Rabu, 23 Agustus 2017

El-Maut (13)



Novel …

Novel ..

El-Maut (13)

Oleh Wak Amin

 
25

DI dalam mobil boks besar berwarna putih, Idris diinterogasi dan disiksa fisiknya oleh Ismail dan Iskandar.  Dia dipaksa untuk buka mulut tentang apa saja yang telah ia bocorkankepada pihak kepolisian terkait jaringan El-Maut.
Meski berulangkali Idris membantahnya, Ismail dan Iskandar tetap tak percaya. Atas perintah Bos Sobar, Idris diturunkan di jalanan yang sepi setelah lebih dulu ditembak mati.
“Pilih jalan yang betul-betul lengang. Paham?” Perintah Bos Sobar sambil mengangkat kedua kakinya ke atas meja dan marah. Dia minta kepada dua anak buahnya itu bekerja sebaik-baiknya.
“Jangan sampai ketahuan. Bila ketahuan kepala kalian berdua bakal aku tebas.”
“Siap Bos,” jawab Ismail. Merasa yakin perintah Sang Bos akan terlaksana sesuai rencana.
“Mana Iskandar?”
“Ada di samping saya Bos. Bos …”
“Ya. Mana dia?”
Iskandar diperintahkan untuk membantu Ismail. “Kamu harus professional, mengerti?”
“Mengerti  Bos.”
“Laksanakan secepatnya!”
“Siap Bos.”
Pak Fendi, sopir mobil boks, menepikan mobil ke kiri. Lebih aman dari lalu-lalang kendaraan besar dan kecil yang melintas dengan kecepatan hampir maksimal.
“Turun!” Bentak Iskandar. Dia tending bokong Idris berkali-kali sampai jatuh tersungkur,  terlempar dari mobil.
“Aku ini temanmu juga Dar,” kata Idris. Dia meminta dua temannya itu bersikap lebih sopan dan manusiawi. Tidak justru memperlakukannya seperti binatang. Ditendang, didorong dan dipukuli.
“Sudah terlambat Bro,” ujar Iskandar. Belum sempat berdiri, dua butir peluru menghantam kepala Idris. Tewas seketika, meregang nyawa.
Mayatnya dilempar ke semak belukar dalam keadaan bugil. Setelah itu, Ismail dan Iskandar minta Pak Fendi menjalankan mobil.  Melesat cepat sebelum dilihat orang lain.
Kabar tewasnya Idris masih simpang siur. Beberapa anggota polisi yakin Idris hanya melarikann diri setelah melumpuhkan dua penjaga sel tahanannya.
Sebaliknya Mr Clean percaya Idris diculik anggota jaringan El-Maut ke mudian menghabisinya karena dianggap telah membocorkan rahasia kelompok teroris terbesar itu. Dianggap onak dan mengganggu kelan caran operasional El-Maut, Idris lebih baik dihabisi.
Untuk membuktikan hal itu tidaklah mudah. Karena sehari setelah ke jadian itu, mayat Idris belum berhasil diketemukan. Tugas utama Mr Clean adalah harus lebih dulu menemukan jasad korban.
Ditemani Miss Nancy dan Mr Jodi, mereka bekerja siang dan malam. Menjelang subuh, lewat pengerahan anjing pelacak, jasad Idris akhirnya diketemukan dalam keadaan telah membusuk.
“Biadab!” Ucap Miss Nancy. Saking marah dan kecewanya, dia tendang tanah yang menyemak di sekitar tempat Idris diketemukan.
“Miss. Bantu gue dong,” rayu Mr Clean.  Masih menyimpan rasa ama rah, ikut membawa jasad  Idris untuk dimasukkan ke dalam mobil ambulance.
Selama dalam perjalanan menuju rumah sakit, Miss Nancy lebih banyak diam. Karena Mr Jodi masih di TKP bersama petugas lain, Mr  Clean lah yang menghiburnya.
“Miss Nancy. Ayo pilih warna apa?” Mr Clean memperlihatkan dua be kas sobekan kain. Satu berwarna merah, satunya lagi berwarna putih.
Miss Nancy belum meresponsnya.
“Ayolah Miss.  Demi aku. Tolong pilih warna kesukaanmu,” pinta Mr Clean. Dia ingin menenangkan hati mitra kerjanya itu, sehingga lebih fokus dan tidak melulu tegang ketika menjalankan tugas di lapangan.
“Tidak kedua-duanya Mister.” Akhirnya Miss Nancy buka suara. Semula, Mr Clean kecewa,  Miss Nancy tidak memilih  salah satu dari dua warna yang ia perlhatkan tadi.
“Maaf ya Mister,” ucapnya kemudian. Dia tahu Mr Clean kecewa. Kare na itu ia berharap jawabannya barusan tidak mengganggu keharmoni san kerja mereka berdua.
“Taka apa-apa Miss,” kata Mr Clean.” Yang penting ada jawaban darimu. Terima kasih.”
Ambulance pun tiba jua di rumah sakit.


26
KRIIIING …
Kriiiing …
Kriiiing …
Kletek ..
“Halo!”
“Mr Clean … Sabrina nich.”
“Enggak salah dengar nich. Bukannya Sabrina. Tapi Nyonya Muhsin.”
Ha ha ha ha …
“Udah ah. Becanda melulu. Serius nich Clean. Aku mau nyampeke sesuatu padamu.”
“Oh ya? Apa selama ini aku tidak serius Nyonya Muhsin?”
Ha ha ha ha …
“Ayo mulai lagi. Kapan seriusnya Mr Clean?”
“Ya sekaranglah. Tapi sebentar ya Sabrina Muhsin. Aku minum kopi dulu.”
“Emangnya belum sarapan sesiang ini Mr Clean?”
“Belumlah. Kamu kan tahu. Banyak masalah di sini. Semalam saja aku pulang hampir subuh. Eeee taunya, pas bangun kesiangan. Untung ada telepon dari kamu. Kalau enggak …” Mr Clean menyeruput kopi manis yang ia bikin hampir subuh tadi.
“Kalau enggak kenapa Mr Clean?”
“Eggak bangun-bangunlah. Capek kali Sab …” Mr Clean menyeruput kopi lag. Tersisa separo.
Sabrina menahan diri. Dia sengaja belum bicara karena harus merapikan pakaian sang suami sebelum dimasukkan ke dalam lemari setelah digosok barusan.
“Clean. Bagaimana menurutmu kalau aku menyusul kamu?”
Eheeeem …
Mr Clean menyibakkan gorden jendela kamarnya. Dari balik jendela dia melihat seorang wanita turun dari mobil. Langkahnya mantap. Menye berang jalan sebelum mendekati pintu apartemennya.
Niiing .. Noooong.
“Sebentar ya Sab, ada kolegaku Miss Nancy.” Mr Clean mematikan sebentar telepon selulernya.
Dia bergegas keluar kamar menuju pintu. Dia tak ingin Miss Nancy berlama-lama menunggu di luar.
Celetek …
Pintu terbuka …
“Sendirian Miss. Mr Jodi mana?” Mr Clean sangat tersanjung didatangi Miss Nancy.
“Di mobil Mister. Ayo cepat!”
“Masuklah dulu. Aku ganti pakaian sebentar ya Miss.”
“Oke. Jangan lama-lama ah.”
Telepon berdering lagi ketika Mr Clean sudah berganti pakaian dan siap berangkat bersama Miss Nancy. Telepon baru diangkat setelah Mr Clean hendak menutup pintu, bersiap menuju mobil yang parkir di seberang jalan.
“Bagaimana Mr Clean?”
“Pada prinsipnya aku setuju,” jawab Mr Clean. Karena buru-buru ia lupa menutup ruisliting celananya.
“Aku ditugasin Letnan Salam, Clean. Aku harus maulah, walau aku sendiri …”
“Kenapa? Enggak tahan ninggalin Muhsin kan?”
He he he he …
“Ayo .. ngeledek lagi.”
“Bukannya ngeledek. Tapi namanya juga pengantin baru. Enggak bakalan tahan pisah lama-lama. Betul enggak Sab?”
“Ya betul juga sih.Cuma Clean, aku mau nanya nich. Seberapa gawat kah keadaan di sana?”
“Gawat enggak gawatlah. Dijalanin ajalah Sab,” jelas Mr Clean.
“Oke .. kapan kamu berangkat. Aku siap jemput kamu.”
“Oke.”
Pisahan dulu ya.”
“Oke.”
Sebelum berangkat, sekadar ingin tahu, Miss Nancy menanyakan perempuan yang menelepon Mr Clean barusan.
“Ehem. Mau tau aja.” Ledek Mr Jodi. Miss Nancy cemberut, tak lama. Ia ketawa lagi akhirnya setelah mr Clean menyebutnya dengan sebutan ‘Polwan manis dan cantik’.
Teman sekerja Miss. Baru aja kawin. Bulan madunya di sini,” terang Mr Clean, menawari Miss Nancy permen cokelat. Tidak menolak. Juga Mr Jodi.
“Ooo ..  terus, terus …”
“Dia dan suaminya disuruh pulang, aku diminta datang ke sini buat bantu kalian.”
“Lalu?”
“Dia telepon tadi, bakal datang kesini. Diminta Letnan Salam, bosnya aku, untuk menemani saya, kamu dan Mr Jodi.”
“Bagus itu Mr Clean. Itu artinya aku ada teman perempuan.”
“Sayang ya Mister,” celetuk Mr Jodi sambil mengunyah sekali tiga permen pemberian Mr Clean.
“Sayang kenapa Mr Jodi?”
Syiiiiit …
Mobil ngerem pelan.
“Udah kawin.”
Ha ha ha ha …

Tobe Continued

Tidak ada komentar:

Posting Komentar