Novel …
El-Maut (2)
Oleh Wak Amin
3
“AYO Mbak .. Yang kuat.” Teriak teman satu kelompok Sabrina.
Dia menyemangati isteri Muhsin ini karena berkali-kali jatuh bangun saat
menarik tali tambang.
“Ayo Yang … Yang kuat!” Pekik Muhsin. Sabrina berdiri lagi.
Lalu menarik tali bersama rekan-rekannya yang lain.
Nyaris berhasil …
Tuuuus …
Bruuuk …
Ha h?a ha ha …
Tali tambang putus.
Terlepas dari pegangan lawan, Sabrina dan kelompoknya terpental beberapa
meter ke belakang.
Pihak panitia segera turun tangan. Memberikan bantuan kepada
Sabrina cs. Tidak ada yang terluka. Cuma rasa nyeri di pantat, termasuk
Sabrina.
“Kamu enggak apa-apa Yang?” Muhsin mengusap lembut punggung
isterinya.
“Enggak,” jawab Sabrina. “Cuma nyeri saja di pantatku karena
terhempas tadi.”
“Urut ya?”
“Enggak usah Mas. Nanti juga hilang,” ujar Sabrina. Dia dan anggota
kelompoknya sudah berdiri dan siap melanjutkan permainan tarik tambang.
“Pemenang sesi kedua adalah kelompok biru,” kata juri lewat
pengeras suara.
Wuuuu …
Kelompok ibu yang berpakaian serba putih protes sambil
ketawa dan tersipu malu.
Memasuki sesi ketiga …
Kedua kelompok dipersilakan berembuk selama dua menit. Kesempatan
ini dimanfaatkan Sabrina untuk bertukar
pikiran dengan teman sekelompoknya.
“Mbak … Pindah aja ke depan, kenapa sih. Demen ya di
belakang?” Tanya seorang ibu muda berkulit hitam manis dengan rambut sepanjang
bahu . Langsing dan murah senyum. Sepanjang perlombaan, ibu beranak satu ini
tak pernah lepas dari senyum manis yang menghias di sela bibirnya.
“Iya don Mbak. Kita yakin deh. Kita bakalan menang. Karena
Mbak orangnya kuat. Ototnya gede,” seloroh ibu berambut keriting yang baru
beberapa bulan melepas masa lajang.
Merasa didorong terus menerus untuk berpindah tempat,
Sabrina akhirnya bersedia. Dia tak berkeberatan. Hitung-hitung nyobain bagaimana
rasanya menarik tali tambang dari posisi paling depan.
“Mari kita mulai sesi ketiga …” Panitia memina dua kelompok
peserta tarik tali tambang bersiap. Beberapa saat lagi permainan akan segera
dimulai.
Dari balik tali pembatas antara penonton dan pemain, Muhsin tak
henti-hentinya menyemangati Sang isteri yang semula cuek karena konsentrasi
untuk memenangi perlombaan.
“Yang …!”
“Yang ..!”
Sabrina menoleh. Dia melepas senyuman sebagai isyarat siap
bermain maksimal. Juga para ibu yang lain. Tetap mendapat support dari suami
dan keluarga mereka.
“Okeee. Siaaaap. Satu .. dua .. ti …ga.”
Gedebuk.
Auuuw …
Kelompok putih, entah bagaimana ceritanya, jatuh barengan. Bertumpuk seperti pedagang
ikan menumpuk ikan dagangan.
Perlombaan terpaksa ditunda beberapa saat. Sampai ibu-ibu
yang berada di kelompok putih menyatakan ‘oke’ dan siap melanjutkan perlombaan.
“Alhamdulillah,” kata panitia berambut keriting bergelombang
setelah mendapat kepastian kelompok putih siap melanjutkan permainan tarik
tambang.
Priiit …
Kedua kelompok berdiri.
Priiit …
Kedua kelompok pegang tali tambang.
Priiit …
Tali siap ditarik.
Priiit …
Tarikan pun dimulai.
Satu menit belum ada yang bergerak dari posisi
masing-masing. Memasuki menit kedua, kedua kelompok mulai kepayahan. Pada menit
ketiga nafas tersengal-sengal, dan di menit kelima kedua kelompok sama-sama
melepaskan tali dan merebahkan tubuh mereka di tanah berlumpur.
4
MENUMPANG train jelang siang …
Tak begitu ramai penumpang, namun riuh suasananya. Karena
banyak anak-anak yang sengaja dibawa
orangtua mereka menikmati keindahan kota dari train. Keriuhan inilah yang
sangat disukai Sabrina.
“Kalau begitu kamu akan banyak anak sayang,” kata Muhsrin
sembari mengajak Sang Isteri melihat keindahan pusat kota dengan berbagai
kesibukan.
“Apa hubungannya Mas antara keriuhan dengan anak?” Sabrina
merebahkan kepalanya di bahu Muhsin. Dia ingin bermanja ria dengan suami
tersayang. Momen seperti ini sangat langka.
“Kata orang-orang tua dulu kala wanita itu suka dengan
keriangan anak-anak, ramai begitu, pasti baka lan banyak anak,”terang Muhsn
sembari memberikan permen kepada Sang Isteri. Permen cokelat itu sudah lama ia
simpan dan sengaja diberikan kepada orang terkasih saat berbulan madu.
“Satu lagi say. Tempat duduk,” ujar Muhsin. Dia mencium pipi
Sabrina. Dia tidak tahu ada anak-anak di belakangnya. Mereka tertawa lalu
berlari dan memeluk hangat ibu mereka.
“Apa itu say?”
“Tempat duduk. Kalau dingin berarti sedikit anaknya.
Sebaliknya kalau panas, anak kita bakalan banyak.”
“Udah Mas ah.” Sabrina mulai tak suk Muhsin cerita yang
belum tentu benar adanya.
“Lho .. Say, kok ngambek gitu?” Muhsin memeluk erat Sabrina.
Setelah train melewati terowongan pusat
kota, baru ia lepaskan.
“Coba sekarang berdiri say. Sebentar aja. Mau ya, demi aku.
Suamimu.”
Sabrina menoleh ke belakang, para ibu dan anak-anak
memintanya berdiri. Jadi bisa tahu, panas atau dingin.
“Mereka aja setuju aku kalau kamu berdiri.. Masa enggak mau.”
Dengan berat hati Sabrina berdiri sebentar. Lalu duduk lagi.
Eeeeem …
“Gimana Mas?”
“Coba kamu rasakan sendiri dengan tanganmu say.” Pinta
Muhsin. Sabrina mau menaruh telapak tangannya di atas tempat duduknya setelah ditarik lembut Muhsin.
Plak .. pak .. plak .. pak …
“Gimana Yang?”
“Hot …”
Ha ha ha ha …
Melihat penumpang train yang duduk dekat Muhsin dan Sabrina
tertawa sambil bertepuk tangan, Sabrina jadi malu hati.
Dia tidak lagi malu hati setelah train singgah sebentar
menurunkan penumpang. Lima menit berselang train berangkat lagi. Kali ini
penumpangnya rata-rata seusia Sabrina.
“Apakan mereka berbulan madu juga ya?”
“Kayaknya sih,” bisik Muhsin dengan suara mendesah manja.
“Kok kayaknya?”
“Tanya aja sendiri kalau kamu penasaran say.”
“Enggak mau ah. “ Sabrina mengambil sebotol air mineral dari dalam tas kulitnya.
Ada dua pipet. Bersama Muhsin, dia isap pelan-pelan itu air.
Ehem …
Nikmat sekali. Sulit dibayangkan betapa nikmatnya minum
berdua suami dalam satu botol. Sambil ketawa, senyum, cubit-cubitan, tak ada
yang pedul.
“Yang …!”
“Pasti mau ngebahas soal anak kan?”
“Iya juga sih,” aku Muhsin. Dia mencolek tangan isterinya
untuk sejenak menoleh ke belakang, pasangan muda usia tadi. Berciuman mesra
tanpa merasa risi satu sama lain.
“Mas mau?”
“Nanti aja, di tempat sepi,” bisik Muhsin terus terang. “Kalau
di tempat sepi kan mau manja-manjaan kita. Lama boleh, sebentar juga enggak ada
yang ngelarang. Enggak ada yang lihat pula.”
“Mas …”
“Apa say?”
“Kenapa ya say, mereka seperti orang pacaran saja. Udah
mesra, lama pula. Masa sih ciuman aja sampai sepuluh menit. Amit-amit deh. Apa
enggak bosen.”
“Ya enggaklah say. Ciuman mereka itu untuk memperkuat
hubungan batin mereka. Itu menurut saya.”
“Kok tahu. Mas Muhsin udah pengalaman ya …”
“Enggak ah.”
“Kenapa bisa tahu kalau ciuman mereka itu untuk memperkuat
hubungan batin mereka?’
“Nerka aja say …”
Iiiiich …
Muhsin kena cubit lag. Sudah puluhan kali dia dicubit sayang
oleh Sang Isteri …
Tobe contiued
Tidak ada komentar:
Posting Komentar