Minggu, 20 Agustus 2017
El-Maut (12)
Novel ...
El-Maut (12)
Oleh Wak Amin
24
SATUAN petugas keamanan gabu ngan dikerahkan. Inspektur Polisi Smith memerintahkan tiga anak buahnya yakni Mr Jodi, Miss Nancy dan Mr Clean untuk mengolah TKP, sebelum melakukan pengejaran terhadap pelaku peledakan bom taman kota.
Petugas pemadam kebakaran, am bulance dan mobil kepolisian dike rahkan untuk mensterilkan TKP. Ma yat-mayat diangkut. Darah-darah yang berceceran di jalan dan lain tempat dibersihkan, percikan api
yang tersisa terus dipadamkan se dangkan bangunan yang hancur dirapikan.
Warga dilarang mendekat. Hanya bi sa menonton dari kejauhan. Diba tasi tali yang khusus dipasang un tuk mereka yang ingin melihat kondisi TKP terkini.
Beragam mimik dan prilaku diperli hatkan. Ada yang menangis, sedih, marah dan tak sedikit yang mengu tuk pelaku yang dengan sengaja menghabisi nyawa orang lain secara keji dan tidak berpri kemanusiaan.
Di antara kerumunan warga yang menonton, ada beberapa anggota keluarga korban. Setelah mendapat kabar dari kerabat yang menonton peristiwa ledakan dari stasiun tele visi, segera meluncur ke TKP.
Mereka tidak diperbolehkan masuk, apalagi ikut serta membantu me ngevakuasi korban karena sudah ada petugas khusus untuk itu.
Mereka hanya bisa dengan leluasa mencari dan menemukan anggota keluarga mereka yang jadi korban peledakan setelah berada di rumah sakit.
Merek tentu kecewa, meski keba nyakan dari mereka bisa memaha mi dan mengerti pemberlakuan atu ran ketat itu.
Apalagi setelah menyaksikan pihak rumah sakit yang kewalahan me layani para korban. Mereka terpak sa memberlakukan antrean berla pis guna menghindari terjadinya sesuatu yang tak diinginkan.
Tangis yang memecah, jeritan me nyayat hati dan sumpah serapah mewarnai suasana tiga rumah sakit yang ditunjuk.
Karena tak kuasa menerima ke nyataan anak, isteri, suami, menan tu dan cucu mereka tewas secara mengenaskan. Banyak di antara ke luarga korban yang jatuh pingsan. Tampak para petugas medis segera mengamankan mereka, dibantu petugas keamanan.
Sementara di ruang tahanan Mar kas Besar Kepolisian Besar, Idris dijaga ketat oleh dua anggota pa sukan bersenjata lengkap dan rom pi anti peluru. Mereka menjaga ruangan di mana Idris ditahan sementara waktu.
Di luar markas kepolisian, Ismail dan Iskandar yang ditunjuk Bos So bar untuk menculik dan menghabisi Idris, keluar dari mobil yang diparkir di seberang jalan.
Mobil berwarna serba putih itu dipi lih karena lebih cepat 'larinya' serta lebih aman untuk membawa lari orang yang diculik.
Ismail dan Iskandar, keduanya tan pa bersusah payah berhasil menye linap masuk ke markas kepolisian setelah melewati pos jaga dengan memperkenalkan diri untuk berte mu dengan Inspektur Smith.
Pengelabuan berlangsung lancar. Hanya dalam hitungan detik mere ka sudah tiba di sel tempat rekan mereka Idris ditahan.
Dua anggota polisi yang berjaga-ja ga di sekitar sel tak pula tahu ada penyelinap masuk lewat belakang sel tahanan khusus. Mereka baru tahu setelah Iskandar dan Ismail memergoki mereka dan mengajak berduel. Satu lawan satu.
Ismail menghadapi anggota berma ta sipit sementara Iskandar duel de ngan si mata besar. Duel berlang sung seru. Saling jual beli pukulan, sama terjatuh dan terjengkang.
Pada satu kesempatan, Ismail ber hasil mendaratkan pukulan ke dagu sipit, mengalami batuk-batuk sebe lum akhirnya sempoyongan.
Si sipit roboh. Tapi berusaha bang kit dan saat itulah ...
Dooor ...
Dooor ...
Dua peluru menembus kepalanya. Sipit tewas seketika.
Bagaimana dengan Iskandar dan si mata besar?
Sama-sama terpojok, tersudut. Terluka di bagian kepala, Ismail memutuskan untuk mengakhiri duel yang memakan waktu itu.
Ketika Iskandar jatuh tersungkur dan hendak dicekik si mata besar, Ismail mendekat sambil mengacam.
"Kupecahkan kepalamu. Lempar pistol itu. Cepaaaat...!"
Si mata lebar mengatur siasat. Dia lempar pistol di tangan ke samping Iakandar.
Kemudian dengan cekatan meng ambil pistol di balik baju rompinya dengan tangan kiri. Sayang, Ismail bergerak cepat.
Sebelum tangan kekar itu mem bidikkan senjatanya ke arah Iskan dar yang baru saja berdiri, Ismail sudah men-door nya lebih dulu.
Sama seperti rekannya si mata si pit, dua peluru menghantam kepala mata besar hingga tewas.
Tobe continued
Dikirim dari Acer Liquid Z330
Tidak ada komentar:
Posting Komentar