Novel ....
Ya Sabbit (7)
Oleh Wak Amin
17
TENGAH hari ...
"Selamat siang Pak. Ada yang bisa saya bantu?" Petugas secu rity yang berdiri dekat pintu ma suk menyapa Said yang hendak masuk bank.
"Saya mau menabung Pak ..."
"Silakan Pak. Di sana!" Si petugas mengantar Said ke sebuah meja bertingkat. Di sana ada kotak ke cil berisi lembaran kertas (form) yang harus diisi dan ditulis.
"Bapak tinggal isi. Setelah itu ba pak silakan duduk. Sabar ya Pak. Pegawainya lagi beristirahat. Ini memang jam istirahat," jelas pria tegap tapi murah senyum itu dengan tutur kata lembut dan sopan.
Said sengaja belum mau duduk. Dia masih berdiri dan menanya kan beberapa hal terkait dengan tabungan. Si petugas tak kebera tan menjelaskan sebagaimana yang ia tahu dan bisa jelaskan kepada Said.
Praaak ...
Kreeeek ...
Satu kali pukulan ke belakang kepala disertai pitingan di leher, se curity bank berhasil dilumpuh kan. Jono dan Said kemudian menyeret badan pria berkulit sawo matang itu ke toilet, dan dikunci dari luar.
Bank yang terletak di pusat kota itu bertingkat tiga. Tingkat pertama tempat penyetoran uang. Tingkat kedua pembayaran ber bagai tagihan mulai dari angsu ran KPR hingga kartu kredit. Lan tai tiga khusus ruang kerja mana jer bank.
Karena di lantai pertama sepi, Bos Mamat dan anak buahnya naik ke lantai dua. Ada tiga pe rempuan tengah berbincang-bincang sambil merapikan ber kas-berkas yang baru saja diserah kan nasabah yang hendak menga jukan kredit perumahan.
Kemudian salah seorang di antaranya masuk ruangan, sedangkan dua rekannya baru beranjak pergi setelah mendapat telepon dari rekannya yang sudah lebih dulu makan siang bersama di kantin belakang gedung.
"Oke Bos. Kita bergerak!" Kata Jono. Dua karyawan bank tadi mereka amankan di tempat yang sepi. Lalu dipaksa menunjukkan lemari besi tempat penyimpanan uang.
"Aduh. Jangan Pak," kata cewek berhidung mancung. Ketika ta ngan Iqbal meraba-raba rok dan celana dalamnya.
"Kenapa pakai rok pendek kalau takut diraba?"
Si cewek diam. Iqbal tak jadi melanjutkan rabaannya setelah tangannya dipukul Jono. Jono me merintahkan rekannya itu untuk membawa paksa dua karyawati cantik itu ke tempat penyimpanan uang.
"Ba .. baik Om." Kata karyawati satunya, meski tak berhidung mancung, kulitnya putih bersih.
Karena ditatap tajam Bos Mamat, cewek tinggi semampai itu ketakutan. Badannya gemetar. Ingin rasanya dia menangis sejadi-jadinya.
"Cepaaat ...!" Hardik Bos Mamat. Meminta rambut panjang dan cs-nya membawa cepat si kulit putih menyusul teman sekerjanya yang sudah lebih dulu diamankan Jono dan kawan-kawan.
Sangat cepat aksi itu berlang sung. Setelah memasuki ruang tempat penyimpanan uang. Bos Mamat memerintahkan anak buahnya mengambil semua uang yang tersimpan di lemari besi berterali itu.
"Cepaaat ...!"
Dua tas besar yang telah mereka persiapkan sebelumnya, hanya da lam tempo lima menit, sudah terisi penuh kepalan uang kertas. Uang yang dirampok mencapai hampir satu miliar rupiah.
Bukan main ...
Setelah itu mereka keluar ruangan serba dingin itu. Tanpa sengaja Jono melihat si hidung mancung dengan beraninya menekan tombol alarm.
Riiiing ...
Reeeng ... ruuung ... riiing ...
Bos Mamat naik pitam.
Dooor ..
Guaaam ...
Dua tembakan di kepala, dua karyawati muda usia itu tewas seketika.
"Cepat turuuuun ...!" Perintah Bos Mamat pada anak buahnya yang tampak puas setelah berhasil menggondol banyak uang.
18
"MENYERAHLAH ..." Kata Letnan Salam lewat pengeras suara. Beberapa anggota polisi, di an taranya Mr Clean dan Sabrina, sudah bersiap melepaskan tembakan. Mereka berbaris di depan gedung bank dengan senjata siap ditembakkan.
"Menyerahlah atau kami tembak di tempat."Letnan Salam mengulangi lagi permintaannya. Dia mengingatkan Bos Mamat cs untuk segera keluar dari gedung dan menyerahkan diri.
"Gimana Bos?" Jono tak ingin mengambil risiko. Lebih baik menyerah dari mati ditembak.
"Iqbal ..."
"Siap Bos."
"Kamu bawa kemari manajer bank itu. Cepaaat!" Perintah Bos Mamat. Iqbal ditemani Fahmi dengan senjata terhunus menuju lantai paling atas lewat lift.
"Kamu Jono, temani aku .."
"Siap Bos."
"Tunggu perintahku ... Kalau kataku tembak, jangan ragu dan takut untuk menembak. Paham?"
"Paham Bos."
Di luar gedung, pasukan tembak khusus mulai keluar dari barisan. Mereka menyebar ke berbagai sudut tapi tetap fokus pada pintu utama.
"Let. Saya lewat samping."
"Clean. Temani Nona Sabrina."
"Baik Let."
Dari pintu samping, Mr Clean dan Nona Sabrina sukses memanjat ke jendela kecil di atas pintu samping kanan gedung.
Mereka memilih anak pintu yang jumlahnya lima itu agar ketika masuk tak menimbulkan suara berisik.
"Dorong saja kaki kamu Non." Agak payah Nona Sabrina menggerakkan kaki kanannya.
Namun setelah didorong Clean dengan pelan, Sabrina bisa masuk dan melompat ke lantai dalam gedung bank.
Menunggu Mr Clean masuk, keduanya baru bergerak memisah guna menemukan Bos Mamat dan anak buahnya.
Ternyata ....
"Lepaskan aku!" Pinta sang manajer bank pada Bos Mamat penuh harap. Sang Manajer masih ingin hidup, bagaimana pun caranya.
"Diam .. atau kutembak!" Ancam Bos Mamat. Dia kemudian meminta Jono mengambil alih Sang Manajer untuk dibawa keluar.
"Bos ..."
"Cepat bawa keluar!" Perintah Bos Mamat. Di luar gedung beberapa anggota polisi siap melepaskan tembakan.
"Cepaat. Jangan takut." Bos Mamat bersama anak buahnya yang lain mengikuti dari belakang.
Ketika berada di samping kanan pintu luar gedung, Bos Mamat melepaskan tembakan secara membabi-buta.
Dengan lihainya dia bergerak cepat di balik mobil yang terparkir di jalan masuk gedung. Beberapa anggota polisi terluka kena tembakan.
"Tembaaaak ...!" Perintah Letnan Salam. Dua anggota polisi yang tersisa tak menyia-nyiakan kesempatan untuk menghabisi para pelaku.
Guaaar ..
Guaaam ...
Jono tewas dengan kepala pecah. Sementara Sang Manajer sempat sekarat sebelum akhirnya tewas ditembak Iqbal yang mencoba berlari ke seberang jalan.
Dari balik pintu, Nona Sabrina, berlari sambil melompat, berhasil mengamankan Fahmi dan Sa id. Sedangkan Mr Clean, dengan satu gerakan cepat mengarah ke belakang kepala, membuat rambut panjang terkapar.
Perkelahian sengit sempat terjadi antara Sabrina dengan Iqbal. Lelaki ceking ini pantang menyerah. Dua kali pukulan mengenai dada Nona Sabrina.
Dibalas dengan tendangan yang mengarah ke selangkangan, Iqbal mengaduh kesakitan. Sebelum melepaskan pukulan ke dagu, Letnan Salam dengan cepat menembak kakinya.
Jatuh tersungkur
(Tobe Continued)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar