Novel ...
El-Maut (17)
Oleh Wak Amin
33
KEPANIKAN memang terjadi sete lah, sekitar pukul delapan malam, semua
jaringan komputer di Suara Hati, Gema Insani dan Fajar.Com ti ba-tiba
mati seketika. Bukan cuma itu, segenap jaringan sosmed dan online ketiga
media ini pun ikut terganggu. Mendadak terputus.
Kondisi 'tak bagus' ini berlangsung lebih dari satu jam. Tentunya sa
ngat mengganggu kenyamanan dan kelancaran awak media menu lis berita,
mengedit dan memprint-out, atau menyebarluaskannya lewat online.
Warga di sekitar lokasi kantor keti ga media itu tetap tenang. Karena
mereka tidak mengetahui telah ter jadi sesuatu yang menimpa kan
tor pers terbesar itu. Selama ini mereka tidak bersikap apriori dan
sangat mendukung kehadiran Suara.Hati, Gema Insani dan Fajar. Com.
Tak ada api yang berkobar. Apalagi suara ledakan. Juga tidak ada keri
butan di tiga kantor media itu. Petu gas security hilir mudik, keluar ma
suk kantor. Juga petugas IT yang pada malam itu sibuk memperbaiki
jaringan komputer yang rusak.
Setengah jam kemudian, komputer menyala kembali. Para awak media mulai
bekerja seperti biasa. Mereka sudah bisa bercanda, ketawa dan le ga
karena berita yang mereka tulis dan edit selesai juga akhirnya.kalu
Namun, menjelang dead-line, pukul sepuluh malam ...
Bleeeep ...
Lampu padam. Berlangsung sekitar lima belas menit. Disusul rusaknya jaringan komputer dan online. Kepa nikan kembali terjadi.
Pukul sebelas malam ...
Serempak terjadi tiga ledakan keras di pelataran gedung Suara Hati, Ge
ma Insani dan Fajar.Com. Ledakan itu tidak menimbulkan korban jiwa.
Tapi, karena sangat keras, meng hancurkan beberapa unit mobil yang
diparkir di sana.
Sementara petugas security ada yang terluka karena terpental saat bom
meledak. Sedangkan awak me dia sudah pulang. Hanya tersisa be berapa
orang, di bagian erte, pro duksi dan percetakan.
Warga berhamburan ke luar rumah. Tak lama setelah itu, tiba di lokasi
ledakan beberapa petugas kepoli sian, di an taranya Mr Clean, Mr Jo di,
Miss Nancy dan Mrs Sabrina Muhsin.
Mereka dibagi tiga kelompok. Mr Clean ke gedung Suara Hati, Mr Jodi ke
markasnya Gema Insani, sedangkan Miss Nancy dan Mrs Sabrina menuju
gedung Fajar.Com.
Mereka melakukan olah TKP. Tak terlihat Inspektur Smith. Mr Clean cs
juga irit bicara. Mereka bertanya kepada saksi mata, korban dan be
berapa pekerja pers terkait proses terjadinya ledakan.
Karena kooperatif, Mr Clean tak perlu bersusah payah mengum pulkan bahan
informasi sebelum mengarah ke penyelidikan lebih lanjut.
Ketika ditanya awak media televisi, mereka hanya minta doa dan duku ngan penuh agar bisa secepatnya menangkap pelaku peledakan.
Ha ha ha ha ...
Kepada Pimred Taufik, Tunggul dan Tugino, Bos Sobar mengancam ak an
menghabisi satu persatu awak media yang tergabung dalam ke lompok pers
Suara Hati, Gema Insani dan Fajar.Com.
"Anda jangan coba-coba melawan kami, Tuan Taufik." Bos Sobar mem
peringatkan. "Ini baru permulaan. Setelah ini, jika anda masih tidak
mendengarkan permintaan ini, anak isteri Tuan akan saya babat habis.
Mengerti?"
Klepeeek ...
Praaaak ...
Bos Sobar membanting telepon. Pak Taufik, Pimred Suara Hati, ter kejut
mendengar suara bantingan telepon itu. Raut mukanya berubah pucat.
Hal serupa juga dialami Pimred Tunggul dan Tugino. Keduanya ma lah
diancam akan dibunuh dan ma yatnya dibawa berkeliling jalan pro tokol,
agarsegenap warga tahu ke hebatan jaringan El-Maut.
"Mau badan Tuan saya potong-potong?" Sergah Bos Sobar pada Tugino. Jadi
serba salah. Dia lebih memilih tidak meladeni tantangan itu.
Dia berusaha tetap sabar dan so pan ketika berbicara lewat telepon.
Namun demikian, Bos Sobar tak am bil peduli. Dia hanya ingin Fajar.Com
menghentikan pemberitaan yang menyangkut jaringan El-Maut.
"Anda paham tidak Tuan Tugino?" Bentak Bos Sobar. Darahnya mulai
mendidih. Menggelegak. Ingin rasa nya dia menempeleng Tugino saat itu
juga, saking marahnya.
"Ini hewan atau orang," gerutunya. Dia angkat kembali telepon, lalu
berkata ... "Sekarang, terserah Tuan lah. Jadi kami tunggu sampai be
sok. Jika tulisan yang terkait dengan El-Maut masih tetap
disebar-luaskan, maka detik ini juga saya bersumpah akan menyambal
hidup-hidup kepala anda."
34
SETELAH ketemu tiga pimred: Sua ra Hati, Gema Insani dan Fajri.Com,
akhirnya sepakat untuk tidak menu lis dan menerbitkan tulisan yang
dinilai mendiskreditkan El-Maut.
"Kita lebih baik cari jalan aman," kata Taufik, Bos Suara Hati, sebe lum pertemuan berakhir.
"Maksud anda Pak Taufik?" Pak Tunggul mengingatkan pers tidak boleh
takut dan tunduk pada ancaman pihak tertentu, apalagi pemberitaan
El-Maut sangat terkait dengan kenyamanan dan ketena ngan masyarakat.
"Aman maksud saya, untuk bebera pa hari ke depan, kita coba biarkan
informasinya menggantung. Biarkan media lain yang menerbitkannya. Tapi
saya kira, mereka juga tak bakalan berani. Saya yakin itu," jelas Pak
Taufik.
Melihat alotnya pertemuan, Pak Tugino dari Fajar.Com mencoba menengahi.
"Saya lebih setuju jika kita menun da sementara waktu pemuatan be rita
yang terkait dengan jaringan El-Maut," kata Pak Tugino, sempat me
nyeruput kopi, lalu melanjutkan ucapannya ...
" Saya setuju dengan Pak Tunggul. Bahwa kita tak boleh takut pada siapa
pun. Pers itu menegakkan ke benaran. Dia membela yang terani aya. Dan
saya sangat setuju, apa pun rintangan yang menghadang, pers harus maju
terus. Tapi .."
Pak Tugino menarik nafas sejenak. Dia sengaja memberi kesempatan pada
dua teman satu profesi de ngannya ini untuk bicara. Ternyata memilih
diam.
"Kita juga manusia. Kita juga punya anak dan isteri. Kita juga diberi ke
sempatan untuk membela diri. Me nyelamatkan diri dan memposisi kan diri
sebagai penengah. Tidak berpihak ke sana, tidak berpihak ke sini."
"Maksud saya, tidak ada salahnya juga bila kita menempuh cara yang
paling aman. Kita menghindar dulu. Setelah situasinya sudah memung
kinkan baru kita bergerak kembali ..
.."
"Tapi Pak Taufik dan Pak Tugino, apa anggapan masyarakat jika be rita
El-Maut ini kita hentikan. Pada hal kita sudah menyinggungnya le wat
wawancara dengan Inspektur Smith lewat televisi. Ada beban mo ral.
Karena kita dapat info keterliba tan El-Maut dari masyarakat," terang
Pak Tunggul.
"Menurut saya," kata Pak Taufik, "Itu semua masih bisa dinetralisir ..."
"Netralisir bagaimana Pak Taufik. Semua orang pasti menonton. Te rus
nara sumber kita pasti heran, kok El-Maut enggak disinggung. Padahal tak
pula detil."
"Oke-oke," potong Pak Tugino, "Kita sebaiknya sepakat dululah. Waktu
kita singkat. Keadaan kita juga be lum aman betul. Bagaimana kalau kita
akhiri dulu pertemuan ini de ngan satu kata sepakat. Kita tunda dulu
pemberitaan El-Maut. Setelah itu kita bertemu lagi untuk memba hasnya.
Oke?"
Belum ada reaksi.
"Oke," jawab Pak Taufik dan Pak Tunggul serempak. Jawaban ini melegakan hati Pak Tugino.
Dia rangkul keduanya. Sebelum kembali ke kantor. Menuju mobil
masing-masing yang terparkir di salah satu rumah warga di pinggiran
kota.
Sesampainya di kantor, ketiga pim red ini segera mengumpulkan 'anak
buah' nya masing-masing. Di teng ah porak- porandanya bagian depan
gedung tempat awak media beker ja, baik Tugino, Tunggul mau pun Taufik
merasa perlu memotivasi ba wahan mereka agar tetap sema ngat dan terus
berkarya.
"Saya putuskan, besok kita tetap terbit seperti biasa," ujar Pak Taufik yang disambut tepuk tangan sege nap redaksi Suara Hati.
"Kita harus tegar. Jangan cengeng. Kita terus maju. Badai pasti akan
berlalu. Hidup Gema Insani." Teriak Pak Tunggul. Mengepalkan tinju nya.
Diangkat tinggi-tinggi.
"Hidup Gema Insani."
"Hidup Gema Insani."
"Dengan mengucap bismillah, kita mulai bekerja," ucap Pak Tugino.
Tak ada tepuk tangan. Semua ter tunduk dan khidmat mendengar we yangan orang terpenting di Fajar.Com ini.
Tobe continued
Tidak ada komentar:
Posting Komentar