Kamis, 27 Juli 2017

El-Maut (2)



Novel …


El-Maut (2)
Oleh Wak Amin




3
“AYO Mbak .. Yang kuat.” Teriak teman satu kelompok Sabrina. Dia menyemangati isteri Muhsin ini karena berkali-kali jatuh bangun saat menarik tali tambang.
“Ayo Yang … Yang kuat!” Pekik Muhsin. Sabrina berdiri lagi. Lalu menarik tali bersama rekan-rekannya yang lain.
Nyaris berhasil …
Tuuuus …
Bruuuk …
Ha h?a ha ha …
Tali tambang putus.  Terlepas dari pegangan lawan, Sabrina dan kelompoknya terpental beberapa meter ke belakang.
Pihak panitia segera turun tangan. Memberikan bantuan kepada Sabrina cs. Tidak ada yang terluka. Cuma rasa nyeri di pantat, termasuk Sabrina.
“Kamu enggak apa-apa Yang?” Muhsin mengusap lembut punggung isterinya.
“Enggak,” jawab Sabrina. “Cuma nyeri saja di pantatku karena terhempas tadi.”
“Urut ya?”
“Enggak usah Mas. Nanti juga hilang,” ujar Sabrina. Dia dan anggota kelompoknya sudah berdiri dan siap melanjutkan permainan tarik tambang.
“Pemenang sesi kedua adalah kelompok biru,” kata juri lewat pengeras suara.
Wuuuu …
Kelompok ibu yang berpakaian serba putih protes sambil ketawa dan tersipu malu.
Memasuki sesi ketiga …
Kedua kelompok dipersilakan berembuk selama dua menit. Kesempatan ini dimanfaatkan Sabrina untuk  bertukar pikiran dengan teman sekelompoknya.
“Mbak … Pindah aja ke depan, kenapa sih. Demen ya di belakang?” Tanya seorang ibu muda berkulit hitam manis dengan rambut sepanjang bahu . Langsing dan murah senyum. Sepanjang perlombaan, ibu beranak satu ini tak pernah lepas dari senyum manis yang menghias di sela bibirnya.
“Iya don Mbak. Kita yakin deh. Kita bakalan menang. Karena Mbak orangnya kuat. Ototnya gede,” seloroh ibu berambut keriting yang baru beberapa bulan melepas masa lajang.
Merasa didorong terus menerus untuk berpindah tempat, Sabrina akhirnya bersedia. Dia tak berkeberatan. Hitung-hitung nyobain bagaimana rasanya menarik tali tambang dari posisi paling depan.
“Mari kita mulai sesi ketiga …” Panitia memina dua kelompok peserta tarik tali tambang bersiap. Beberapa saat lagi permainan akan segera dimulai.
Dari balik tali pembatas antara penonton dan pemain, Muhsin tak henti-hentinya menyemangati Sang isteri yang semula cuek karena konsentrasi untuk memenangi perlombaan.
“Yang …!”
“Yang ..!”
Sabrina menoleh. Dia melepas senyuman sebagai isyarat siap bermain maksimal. Juga para ibu yang lain. Tetap mendapat support dari suami dan keluarga mereka.
“Okeee. Siaaaap. Satu .. dua .. ti …ga.”
Gedebuk.
Auuuw …
Kelompok putih, entah bagaimana ceritanya,  jatuh barengan. Bertumpuk seperti pedagang ikan menumpuk ikan dagangan.
Perlombaan terpaksa ditunda beberapa saat. Sampai ibu-ibu yang berada di kelompok putih menyatakan ‘oke’ dan siap melanjutkan perlombaan.
“Alhamdulillah,” kata panitia berambut keriting bergelombang setelah mendapat kepastian kelompok putih siap melanjutkan permainan tarik tambang.
Priiit …
Kedua kelompok berdiri.
Priiit …
Kedua kelompok pegang tali tambang.
Priiit …
Tali siap ditarik.
Priiit …
Tarikan pun dimulai.
Satu menit belum ada yang bergerak dari posisi masing-masing. Memasuki menit kedua, kedua kelompok mulai kepayahan. Pada menit ketiga nafas tersengal-sengal, dan di menit kelima kedua kelompok sama-sama melepaskan tali dan merebahkan tubuh mereka di tanah berlumpur.


4
MENUMPANG train jelang siang …
Tak begitu ramai penumpang, namun riuh suasananya. Karena banyak anak-anak yang sengaja  dibawa orangtua mereka menikmati keindahan kota dari train. Keriuhan inilah yang sangat disukai Sabrina.
“Kalau begitu kamu akan banyak anak sayang,” kata Muhsrin sembari mengajak Sang Isteri melihat keindahan pusat kota dengan berbagai kesibukan.
“Apa hubungannya Mas antara keriuhan dengan anak?” Sabrina merebahkan kepalanya di bahu Muhsin. Dia ingin bermanja ria dengan suami tersayang. Momen seperti ini sangat langka.
“Kata orang-orang tua dulu kala wanita itu suka dengan keriangan anak-anak, ramai begitu, pasti baka lan banyak anak,”terang Muhsn sembari memberikan permen kepada Sang Isteri. Permen cokelat itu sudah lama ia simpan dan sengaja diberikan kepada orang terkasih saat berbulan madu.
“Satu lagi say. Tempat duduk,” ujar Muhsin. Dia mencium pipi Sabrina. Dia tidak tahu ada anak-anak di belakangnya. Mereka tertawa lalu berlari dan memeluk hangat ibu mereka.
“Apa itu say?”
“Tempat duduk. Kalau dingin berarti sedikit anaknya. Sebaliknya kalau panas, anak kita bakalan banyak.”
“Udah Mas ah.” Sabrina mulai tak suk Muhsin cerita yang belum tentu benar adanya.
“Lho .. Say, kok ngambek gitu?” Muhsin memeluk erat Sabrina.  Setelah train melewati terowongan pusat kota, baru ia lepaskan.
“Coba sekarang berdiri say. Sebentar aja. Mau ya, demi aku. Suamimu.”
Sabrina menoleh ke belakang, para ibu dan anak-anak memintanya berdiri. Jadi bisa tahu, panas atau dingin.
“Mereka aja setuju aku kalau kamu berdiri.. Masa enggak mau.”
Dengan berat hati Sabrina berdiri sebentar. Lalu duduk lagi.
Eeeeem …
“Gimana Mas?”
“Coba kamu rasakan sendiri dengan tanganmu say.” Pinta Muhsin. Sabrina mau menaruh telapak tangannya di atas  tempat duduknya setelah ditarik lembut Muhsin.
Plak .. pak .. plak .. pak …
“Gimana Yang?”
“Hot …”
Ha ha ha ha …
Melihat penumpang train yang duduk dekat Muhsin dan Sabrina tertawa sambil bertepuk tangan, Sabrina jadi malu hati.
Dia tidak lagi malu hati setelah train singgah sebentar menurunkan penumpang. Lima menit berselang train berangkat lagi. Kali ini penumpangnya rata-rata seusia Sabrina.
“Apakan mereka berbulan madu juga ya?”
“Kayaknya sih,” bisik Muhsin dengan suara mendesah manja.
“Kok kayaknya?”
“Tanya aja sendiri kalau kamu penasaran say.”
“Enggak mau ah. “ Sabrina mengambil  sebotol air mineral dari dalam tas kulitnya. Ada dua pipet. Bersama Muhsin, dia isap pelan-pelan itu air.
Ehem …
Nikmat sekali. Sulit dibayangkan betapa nikmatnya minum berdua suami dalam satu botol. Sambil ketawa, senyum, cubit-cubitan, tak ada yang pedul.
“Yang …!”
“Pasti mau ngebahas soal anak kan?”
“Iya juga sih,” aku Muhsin. Dia mencolek tangan isterinya untuk sejenak menoleh ke belakang, pasangan muda usia tadi. Berciuman mesra tanpa merasa risi satu sama lain.
“Mas mau?”
“Nanti aja, di tempat sepi,” bisik Muhsin terus terang. “Kalau di tempat sepi kan mau manja-manjaan kita. Lama boleh, sebentar juga enggak ada yang ngelarang. Enggak ada yang lihat pula.”
“Mas …”
“Apa say?”
“Kenapa ya say, mereka seperti orang pacaran saja. Udah mesra, lama pula. Masa sih ciuman aja sampai sepuluh menit. Amit-amit deh. Apa enggak bosen.”
“Ya enggaklah say. Ciuman mereka itu untuk memperkuat hubungan batin mereka. Itu menurut saya.”
“Kok tahu. Mas Muhsin udah pengalaman ya …”
“Enggak ah.”
“Kenapa bisa tahu kalau ciuman mereka itu untuk memperkuat hubungan batin mereka?’
“Nerka aja say …”
Iiiiich …
Muhsin kena cubit lag. Sudah puluhan kali dia dicubit sayang oleh Sang Isteri …

Tobe contiued  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar