaarrr ...
"Aduuuh." Hanya meringis seben tar. Setelah itu ia membalikkan badan. Mengelakkan pukulan ke kanan sambil melepaskan tenda ngan ke punggung. Rambut pen dek terdorong ke depan. Tersung kur hampir mengenai tong sampah dekat parkiran.
Waaaa ...?
Pengunjung berdecak kagum dengan aksi yang dipertontonkan si rambut panjang barusan. Beta pa tidak. Dengan hanya satu kali tendangan berhasil menaklukkan lawannya.
Hebatnya. Rambut pendek pan tang menyerah. Dia berdiri lalu mendekati lawannya.
"Majulah!" Kata rambut panjang tertawa mengejek.
Hiyaaat ...
Kedua tangan dan kaki bergerak. Tak satu pun yang mengena. Tenaga terkuras. Rambut panjang hanya menghindar dengan sesekali tertawa mengejek.
"Ayo pukul aku ..!" Rambut pan jang membuka kancing bajunya. Terlihat dadanya yang ditumbuhi bulu hitam lebat.
"Cepat. Pukul gue!" Teriaknya berulang kali.
13
"OKE." Kata rambut pendek. Dia mengambil ancang-ancang. Sedikit membungkuk dengan kepala lebih dulu meluncur ke perut lawan.
"OKE." Kata rambut pendek. Dia mengambil ancang-ancang. Sedikit membungkuk dengan kepala lebih dulu meluncur ke perut lawan.
"Oi goblok. Bukan perut. Itu dada tau .." ucap rambut panjang de ngan nada tinggi. Pengunjung ketawa ngakak.
"Maaf ... Maaf ... Salah lihat."
Rambut pendek mundur beberapa langkah ke belakang. Anehnya, dia belum mau menyerang lawannya dengan tangan kosong.
Kenapa?
"Hei tengik. Kenapa diam? Takut ya? Cepat serang aku ...!"
"Gimana caranya ya?" Rambut pendek bengong sendiri. Bagaimana caranya memukul bagian dada lawannya itu. Cukup tangguh kalau dipukul dari depan.
"Kalau dari belakang? Bukan dada tau. Itu punggung." Rambut pendek bicara sendiri.
"Oi cepat pukul dadaku!" Teriak si rambut panjang. Dia medekati lawannya.
Praaak ...
Jegaaar ...
Karena tak mau memukul, rambut panjang akhirnya melepaskan pukulan bukan ke perut atau dada. Tapi muka , hingga lawan terpental beberapa meter. Hampir saja mengenai sepeda motor ya ng diparkir di depan warung.
Ha ha ha ha ...
Teman si rambut pendek datang menolong. Dia kasihan melihat rekan sekerjanya itu. Babak belur kena pukul. Malu lah dilihat orang banyak.
Dia memanggil Muhsin. Lalu memberikan beberapa lembar uang kertas sebagai bayaran makan dan minuman yang mereka pesan.
"Yuk Bro .. Kita pulang saja," ajaknya. Memapah rambut pendek masuk ke dalam mobil pick up mini.
Muhsin ikut membantu ..
"Terima kasih Mas. Maafkan kami .."
" Ya enggak apa-apa Mas. Kan bukan salahnya Mas," kata pria kurus tapi tampan itu sambil menyalakan mesin mobil
Sementara itu ...
"Ayo .. Siapa lagi yang mau menantang aku. Majuuuu!' Tantang si rambut panjang. Berkacak pinggang, tapi tak tahu bawah ketiaknya robek.
Hua ha ha ...
Rambut panjang bingung, kenapa semua mata pengunjung menoleh serempak ke bawah ketiaknya.
Dia mengarahkan pandangan matanya ke bawah ketiak.
"Kampret. Robek. Siapa yang merobeknya?"
"Hantuuu ..." Jawab pengunjung serempak.
Ha ha ha ha ...
Rambut panjang malu setengah mati. Yang robek bukan cuma bagian ketiaknya. Tapi juga selangkangannya.
Masih untung bercelana dalam. Kalau tidak bakal jadi tontonan orang banyak.
Tak ingin dipermalukan lagi, ram but panjang kembali berkacak pinggang. Dia pandangi satu per satu wajah tegang para pengun jung.
"Hei lu. Kemarilah sebentar!" Meminta Muhsin mendekat karena ada sesuatu yang mau diomonginya.
"Apa yang bisa saya bantu Mas?"
Deeep ...
Deeep ..
Hiyaaat ...
Draaaak ..
Berkali-kali melepaskan pukulan dan tendangan, Muhsin dengan lihainya berhasil menangkis sam bil menghindar. Merasa dipermainkan, rambut panjang naik pitam.
Jegaaar ..
gedebug
Kraaaak ...
Kursi dilempar, tak kena. Meja di-angkat tinggi lalu dilempar, juga tak kena.
Gedebug ...
Terpeleset. Jatuh ditimpa meja.
Ha ha hu hu ...
14
SI rambut panjang berdiri lagi. Baru selangkah melangkahkan kaki, terpeleset lagi.
SI rambut panjang berdiri lagi. Baru selangkah melangkahkan kaki, terpeleset lagi.
Hua ha ha ha ...
"Mampuslah gendut," kata seorang cewek yang pantatnya terkena kursi tadi. Ketawa mengejek.
"Apa kamu bilang?" Tanya rambut panjang mendekat ke itu cewek.
"Mampuslah gendut. Memang situ gendut. Mampuslah biar enggak bikin ribut lagi."
Ha ha ha ha ...
Belum sempat menonjok batang hidung itu cewek, tangan kanan rambut panjang dipegang Muhsin kuat-kuat.
"Tak baik lawan perempuan tau?" Muhsin kali ini marah. Dia tak terima berbuat seenaknya di warung kulinernya. Apalagi sampai menghina dan memukul perempuan.
"Awas kamu ya!" Ancam rambut panjang. Berlalu pergi meninggalkan Muhsin dan pengunjung lain yang melongo melihat kelakuannya.
"Alhamdulillah," ucap Muhsin. Dia meminta maaf kepada para pengunjung atas kejadian barusan.
Karena, walau bagaimana pun, sebagai empunya warung daga ngan, dia lah orang yang paling bertanggung jawab atas keama nan dan kenyamanan selama pe ngunjung menikmati hidangan yang dipesan dan disajikan.
"Kami maafkan Mas." Satu persa tu para pengunjung menyalami Muhsin. Mereka merasa perlu me ngucapkan terima kasih karena keributan di warung berhasil dire dam dan tidak sampai meluas.
Warung pun kembali aman. Satu persatu pengunjung meninggalkan warung. Tak lama kemudian pengunjung lain datang dengan memesan makanan dan minuman yang diinginkan.
Sebelum tengah malam, Muhsin menutup warung kulinernya. Dia berkemas-kemas setelah merapikan kursi dan meja tempat makan. Lalu mengunci pintu teralis agar lebih aman dan terhindar dari kemalingan.
"Itu warungnya. Dan itu pemiliknya!" Kata rambut panjang menunjuk ke arah Muhsin yang bersiap-siap menuju motornya.
"Oke. Kita serang sekarang .." Perintah Sang Bos yang membawa beberapa anak buahnya. Sengaja hendak memberi pelajaran pada Muhsin yang mereka anggap sombong, menyebalkan dan telah meremehkan rambut panjang.
Ketika hendak menghidupkan me sin motornya, rambut panjang mendorong Muhsin dari bela kang. Terjatuh karena terkejut. Dia tak menyangka bakal diserang rambut panjang dan kawan-kawan.
Baru hendak berdiri, Muhsin di keroyok dan dipukuli sampai ba bak belur. Hidungnya berdarah dan hampir patah. Kedua pipinya lebam sementara kaki dan tangannya tak bisa digerakkan.
Patahkah?
Tidak. Cuma memar karena bertubi-tubinya pukulan dan tendangan yang dilesakkan rambut panjang cs.
Para preman itu pun pergi setelah beberapa warga datang menolong Muhsin yang tergeletak di tanah merah. Beruntung warga tak bertindak anarkis.
Pak Broto yang diberi kabar war ga anaknya Muhsin pingsan kare na digebuki orang banyak, shock dan panik.
Bu Broto menangis histeris. Nona Sabrina yang baru pulang dari ka ntor, segera meluncur ke kedia man camernya itu sebelum sama-sama meluncur ke rumah sakit un tuk menengok keadaan Muhsin.
Tobe Continued
Tidak ada komentar:
Posting Komentar