Novel …
El-Maut (11)
Oleh Wak Amin
22
AUUUUM …
Idris pada akhirnya lebih memilih melarikan diri meski
dengan risiko harimau mengejarnya. Dengan ceka tan ia meliuk-liuk di batang
pohon, membuat si raja hutan kesulitan untuk memangsanya.
Idris kemudian memanjat pohon. Dia menarik nafas lega
setelah sang harimau yang mengejarya memilih duduk bersimpuh di bawah pohon.
“Aman,” pikir Idris dalam hati.
Sementara Idris masih menunggu kesempatan untuk turun,
Inspektur Polisi Smith dan tiga anak buah nya tiba di sebuah gundukan batu
bersemak.
“Clean. Coba tengok!” Inspektur Polisi Smith menunjuk ke
sebuah batang pohon besar. Ada seekor ha rimau mengaum. Matanya melihat ke atas
pohon besar nan rindang itu.
“Sepertinya ada orang
di atas pohon Inspektur,” kata Mr Clean. Mereka kemudian, dengan
mengendap-endap, mendekati pohon itu.
“Waduh, bagaimana ini. Apa sebaiknya aku melompat saja.”
Idris mulai panik.
Karena jarak antara satu pohon ke pohon yang lain
berdekatan, terpikir oleh Idris untuk meniru gaya Tar zan. Pindah dari pohon ke
pohon yang lain dengan berayun dan di ranting pepohonan.
Bisakah?
“Harus bisa. Sebelum para anggota polisi itu menemukan saya.
Saya harus cepat pergi dari tempat ini.”
Huuup …
Creseeek …
Buk …
Ketika melompat, punggung Idris membentur batang pohon,
mengejutkan sang harimau. Saat harimau melihatnya, Idris mulai panik. Nyaris
jatuh. Beruntung dia masih bisa berpegangan di ranting pepohonan dengan kedua
kaki berjuntai.
Huuup …
Deep …
Creeeesh …
Idris melingkarkan kedua kakinya di batang pohon. Bisa
memang, kuat jepitan kakinya. Tapi kepalanya justru yang ke bawah. Hanya satu
meter jaraknya dari mulut harimau.
Idris kini dapat melihat dengan jelas bagaimana beringasnya
sang harimau melihat kedipan rasa takut mata calon mangsanya itu.
Dia pejamkan mata. Karena ketahuan, terkencing di celana.
Itu air kencing menetes, mengenai mukanya si harimau.
Auuum …
“Sedap juga air kencing orang ini,” ucap si harimau. Menjilat-jilat
air kencing itu. Dia marah. Dia melom pat hendak menerkam kepala Idris.
Menelannya bulat-bulat.
“Clean …”
Mr Clean bersiap menembak sasaran sesuai perintah atasannya.
Namun dia masih harus memutuskan sendiri, menembak harimau atau Idris. Atau
justru kedua-duanya.
“Clean …”
Miss Nancy mendekat. Begitu juga Mr Jodi. Keduanya
mempercayakan sepenuhnya kepada Mr Clean untuk memutuskan yang terbaik.
“Miss Nancy,” bisik Mr Clean. “Kamu harimau aku orangnya.”
“Baik Mr Clean …”
Kini dua buah senjata laras panjang siap kokang, dibidikkan.
Mr Jodi tampak tegang, juga dengan Inspek tur Smith. Berharap si pelaku tidak
mati sehingga bisa digali informasi lebih lanjut terkait peledakan.
Guaaar …
Guaaam …
Praak …
Gedebug …
Si harimau tewas seketika, sementara Idris jatuh dari pohon.
Tergeletak pingsan di dekat harimau. Dari mulutnya keluar darah segar.
Peluru Mr Clean tepat mengenai punggungnya.
Seketika sepi. Tak ada lagi auman dan ranting pepohonan yang
bergerak.
23
MENDENGAR kabar Idris masih selamat dan kini dalam tahanan
pihak kepolisian, Sobar bertekad untuk terus melakukan serangkaian penyerangan
dan peledakan. Baginya, hidup atau mati Idris, tak jadi soal. Ironisnya, Sang
Bos malah menganggap Idris sudah tewas bersama Sayed.
Bersama sejumlah anak buahnya, Sobar mengincar pusat
keramaian. Dipilihlah Taman Kota. Taman ini pada hari minggu dan libur ramai pengunjung.
Selain indah dan asri, dikitari kolam buatan mirip dengan yang alami dan biasa
kita temukan di banyak tempat.
Taman ini, selain dibanjiri anak-anak dan orang tua, juga
kaum muda-mudi serta anak sekolah. Sekadar kongkow, belajar bersama, temu
kangen dan tempat berkumpulnya sejumlah komunitas yang baru dan sudah lama
terbentuk.
Banyak kegiatan yang mereka lakukan. Mulai dari outbond,
berperahu, komedi putar hingga jungkat-jungkit. Riuh suasananya. Anak-anak menjerit dan
berkejar-kejaran sementara kaum ibu asyik berke lakar dengan sesamanya.
Duduk bersila membentang tikar, duduk di tepi kolam, jalan
berdua dan jajan di kantin. Menikmati kuda pan dengan segelas air kopi manis.
Ditambahkan batu es bisa, susu boleh dan silakan coba.
Sore hari …
Saat pengunjung taman semakin ramai.
Dua lelaki turun dari mobil. Mereka berpisah jalan. Satu ke
kiri dan satunya lagi ke kanan. Mereka, sama seperti yang lainnya, ikut ngobrol
dan saling berkenalan.
Tak seorang pun yang menaruh curiga. Petugas keamanan yang
berjaga-jaga di sekitar taman pun seper tinya bersikap seadanya. Tidak over
acting atau berlebihan.
Berpakaian rapi, ganteng dan muda. Akrab dengan pengunjung
yang lain. Ikut tertawa, bercanda dan
saling bertukar pikiran.
Kedua lelaki asing itu pun saling teleponan. Tak ada ucapan
kecuali … “Siap dan tunggu.” Lalu … “Oke, kita bertemu nanti.”
Salah seorang dari keduanya, berambut keriting masuk ke
toilet sebuah kantin. Di toilet itulah, karena tak begitu ramai, dia menaruh
sesuatu, sebuah bom. Kecil. Bom itu dimasukkan dalam sebuah lubang dekat
pembuangan air toilet.
Sementara teman satunya baru keluar dari sebuah tempat
salat. Kecil. Tapi banyak orang yang keluar-masuk untuk menunaikan salat.
Ketika pria berambut lurus tersisir rapi ini masuk, hanya ada dua orang yang
menunaikan salat secara terpisah.
Sama dengan temannya berambut keriting, si rambut lurus
tidak memperlihatkan perilaku yang aneh dan mencurigakan. Keduanya berjalan
tegap dengan sesekali menebar senyuman ke arah pengunjung yang kebetulan
berpapasan dengan mereka.
Keduanya sangat menyayangi anak-anak. Tak segan-segan
memeluk, mencium, diajak berkenalan, termasuk kepada orang tua si anak. Juga
para cewek. Melirik penuh goda, romantis saat menyapa.
Sampai keduanya masuk ke dalam mobil, pengunjung masih larut
dalam tawa dan canda. Mereka beraktivitas seperti biasa. Demikian pula halnya petugas jaga Taman
Kota. Sibuk mengawasi dan mengatur pengunjung yang keluar masuk.
Dua lelaki itu pun pergi dengan mobil. Melesat lambat
mengitari taman. Satu kali sebelum menuju ping giran kota. Keduanya tampak diam.
Satu menyetir, satu menelepon. Melaporkan tugas utama telah sele sai
dilaksanakan.
“Tunggu beberapa
menit lagi,” kata Bos Sobar dengan suara lantang tapi tegang. Dia melihat dari
layar komputer pribadinya, pengunjung taman mulai padat dan merayap.
Hampir dua ratus kendaraan roda dua dan empat memadati
lokasi parkir Taman Kota. Jalan keluar masuk terpaksa buka tutup menghindari
penumpukan kendaraan yang datang dan keluar dari area taman.
“Bos,” kata si keriting, bernama Ismail.
“Satu menit lagi,” jawab Bos Sobar. Sang Bos menunggu pengunjung taman
benar-benar padat. Tak ada lagi celah untuk keluar.
“Hentikan dulu mobil,” pinta Sang Bos.
Iskandar menepikan mobil dekat sebuah kolam ikan. Hampir
satu hektar luasnya.
“Il.”
“Ya Bos.”
“Lakukan!” Perintah Sang Bos. Dia menggeser kursi empuk yang
sering ia duduki saat menulis di depan komputer.
Menunggu gerangan apa yang terjadi …
Jegaaam …
Jeguuum …
Guaaam …
Guaaar …
Taman favorit warga kota itu pun meledak seketika. Hanya
terdengar jeritaan sesaat, setelah itu hening. Jasad tercerai berai.
Bergelimpangan di sekitar taman. Darah berceceran, bangunan taman hancur rata
dengan tanah.
Tobe Continued
Tidak ada komentar:
Posting Komentar