Novel …
El-Maut (10)
Oleh Wak Amin
20
MR Clean, Mr Jodi dan Miss Nancy tak tinggal diam. Mereka
bertiga mengejar Sayed dan Idris, dua anggota jaringan El-Maut. Aksi
kejar-kejaran ini berlangsung hampir setengah jam.
Sampai di sebuah gang, kedua belah pihak menahan diri. Sayed
mematikan mesin mobilnya dengan harapan Mr Clean cs yang mengejarnya
mengalihkan pencarian ke tempat lain.
Ternyata itu tak terwujud.
Mr Clean justru meminta kedua koleganya itu untuk mematikan mesin mobil.
Menunggu apa gerangan yang bakal dilakukan Sayed dan Idris.
Jarak antara keduanya terpaut sepuluh meter dengan hanya
dipisahkan sebuah loron yang tidak padat penduduk. Masih banyak tanah yang
kosong, belum ditempati dengan hanya ditanami aneka tanaman seperti jagung,
nangka, sirsak dan lainnya.
Sayed kemudian menyalakan mesin mobil, disusul lampu depan. Siap tancap gas. Begitu juga
dengan Mr Jodi. Kedua belah pihak sama-sama bersiap memacu ‘kuda
tunggangannya’.
“Kanan Yed,” Idris mengingatkan. Mobil belok kanan dan
melesat dengan kecepatan sangat tinggi.
“Lebih cepat lagi Mr Jodi.” Pinta Miss Nancy. Jika kecepatan
sama dengan mobi yang disopiri Sayed akan sulit mengejar, apalagi harus sampai
menangkap kedua pelaku.
“Lurus saja Mister.” Saran Mr Clean. Dengan menempuh jalan
berbeda dengan kecepatan yang melebihi kecepatan mobilnya Sayed, paling tidak
pelaku dapat dilumpuhkan secepatnya.
“Mudah-mudahan saja belum terlalu jauh,” kata Miss Nancy.
Aksi kejar-kejaran itu berlangsung seru. Kedua belah pihak
kebut-kebutan di jalan raya yang memang lengang. Traffic light dilewati,
beberapa gedung pencakar langit terlampaui.
“Lebih cepat Yed!” Pinta Idris. Karena dia melihat dari
balik kaca spion ada mobil yang disopiri Mr Jodi, semakin dekat.
Sreeeet …
Reeeen …
Mobil berputar-putar, lalu melaju lewat jalur yang
berlawanan. Mr Jodi, dengan cekatan memutar mobilnya. Dia sengaja membiarkan
Sayed melaju lebih dulu. Dia menguntit dari belakang.
Semula Sayed lega. Dari kaca spion ia melihat tak satu pun
mobil yang membuntuti. Lengang.
“Aman Ris,” ucapnya sambil berteriak dan memukul-mukul stir
mobil.
Sayang, tiba di persimpangan empat perbatasan pusat kota,
sebuah mobil sudah menunggu. Lampu depan dinyalakan. Sorot lampu yang tajam
membuat Mr Clean bisa melihat secara jelas wajah Sayed dan Idris.
Dalam keadaan marah dan panik, Sayed memacu mobilnya ke
kiri. Sorot lampu bisa dihindari. Mobil berhasil melesat dengan sangat cepat.
Sekali lagi, Sayed tertawa puas karena sukses memperdaya Mr Jodi cs.
“Tembak sajalah Yed.”
“Sekarang?”
“Nantilah. Pas dia di belakang kita, kita habisi mereka …”
“Oke …”
Dari jarak lima belas meter, Mr Clean dan Miss Nancy sudah
lebih dulu membidikkan senjata ke ban mobil pelaku. Dua letusan berbeda
berhasil mengenai ban. Mobil masih melaju, namun melambat karena oleng dan pecah
ban.
Guaaar …
Dreeem …
Mobil terbalik. Mengeluarkan asap putih. Sayed dan Idris
keluar dari mobil setelah memecahkan kaca depan samping.
Ketika Mr Clean cs sampai di lokasi terbaliknya mobil, Sayed
dan Idris sudah tidak ada lagi. Hanya mobil yang teronggok dalam posisi miring
ke kiri, terperosok masuk parit.
Kemana kedua pelaku?
“Halo Pak Polisi!” Terdengar suara lantang dari belakang Mr
Jodi, Miss Nancy dan Mr Jodi. Mereka
serempak menoleh.
Dooor …
Door
Doooor …
Ketiga polisi ini
terpaksa ‘berjoget’ guna menghindari beberapa peluru yang dilesakkan Sayed dan Idiris menyasar ke sekitar kaki
mereka.
Ha ha ha ha …
21
DARI balik pohon dan semak belukar, Inspektur Polisi Smith
membidikkan senjatanya dengan konsen trasi penuh kea rah Sayed dan Idris. Dia
kini dihadapkan pada dua dua pilihan. Menembak Sayed atau Idris.
“Kuatkan saya Tuhan,” bisiknya dalam hati sambil memantapkan
bidikannya kea rah Sayed yang sempat melepaskan pukulan ke perut anak buahnya.
Tak ada perlawanan. Karena dua lelaki dihadapannya ini
bersenjatakan lengkap, sementara Mr Jodi , Mr Clean dan Miss Nancy terpaksa
melempar senjata meeka ke jalan beraspal karena kalah ce pat dengan gerak
refleks Sayed dan Idris yang sudah lebih
dulu menodongkan senjata siap tembak.
Tiga detik kemudian …
Guaaaar …
Sayed jatuh tersungkur. Sebuah peluru tajam berhasil
mengenai punggungnya. Idris yang berada di dekatnya sempat melepaskan tembakan
secara membabi-buta.
Trot .. tot .. tot …
Trot .. tot .. tot …
Tembakan pengalih perhatian itu tidak mengenai sasaran,
hanya bodi dan kaca belakang mobil
pelaku yang pecah memecah penuh lubang.
Idris berhasil melarikan diri. Dia menyeberang jalan, lalu
menghilang di balik semak belukar ..
“Clean.”
“Inspektur?!”
Mr Clean dan dua rekannya tak menyangka Inspektur Smith
mengikuti mereka dari belakang. Lalu menyelamatkan mereka dari ancaman mematikan
Sayed dan Idris.
“Terima kasih Pak Inspektur,” kata Miss Nancy, disusul
ucapan serupa dari Mr Clean dan Mr Jodi.
“Kalau bapak tidak ada, mungkin kami sudah berpindah tempat
tinggal,” lanjut Mr Jodi, tertawa terkekeh-kekeh.
“Sudah, sekarang kita kejar yang satunya,” perintah
Inspektur Smith. Merasa yakin, usai sukses melum puhkan Sayed, Idris bakal
menyusul. Tinggal menunggu waktu.
“Mudah-mudahan bisa,” kata Inspektur Smith, paling belakang
ketika mengejar Idris yang berlari masuk hutan.
Saat tengah malam, selain gelap, banyak binatang buas yang
siap memangsa siapa saja, termasuk manu sia. Mulai dari ular, harimau, srigala
hingga anjing hutan.
Idris sendiri menempuh jalur selatan. Dia tak pula tahu
jalan yang ia tempuh ini sangat rawan. Tempat berkumpulnya binatang buas, juga
tebingnya yang curam dengan air yang mengalir sangat deras.
“Aduh!” Miss Nincy meringis. Tangannya tiba-tiba menyentuh
sesuatu yang tajam. Perih dan menge luarkan darah.
“Sakit Miss?” Tanya Mr Jodi, memberikan selembar tisu yang
dia ambil dari kantong celananya.
“Udah tau, tanya lagi. Sebel ah,” celetuk Miss Nancy.
“Udah Miss. Darahmu itu lihat!” Mr Clean mengingatkan,
perburuan ini masih jauh. Idris belum juga diketemukan jejaknya.
“Biar kubantu sini,” kata Mr Jodi. Walau Miss Nancy
keberatan, dia tetap membersihkan darah di sekitar jari tangan teman sekerjanya
itu.
“Mr Clean!”
“Ini … Lengannya Miss Nancy terluka,” jawab Mr Clean. Dia
mengisyaratkan akan mengejar Idris sampai titik darah penghabisan.
“Besar Miss lukanya?”
“Enggak Pak Inspektur. Cuma sedikit. Tapi perih sekali,”
ujar Miss Nancy. Kendati masih terasa perih, dia berharap perburuan terhadap
Idris terus dilanjutkan.
“Harus dapat Pak Inspektur …”
“Siap Miss Nancy. Kerjakan sekarang!” Mr Jodi tiba-tiba
berdiri tegap dan seolah-olah sedang memberi hormat pada komandan yang tengah
memeriksa pasukan.
Sementara itu …
Seekor harimau tepat berada di depan Idris. Menatap tajam
dan siap memangsanya bulat-bulat. Idris sangat ketakutan.
Ingin rasanya dia berlari. Tapi, ketika kaki ini baru
menapak beberapa langkah, sang harimau mengejar nya sambil mengaum.
Dia berhenti. Si harimau juga berhenti. Idris putar otak.
Jika tetap memilih diam di balik pohon besar ini, lama kelamaan polisi yang
mengejarnya akan menemukan persembunyiannya.
“Bagaimana ya?” Bingung sendiri. Berkali-kali dia mencabut
rumput panjang yang tumbuh di tengah semak belantara.
“Tidak. Aku harus berlari, apa pun risikonya,” tekadnya
dalam hati.
Tobe Continued
Tidak ada komentar:
Posting Komentar