Rabu, 06 September 2017
El-Maut (18-Tamat)
Novel ...
El-Maut (18)
Oleh Wak Amin
35
HANYA dalam tempo 2 x 24 jam jejak keberadaan Yudi dan Aulia, terduga pelaku peledakan tiga kantor media, berhasil tercium Mr Clean cs. Keduanya diketahui tengah berpesta pora bersama teman-temannya di sebuah tempat di puncak bukit.
Hampir tiga jam pengintaian dilaku kan Mr Clean dan kawan-kawan. Mereka harus berjalan kaki menyu suri jalan setapak menuju bukit yang masih perawan itu.
Mereka bersenjatakan lengkap. Me reka tidak main-main untuk me nangkap secepatnya Yudi dan Aulia.
"Kita sudah dipermainkan dan di permalukan mereka. Kita tak boleh tinggal diam. Kita harus kejar mere ka, walau harus sampai ke ujung dunia," tegas Inspektur Polisi Smith.
"Saya tak ingin kita gagal lagi," lan jutnya. Ia menaruh lencana yang ia kenakan di atas meja kerjanya.
"Siap ya?"
"Siap Inspektur," jawab Mr Clean, Mr Jodi, Miss Nancy dan Mrs Sabrina Muhsin.
Sampai detik ini, di saat pengejaran terhadap Yudi dan Aulia masih ber langsung, semangat yang digelora kan masih terngiang-ngiang di teli nga Mr Clean, khususnya Miss
Nancy.
Sepanjang pengejaran tak secuil pun senyuman disunggingkan Miss Nancy. Dalam hati kecilnya ia ber tekad akan menangkap hidup atau mati Yudi dan Aulia.
"Ha ha ha ha. Hidup Yudi. Hidup Au lia!" Teriak rekannya ketika asyik berpesta miras di villa puncak bukit."
Malam semakin larut ..
"Ayo teman-teman. Kita sikaaat ..." Teriak lelaki berjambang lebat sambil memeluk seorang perem puan cantik yang secara khusus didatangkan untuk menghibur Yudi dan kawan-kawan.
Tarian pun mulai tergelar. Semakin malam semakin asyik menikmati tarian erotis itu. Beberapa wanita berparas cantik menari setengah bugil dikelilingi Yudi cs dalam keadaan mabuk.
"Goyang terus sampai pagi," pekik pria jangkung yang ikut bergoyang dan merangkul tiga perempuan cantik.
Gelas di tangan, tanpa terasa sudah berpindah tangan ke salah seorang perempuan berkulit sawo matang. Tersenyum dan tertawa. Ikut minum, sisa minuman lelaki di dekatnya.
"Clean." Bisik Miss Nancy. Dia meminta lebih dulu melompat ke pagar berduri, pelataran villa mewah itu.
"Okeee ..."
Huuuup
Disusul Mrs Sabrina, Mr Jodi dan terakhir Mr Clean. Lambat tapi pas ti, mereka sudah mendekati pintu belakang villa. Sepi dan tak ada tan da-tanda orang serta penjagaan yang ketat di sana.
"Buka saja Miss." Dengan satu kali putaran, pintu pun terbuka. Ternya ta hanya gudang.
"Terus saja naik Miss," bisik Mr Jo di. Mulai tersenyum. Karena Mr Jodi bisa melucu dan mencairkan suasana yang kaku dan tegang.
"Mr Jodi. Kita ke kiri," kata Mr Clean. Ada dua pintu. Miss Sabrina dan Miss Nancy memilih pintu sebelah kanan.
"Kita yang kiri saja Mr Jodi."
Ha ha ha ha ...
"Ssssst. Jodi," tegur Miss Nancy. Dia tampak kesal melihat kolega nya ini tertawa. Bukan tak suka. Ta kutnya ketahuan di saat genting seperti ini.
Alhamdulillah tidak. Mereka selamat sampai ke lantai utama. Di lantai ini ada dinding yang diplester dengan kayu jati. Sangat rapi dan indah
Dari balik dinding inilah terdengar sayup-sayup musik berirama keras. Disertai cekikikan perempuan, men desah dan dalam keadaan nyaris tanpa busana.
"Langsung saja Clean?" Senjata siap kokang dan tembak dengan kiri dan kanan peluru melilit di seputaran pinggang.
Miss Nancy memberanikan diri mendobrak pintu dinding samping kanan.
Praaaak ...
Jegaaar ...
"Angkat tangan semuanya!" Teriak Miss Nancy. Dengan raut muka te gang ia mendekati Yudi dan Aulia yang separo teler.
Keduanya tidak melakukan perlawa nan. Sedangkan teman-temannya yang lain, nekad melarikan diri, te was di door Mrs Sabrina dan Mr Clean.
36
SEBUAH helikopter di tengah ma lam berikutnya berhasil menurun kan empat anggota pasukan khu sus terlatih dari pihak kepolisian yang terdiri dari Mr Jodi, Miss Nan cy, Mrs Sabrina Muhsin dan Mr Clean.
Mereka menuruni tangga dari he likopter yang hanya memutar baling-baling di balik pepohonan. Tak ada suara, selain hembusan angin yang menggoyang dedaunan.
Buk ...
Gedebuk ....
Bek ...
Pertama kali yang melompat di rerumputan adalah Mr Clean, di susul Miss Nancy, Mrs Sabrina Muhsin dan paling belakang Mr Jodi.
Mereka mulai bergerak ke kanan sesaat setelah helikopter memutar arah dan kembali ke markas.
Malam memang pekat. Tidak ada bulan selain bintang-bintang yang tampak meredup di balik angkasa yang tetap indah memesona.
"Terus aja Sabrina," ucap Mr Clean. Kanan dan kiri memang ada jalan setapak. Sedangkan di depan ha nya semak belukar.
Huuup ...
Satu-satu melompati batu besar yang menghadang depan jalan ber semak. Meski belum ada jalan, Mr Clean cs bergerak lurus mengikuti semak yang tumbuh liar setinggi lutut orang dewasa.
Kemana mereka?
Mereka kini sudah berada di kawa san markas El-Maut. Di tengah lahan seluas lima hektare inilah Bos Sobar menjalankan bisnis ilegalnya selain melakukan peledakan di berbagai tempat.
Istana tersembunyi ini berhasil terlacak berkat pengakuan Yudi dan Aulia. Dari jauh dan dekat tidak ada tanda-tanda bangunan yang di luar nya bermaterialkan kayu dihuni sa lah seorang yang paling ditakuti di jagad raya ini.
Tengah malam ini, Bos Sobar te ngah memimpin rapat dan perte muan khusus dengan koleganya. Mereka membicarakan prospek bisnis El- Maut ke depannya.
Juga disinggung sepintas tentang keamanan kota dan situasi terkini di berbagai negeri akhir-akhir ini.
Bos Sobar tidak mengetahui sama sekali jika istana megahnya ini su dah dikepung Mr Clean cs. Hampir tak ada jalan lagi buat dia dan anak buahnya untuk menyelamatkan diri.
Dari segi jumlah, masih kalah jauh dari pasukan keamanan kota. Me reka yang berjaga-jaga di sekitar istana berjumlah dua puluh orang bersenjatakan lengkap.
Badan mereka kekar. Mereka jarang menebar senyum, apalagi ketawa selain kepada pimpinan dan antar mereka sendiri.
Meski begitu, ketika saling berhada pan, pasukan keamanan tidak me nemui kesulitan untuk melumpuh kan mereka, baik dengan tangan ko song maupun adu senjata tajam dan jual beli pukulan.
Lebih banyak anak buah Bos Sobar yang tewas. Satu dua berhasil me nyelamatkan diri di tengah pekat nya malam di hutan perawan.
Selebihnya tewas kena pitingan di leher dan berondongan peluru yang merobek-robek kepala, dada dan perut.
Bos Sobar baru mengetahui hampir semua pengawalnya tewas setelah salah seorang koleganya yang baru keluar dari toilet, secara tak senga ja mendengar suara tembakan di luar gedung.
Tidak terlalu keras. Hanya sayup-sa yup kedengarannya. Namun tidak menyurutkan pria ganteng, tinggi lebih dari dua meter ini untuk meli hat keadaan di luar lewat kaca pe ngintai di atas pintu toilet.
Dia tampak syok. Dia sangat keta kutan setelah melihat gelimpangan mayat di luar istana, dan beberapa aparat kepolisian yang mencoba masuk dengan memanjat dinding istana dari berbagai sudut.
Dengan langkah tergesa-gesa, pria setengah baya itu memberitahu Bos Sobar dan koleganya yang masih asyik berapat ria.
Semuanya terkejut ...
"Tenang .. Tenang. Ikuti saya!" Kata Bos Sobar, menenangkan kolega nya yang mulai panik.
Dia mengajak koleganya turun ke lantai paling bawah. Di sini ada bun ker. Ada terowongan bawah tanah yang sengaja dipersiapkan Bos So bar jika terdesak dan terkepung oleh musuh-musuhnya, termasuk dari pihak kepolisian.
Namun tidak diketahui secara pasti, apakah mereka masih hidup atau sudah tewas setelah pasukan udara memborbardir tempat persembunyian ini dengan berkekuatan tinggi.
Kita hanya bisa melihat asap tebal membubung tinggi dari bangunan istana, markas El-Maut yang sudah rata dengan tanah.
TAMAT
Tidak ada komentar:
Posting Komentar