Rabu, 16 Agustus 2017

El-Maut (11)




Novel  


El-Maut (11)
Oleh Wak Amin


22
AUUUUM …
Idris pada akhirnya lebih memilih melarikan diri meski dengan risiko harimau mengejarnya. Dengan ceka tan ia meliuk-liuk di batang pohon, membuat si raja hutan kesulitan untuk memangsanya.
Idris kemudian memanjat pohon. Dia menarik nafas lega setelah sang harimau yang mengejarya memilih duduk bersimpuh di bawah pohon.
“Aman,” pikir Idris dalam hati.
Sementara Idris masih menunggu kesempatan untuk turun, Inspektur Polisi Smith dan tiga anak buah nya tiba di sebuah gundukan batu bersemak.
“Clean. Coba tengok!” Inspektur Polisi Smith menunjuk ke sebuah batang pohon besar. Ada seekor ha rimau mengaum. Matanya melihat ke atas pohon besar nan rindang itu.
“Sepertinya ada  orang di atas pohon Inspektur,” kata Mr Clean. Mereka kemudian, dengan mengendap-endap, mendekati pohon itu.
“Waduh, bagaimana ini. Apa sebaiknya aku melompat saja.” Idris mulai panik.
Karena jarak antara satu pohon ke pohon yang lain berdekatan, terpikir oleh Idris untuk meniru gaya Tar zan. Pindah dari pohon ke pohon yang lain dengan berayun dan di ranting pepohonan.
Bisakah?
“Harus bisa. Sebelum para anggota polisi itu menemukan saya. Saya harus cepat pergi dari tempat ini.”
Huuup …
Creseeek …
Buk …
Ketika melompat, punggung Idris membentur batang pohon, mengejutkan sang harimau. Saat harimau melihatnya, Idris mulai panik. Nyaris jatuh. Beruntung dia masih bisa berpegangan di ranting pepohonan dengan kedua kaki  berjuntai.
Huuup …
Deep …
Creeeesh …
Idris melingkarkan kedua kakinya di batang pohon. Bisa memang, kuat jepitan kakinya. Tapi kepalanya justru yang ke bawah. Hanya satu meter jaraknya dari mulut harimau.
Idris kini dapat melihat dengan jelas bagaimana beringasnya sang harimau melihat kedipan rasa takut mata calon mangsanya itu.
Dia pejamkan mata. Karena ketahuan, terkencing di celana. Itu air kencing menetes, mengenai mukanya si harimau.
Auuum …
“Sedap juga air kencing orang ini,” ucap si harimau. Menjilat-jilat air kencing itu. Dia marah. Dia melom pat hendak menerkam kepala Idris. Menelannya bulat-bulat.
“Clean …”
Mr Clean bersiap menembak sasaran sesuai perintah atasannya. Namun dia masih harus memutuskan sendiri, menembak harimau atau Idris. Atau justru kedua-duanya.
“Clean …”
Miss Nancy mendekat. Begitu juga Mr Jodi. Keduanya mempercayakan sepenuhnya kepada Mr Clean untuk memutuskan yang terbaik.
“Miss Nancy,” bisik Mr Clean. “Kamu harimau aku orangnya.”
“Baik Mr Clean …”
Kini dua buah senjata laras panjang siap kokang, dibidikkan. Mr Jodi tampak tegang, juga dengan Inspek tur Smith. Berharap si pelaku tidak mati sehingga bisa digali informasi lebih lanjut terkait peledakan.
Guaaar …
Guaaam …
Praak …
Gedebug …
Si harimau tewas seketika, sementara Idris jatuh dari pohon. Tergeletak pingsan di dekat harimau. Dari mulutnya keluar darah segar.
Peluru Mr Clean tepat mengenai punggungnya.
Seketika sepi. Tak ada lagi auman dan ranting pepohonan yang bergerak.

23
MENDENGAR kabar Idris masih selamat dan kini dalam tahanan pihak kepolisian, Sobar bertekad untuk terus melakukan serangkaian penyerangan dan peledakan. Baginya, hidup atau mati Idris, tak jadi soal. Ironisnya, Sang Bos malah menganggap Idris sudah tewas bersama Sayed.
Bersama sejumlah anak buahnya, Sobar mengincar pusat keramaian. Dipilihlah Taman Kota. Taman ini pada hari minggu dan libur ramai pengunjung. Selain indah dan asri, dikitari kolam buatan mirip dengan yang alami dan biasa kita temukan di banyak tempat.
Taman ini, selain dibanjiri anak-anak dan orang tua, juga kaum muda-mudi serta anak sekolah. Sekadar kongkow, belajar bersama, temu kangen dan tempat berkumpulnya sejumlah komunitas yang baru dan sudah lama terbentuk.
Banyak kegiatan yang mereka lakukan. Mulai dari outbond, berperahu, komedi putar hingga jungkat-jungkit.  Riuh suasananya. Anak-anak menjerit dan berkejar-kejaran sementara kaum ibu asyik berke lakar dengan sesamanya.
Duduk bersila membentang tikar, duduk di tepi kolam, jalan berdua dan jajan di kantin. Menikmati kuda pan dengan segelas air kopi manis. Ditambahkan batu es bisa, susu boleh dan silakan coba.
Sore hari …
Saat pengunjung taman semakin ramai.
Dua lelaki turun dari mobil. Mereka berpisah jalan. Satu ke kiri dan satunya lagi ke kanan. Mereka, sama seperti yang lainnya, ikut ngobrol dan saling berkenalan.
Tak seorang pun yang menaruh curiga. Petugas keamanan yang berjaga-jaga di sekitar taman pun seper tinya bersikap seadanya. Tidak over acting atau berlebihan.
Berpakaian rapi, ganteng dan muda. Akrab dengan pengunjung yang lain. Ikut tertawa,  bercanda dan saling bertukar pikiran.
Kedua lelaki asing itu pun saling teleponan. Tak ada ucapan kecuali … “Siap dan tunggu.” Lalu … “Oke, kita bertemu nanti.”
Salah seorang dari keduanya, berambut keriting masuk ke toilet sebuah kantin. Di toilet itulah, karena tak begitu ramai, dia menaruh sesuatu, sebuah bom. Kecil. Bom itu dimasukkan dalam sebuah lubang dekat pembuangan air toilet.
Sementara teman satunya baru keluar dari sebuah tempat salat. Kecil. Tapi banyak orang yang keluar-masuk untuk menunaikan salat. Ketika pria berambut lurus tersisir rapi ini masuk, hanya ada dua orang yang menunaikan salat secara terpisah.
Sama dengan temannya berambut keriting, si rambut lurus tidak memperlihatkan perilaku yang aneh dan mencurigakan. Keduanya berjalan tegap dengan sesekali menebar senyuman ke arah pengunjung yang kebetulan berpapasan dengan mereka.
Keduanya sangat menyayangi anak-anak. Tak segan-segan memeluk, mencium, diajak berkenalan, termasuk kepada orang tua si anak. Juga para cewek. Melirik penuh goda, romantis saat menyapa.
Sampai keduanya masuk ke dalam mobil, pengunjung masih larut dalam tawa dan canda. Mereka beraktivitas seperti  biasa. Demikian pula halnya petugas jaga Taman Kota. Sibuk mengawasi dan mengatur pengunjung yang keluar masuk.
Dua lelaki itu pun pergi dengan mobil. Melesat lambat mengitari taman. Satu kali sebelum menuju ping giran kota. Keduanya tampak diam. Satu menyetir, satu menelepon. Melaporkan tugas utama telah sele sai dilaksanakan.
 “Tunggu beberapa menit lagi,” kata Bos Sobar dengan suara lantang tapi tegang. Dia melihat dari layar komputer pribadinya, pengunjung taman mulai padat dan merayap.
Hampir dua ratus kendaraan roda dua dan empat memadati lokasi parkir Taman Kota. Jalan keluar masuk terpaksa buka tutup menghindari penumpukan kendaraan yang datang dan keluar dari area taman.
“Bos,” kata si keriting, bernama Ismail.
“Satu menit lagi,” jawab Bos Sobar.  Sang Bos menunggu pengunjung taman benar-benar padat. Tak ada lagi celah untuk keluar.
“Hentikan dulu mobil,” pinta Sang Bos.
Iskandar menepikan mobil dekat sebuah kolam ikan. Hampir satu hektar luasnya.
“Il.”
“Ya Bos.”
“Lakukan!” Perintah Sang Bos. Dia menggeser kursi empuk yang  sering ia duduki saat menulis di depan komputer.  
Menunggu gerangan apa yang terjadi …
Jegaaam …
Jeguuum …
Guaaam …
Guaaar …
Taman favorit warga kota itu pun meledak seketika. Hanya terdengar jeritaan sesaat, setelah itu hening. Jasad tercerai berai. Bergelimpangan di sekitar taman. Darah berceceran, bangunan taman hancur rata dengan tanah.

Tobe Continued

Tidak ada komentar:

Posting Komentar