Novel …
Novel ..
El-Maut (13)
Oleh Wak
Amin
25
DI dalam
mobil boks besar berwarna putih, Idris diinterogasi dan disiksa fisiknya oleh
Ismail dan Iskandar. Dia dipaksa untuk
buka mulut tentang apa saja yang telah ia bocorkankepada pihak kepolisian
terkait jaringan El-Maut.
Meski
berulangkali Idris membantahnya, Ismail dan Iskandar tetap tak percaya. Atas
perintah Bos Sobar, Idris diturunkan di jalanan yang sepi setelah lebih dulu
ditembak mati.
“Pilih jalan
yang betul-betul lengang. Paham?” Perintah Bos Sobar sambil mengangkat kedua kakinya
ke atas meja dan marah. Dia minta kepada dua anak buahnya itu bekerja
sebaik-baiknya.
“Jangan
sampai ketahuan. Bila ketahuan kepala kalian berdua bakal aku tebas.”
“Siap Bos,”
jawab Ismail. Merasa yakin perintah Sang Bos akan terlaksana sesuai rencana.
“Mana
Iskandar?”
“Ada di
samping saya Bos. Bos …”
“Ya. Mana
dia?”
Iskandar diperintahkan
untuk membantu Ismail. “Kamu harus professional, mengerti?”
“Mengerti Bos.”
“Laksanakan
secepatnya!”
“Siap Bos.”
Pak Fendi,
sopir mobil boks, menepikan mobil ke kiri. Lebih aman dari lalu-lalang
kendaraan besar dan kecil yang melintas dengan kecepatan hampir maksimal.
“Turun!”
Bentak Iskandar. Dia tending bokong Idris berkali-kali sampai jatuh
tersungkur, terlempar dari mobil.
“Aku ini
temanmu juga Dar,” kata Idris. Dia meminta dua temannya itu bersikap lebih
sopan dan manusiawi. Tidak justru memperlakukannya seperti binatang. Ditendang,
didorong dan dipukuli.
“Sudah
terlambat Bro,” ujar Iskandar. Belum sempat berdiri, dua butir peluru
menghantam kepala Idris. Tewas seketika, meregang nyawa.
Mayatnya
dilempar ke semak belukar dalam keadaan bugil. Setelah itu, Ismail dan Iskandar
minta Pak Fendi menjalankan mobil.
Melesat cepat sebelum dilihat orang lain.
Kabar
tewasnya Idris masih simpang siur. Beberapa anggota polisi yakin Idris hanya
melarikann diri setelah melumpuhkan dua penjaga sel tahanannya.
Sebaliknya
Mr Clean percaya Idris diculik anggota jaringan El-Maut ke mudian menghabisinya
karena dianggap telah membocorkan rahasia kelompok teroris terbesar itu. Dianggap
onak dan mengganggu kelan caran operasional El-Maut, Idris lebih baik dihabisi.
Untuk
membuktikan hal itu tidaklah mudah. Karena sehari setelah ke jadian itu, mayat
Idris belum berhasil diketemukan. Tugas utama Mr Clean adalah harus lebih dulu
menemukan jasad korban.
Ditemani Miss Nancy dan Mr Jodi, mereka bekerja siang dan
malam. Menjelang subuh, lewat pengerahan anjing pelacak, jasad Idris akhirnya
diketemukan dalam keadaan telah membusuk.
“Biadab!” Ucap Miss Nancy. Saking marah dan kecewanya, dia tendang
tanah yang menyemak di sekitar tempat Idris diketemukan.
“Miss. Bantu gue dong,” rayu Mr Clean. Masih menyimpan rasa ama rah, ikut membawa
jasad Idris untuk dimasukkan ke dalam
mobil ambulance.
Selama dalam perjalanan menuju rumah sakit, Miss Nancy lebih
banyak diam. Karena Mr Jodi masih di TKP bersama petugas lain, Mr Clean lah yang menghiburnya.
“Miss Nancy. Ayo pilih warna apa?” Mr Clean memperlihatkan
dua be kas sobekan kain. Satu berwarna merah, satunya lagi berwarna putih.
Miss Nancy belum meresponsnya.
“Ayolah Miss. Demi
aku. Tolong pilih warna kesukaanmu,” pinta Mr Clean. Dia ingin menenangkan hati
mitra kerjanya itu, sehingga lebih fokus dan tidak melulu tegang ketika
menjalankan tugas di lapangan.
“Tidak kedua-duanya Mister.” Akhirnya Miss Nancy buka suara.
Semula, Mr Clean kecewa, Miss Nancy
tidak memilih salah satu dari dua warna
yang ia perlhatkan tadi.
“Maaf ya Mister,” ucapnya kemudian. Dia tahu Mr Clean kecewa.
Kare na itu ia berharap jawabannya barusan tidak mengganggu keharmoni san kerja
mereka berdua.
“Taka apa-apa Miss,” kata Mr Clean.” Yang penting ada jawaban
darimu. Terima kasih.”
Ambulance pun tiba jua di rumah sakit.
26
KRIIIING …
Kriiiing …
Kriiiing …
Kletek ..
“Halo!”
“Mr Clean …
Sabrina nich.”
“Enggak
salah dengar nich. Bukannya Sabrina. Tapi Nyonya Muhsin.”
Ha ha ha ha
…
“Udah ah.
Becanda melulu. Serius nich Clean. Aku mau nyampeke sesuatu padamu.”
“Oh ya? Apa selama
ini aku tidak serius Nyonya Muhsin?”
Ha ha ha ha
…
“Ayo mulai
lagi. Kapan seriusnya Mr Clean?”
“Ya
sekaranglah. Tapi sebentar ya Sabrina Muhsin. Aku minum kopi dulu.”
“Emangnya
belum sarapan sesiang ini Mr Clean?”
“Belumlah.
Kamu kan tahu. Banyak masalah di sini. Semalam saja aku pulang hampir subuh.
Eeee taunya, pas bangun kesiangan. Untung ada telepon dari kamu. Kalau enggak
…” Mr Clean menyeruput kopi manis yang ia bikin hampir subuh tadi.
“Kalau
enggak kenapa Mr Clean?”
“Eggak
bangun-bangunlah. Capek kali Sab …” Mr Clean menyeruput kopi lag. Tersisa
separo.
Sabrina
menahan diri. Dia sengaja belum bicara karena harus merapikan pakaian sang
suami sebelum dimasukkan ke dalam lemari setelah digosok barusan.
“Clean.
Bagaimana menurutmu kalau aku menyusul kamu?”
Eheeeem …
Mr Clean
menyibakkan gorden jendela kamarnya. Dari balik jendela dia melihat seorang
wanita turun dari mobil. Langkahnya mantap. Menye berang jalan sebelum
mendekati pintu apartemennya.
Niiing ..
Noooong.
“Sebentar ya
Sab, ada kolegaku Miss Nancy.” Mr Clean mematikan sebentar telepon selulernya.
Dia bergegas
keluar kamar menuju pintu. Dia tak ingin Miss Nancy berlama-lama menunggu di
luar.
Celetek …
Pintu
terbuka …
“Sendirian
Miss. Mr Jodi mana?” Mr Clean sangat tersanjung didatangi Miss Nancy.
“Di mobil
Mister. Ayo cepat!”
“Masuklah
dulu. Aku ganti pakaian sebentar ya Miss.”
“Oke. Jangan
lama-lama ah.”
Telepon berdering
lagi ketika Mr Clean sudah berganti pakaian dan siap berangkat bersama Miss
Nancy. Telepon baru diangkat setelah Mr Clean hendak menutup pintu, bersiap
menuju mobil yang parkir di seberang jalan.
“Bagaimana
Mr Clean?”
“Pada
prinsipnya aku setuju,” jawab Mr Clean. Karena buru-buru ia lupa menutup ruisliting
celananya.
“Aku
ditugasin Letnan Salam, Clean. Aku harus maulah, walau aku sendiri …”
“Kenapa?
Enggak tahan ninggalin Muhsin kan?”
He he he he
…
“Ayo ..
ngeledek lagi.”
“Bukannya
ngeledek. Tapi namanya juga pengantin baru. Enggak bakalan tahan pisah
lama-lama. Betul enggak Sab?”
“Ya betul
juga sih.Cuma Clean, aku mau nanya nich. Seberapa gawat kah keadaan di sana?”
“Gawat
enggak gawatlah. Dijalanin ajalah Sab,” jelas Mr Clean.
“Oke ..
kapan kamu berangkat. Aku siap jemput kamu.”
“Oke.”
Pisahan dulu
ya.”
“Oke.”
Sebelum
berangkat, sekadar ingin tahu, Miss Nancy menanyakan perempuan yang menelepon
Mr Clean barusan.
“Ehem. Mau
tau aja.” Ledek Mr Jodi. Miss Nancy cemberut, tak lama. Ia ketawa lagi akhirnya
setelah mr Clean menyebutnya dengan sebutan ‘Polwan manis dan cantik’.
Teman
sekerja Miss. Baru aja kawin. Bulan madunya di sini,” terang Mr Clean, menawari
Miss Nancy permen cokelat. Tidak menolak. Juga Mr Jodi.
“Ooo .. terus, terus …”
“Dia dan
suaminya disuruh pulang, aku diminta datang ke sini buat bantu kalian.”
“Lalu?”
“Dia telepon
tadi, bakal datang kesini. Diminta Letnan Salam, bosnya aku, untuk menemani
saya, kamu dan Mr Jodi.”
“Bagus itu
Mr Clean. Itu artinya aku ada teman perempuan.”
“Sayang ya
Mister,” celetuk Mr Jodi sambil mengunyah sekali tiga permen pemberian Mr
Clean.
“Sayang
kenapa Mr Jodi?”
Syiiiiit …
Mobil ngerem
pelan.
“Udah
kawin.”
Ha ha ha ha
…
Tobe
Continued
Tidak ada komentar:
Posting Komentar