Rabu, 17 Januari 2018

Pulau Harimau (6)

Serial Ki Ogan



Pulau Harimau (6)
Oleh Wak Amin



"SUDAH ... Biar kami periksa sendiri," ucap Iwan.

"Ayo kawan-kawan," ajaknya pada pemuda kampung, agak segan di antaranya. Namun karena sudah datang dan ikut bergabung, terpaksa mengiyakan ajakan Iwan memeriksa setiap ruangan yang ada di lingkungan Perguruan Al-Husna.

Ki Santani membagi tugas. Mereka meminta siswa didiknya menyebar di empat kelompok mengikuti empat kelompok Agus cs yang memencar. Sedangkan Ki Santani menemani Agus dan Iwan.

Setiap ruangan mereka masuki. Tapi  Pedro dan Thomas yang dicari tidak diketemukan. Agus putus asa dengan melampiaskan kemarahan nya pada para pemuda kampung yang tampak bengong dan salah tingkah.

"Ada tidak?"

"Tidak ada, Kak Agus. Semua ruangan sudah kami masuki. Tapi yang kita cari tidak ada," jelas si rambut keriting.

"Kamu?"

"Sudah juga, Kak. Tapi yang kami dapatkan cuma ..." Si rambut lurus memperlihatkan baju kaos dalam buruk.

Ha ha ha ha ...

"Kalau itu banyak di pasar " celetuk Iwan.

Mereka belum juga beranjak pergi. Walau Pedro dan Thomas tak juga diketemukan. Pasalnya, Agus menelepon Sang Bos, tapi tidak berhasil karena ada gangguan jaringan telekomunikasi.

Mereka baru beranjak pergi lepas Magrib. Sempat terjadi kontak sebentar dengan Sang Bos. Mayor Nawi menginstruksikan untuk segera menemui Pedro dan Thomas.

"Cari ke kampung lain, paham?"

"Paham Bos," jawab Agus.

"Ada kendala?"

"Ada Bos."

"Apa? Cepat katakan ...!"

"Orang yang kita cari ini benar-benar lihai Bos."

Hua ha ha ha ...

"Baiklah. Nanti kabari perkembangannya, termasuk lokasi dimana kalian berada.  Kita akan kirim bantuan secepatnya. Oke?"

"Makanan Bos?"

"Husssy ... Perut saja yang kau pikirkan. Jangan makan sebelum yang dicari dapat. Mengerti?"

"Bisa mati Bos kalau kita tidak makan."

"Kuburkan kalau mati."

Iwan yang berada di dekat Agus tertawa ngakak. Lucu, bisiknya pada teman dekatnya itu.

"Lucu apa?" Tanya Agus.

"Masa kita yang mati, lalu kita disuruh ngubur sendiri .."

Bhua ha ha ha ...


6

SEHARI menempuh perjalanan darat dan laut, Pedro dan Thomas akhirnya tiba di kediaman Ki Ogan, pimpinan Perguruan Al-Kalam.

Ki Ogan menyambut keduanya dengan ramah. Mereka diajak mengaso sejenak di belakang rumah.

Meski tidak mengenal lebih dekat, hanya lewat cerita Ki Santani, Pedro dan Thomas tidak merasa canggung, apalagi segan karena Ki Ogan lebih banyak tertawa dan bercanda ria.

"Kalau kita banyak bercanda, insya Allah awet muda," kata Ki Ogan seraya menambahkan, "Tapi jangan kelewatan. Lupa yang lain."

Ha ha ha ha ...

Hening sejenak.

"Kami bermaksud ..."

"Sudah .." Potong Ki Ogan. "Saya sudah baca isi surat teman saya, Ki Santani. Cuma ada beberapa hal yang hendak saya tanyakan."

"Silakan Ki," kata Pedro. "Insya Allah, semua pertanyaan akan kami jawab berdua."

"Pertama, sampai kapan kalian berdua begini terus. Berlari menghindari kejaran kelompok bersenjata Asy-Syifa. Ini yang pertama. Kedua, kenapa tidak lapor saja kepada pihak berwajib. Terakhir, atau yang ketiga, apa yang bisa kami bantu buat kalian berdua?"

"Baiklah Ki. Mungkin rekan saya, Thomas lebih dulu yang menjelaskannya."

"Terima kasih. Begini Ki. Untuk jawaban pertama, saya dapat jelaskan, kami berlari bukan karena kami tak be rani Ki. Sebab, kami tahu pelarian kami ini banyak menimbulkan masalah bagi orang lain. Kami juga sudah mulai capek. Lelah. Kami sebenarnya ingin segera mengakhiri pelarian ini. Tapi, setelah kami pikir, menyerahkan diri juga percuma. Lebih gawat lagi. Kami pasti dihabisi. Karena kami adalah saksi kunci tewasnya Jenderal Lutfi. Orang hebat di negeri ini .."

"Kedua, biar saya yang menjawabnya Ki," sahut Pedro. Merasa haus, air minum putih yang baru saja di sajikan salah seorang siswa latih Ki Ogan, dengan cepat diminum.

Segar terasa kerongkongan ini ...

"Kenapa kami tidak melapor kepada pihak berwajib, karena situasinya belum aman untuk melapor saat ini. Pun, menurut hemat saya, kelompok Asy-Syifa ini sebuah kelompok yang terorganisir dan memiliki jaringan yang amat luas Bukan cuma orang pemerintahan mereks kuasai, aparat penegak hukum juga sudah berhasil mereka bungkam. Jadi Ki, kalau kami melapor pada pihak berwajib, justru saya mau bertanya, maaf beribu maaf ya Ki, kepada Ki Ogan, pihak berwajib yang mana. Jika kami melapor misalnya, diproses tidak. Lalu keselamatan kami bagaimana," terang Pedro.

"Pertanyaan ketiga, saya yang jelaskan Ki Ogan," ujar Thomas. "Kami ingin semua orang, atau paling tidak yang kami temui dan minta bantuan,  tolong perhatikan kami lah. Kami sangat senang jika dibantu, apalagi diberi solu si. Tapi jika tidak, tidak apa-apa jugalah. Yang penting sebagian orang sudah tahu apa yang kami hadapi saat ini ..."

Karena hampir tengah hari, Ki Ogan menghentikan sementara dialog dari hati ke hati ini. Dia mengajak dua tamu istimewanya hari ini untuk santap siang bersama.

Kendati terkesan mendadak, kepada tamunya Ki Ogan selalu telaten memperhatikan. Dia melayani sebaik-baiknya.

Sebab, tanpa memandang status dan jabatan, tamu itu adalah raja. Harus disambut dan diperlakukan dengan amat baik dan manusiawi.


Seusai santap siang, Ki Ogan mengajak Pedro dan Thomas menuju mushalla di ruangan tengah. Mereka menu naikan shalat Zuhur bersama, dilanjutkan diskusi ringan, sehingga penuh sesaklah mushalla ini ...


Selasa, 09 Januari 2018

Pulau Harimau (5)

Serial Ki Ogan



Pulau Harimau (5)
Wak Amin





"EEEEEM ..."

"Anda kenal Bos kami Ki?" Tanya Iwan, berharap kenal sehingga dengan mudah mengajak serta menemukan dan menangkap Pedro serta Thomas.

"Tidak. Tidak sama sekali," jelas Ki Santani.

"Baiklah. Tapi apa anda tahu keberadaan mereka berdua Ki?"

"Tidak. Maafkan saya. Saya tidak tahu keberadaan mereka," jawab Ki Santani.

Iwan, setelah mendengar jawaban Ki Santani barusan, naik pitam dan bermaksud memukul lelaki tua di hadapannya ini.

Namun hal itu tidak terwujud karena secara bersamaan tiga pesilat senior mendekat dan melindungi Ki Santani dari rencana jahat Iwan cs itu.

"Sebaiknya kalian bertiga pergi saja dari tempat ini. Ini perintah guru kami," terang pesilat bertahi lalat.

"Kalau kami tidak mau, kenapa memangnya?" Tantang Iwan.

"Kami akan lapor ke kepala kampung," jawab si pesilat.

"Sekali lagi kami ulangi. Kalau tak mau pergi dari sini, mau apa?"

"Kami paksa usir kalian bertiga," kata si pesilat bermata sipit.Sudah siap meladeni tantangan Iwan.

"Coba kalau berani?"

"Sudah .. Sudah. Begini saja." Ki Santani menengahi. "Jika kalian ingin benar-benar menantang saya, saya persilakan. Tapi dengan syarat, kalian harus enyah dari tempat ini jika kalah. Sebaliknya pun demikian. Jika kalian bertiga menang, saya persilakan kalian untuk tidak pergi dari sini ..."

"Baik Ki. Kami ladeni tantangan anda," kata Agus penuh percaya diri mampu menaklukkan Ki Santani.

Ketiganya menuju tanah lapang bersama Ki Santani, berikut para pesilat anak didiknya.

Tak kepalang tanggung. Beberapa pesilat menabuh gong sebagai tanda dimulainya duel seru itu.

Goooong ...

Gooooong ...

Gooooong ...

Agus lebih dulu tampil ke depan. Dia memulai ancang-ancang dan memperagakan beberapa jurus.

Bagi pesilat Al-Husna, jurus yang dipertontonkan Agus tidak istimewa. Mereka kini justru menunggu harap-harap cemas, jurus apa gerangan yang bakal diperagakan suhu mereka, Ki Santani.

Ciyuuuut ...

Melompat sambil gingkang mengarah ke dada Ki Santani. Dengan tenangnya dia tahan telapak kaki itu. Dia putar, pelintir. Agus pun jatuh berguling-gulingan di tanah.

Bruuuuuk ...

Hua ha ha ha ...

Merasa ditertawakan setengah mengejek, darah Agus mendidih. Ingin rasanya dia melumat habis Ki Santani.

Plak ... pak ... plak ... pak ...

Plak ... pak ... plak ... pak ...

Tepuk tangan beriringan. Agus memulai jurus baru. Kalau tadi gingkang, sekarang salto beberapa kali sebelum melepaskan pukulan ke arah muka Ki Santani.

Tapi, apa yang terjadi kemudian?

Gedebuuug ...

Auuuugh ...

Ha ha ha ha ...

Agus kembali terjatuh. Saat saldo terakhir, kepalanya menyentuh tanah dan mengerang kesakitan.

Beberapa pesilat coba hendak menolong, tapi Agus menolaknya.

"Tak usah. Saya bisa berdiri sendiri," katanya dengan nada marah bercampur kesal dan malu dilihat orang banyak.

Buuuug ...

Jatuh lagi.

"Aaaaaagh!" Teriaknya, menepis tangan Iwan, yang bermaksud menariknya berdiri.

"Aku bisa kan?"

"Ya ya. Teruskanlah ...!"

Agus memandang tajam Ki Santani. Kali ini dia mengeluarkan pisau belati. Semua pesilat hendak men cegahnya. Kuatir dengan keselamatan Ki Santani.

"Majulah Nak!" Kata Ki Santani dengan tenang. Sebelumnya dia meminta siswa latihnya untuk memberi kesempatan padanya meladeni tantangan Agus.

Ciyeeeeet ....

Mata pisau itu berulangkali bergerak dengan cepat ke kanan, kiri, depan dan belakang. Mengikuti kemana gerak arah menghindar Ki Santani.

Semua yang menyaksikan, terutama Iwan dan Iwin, berharap Agus berhasil mencenderai Ki Santani. Sangat senang bila lelaki tinggi semampai itu mampus kena tikaman pisau belati.


5
"ADUH ... Aduh ... Ampun Ki. Ja ngan Ki." Rengek Agus sambil menahan rasa sakit.

Rengekan ini membuat mereka yang menonton tertawa geli. Tak habis pikir, badan gede, melawan pula,  eee mau 'dipeliteske' malah menjerit.

Setelah mengaku kalah, Agus akhirnya minggir secara teratur. Dia persilakan Iwin yang maju.

"Kamu sajalah yang duluan, Wan." Iwin ingin melihat seberapa kuat Iwan meladeni Ki Santani. Jika bisa mengimbangi dia akan maju nantinya.

Tapi sebaliknya jika Iwan babak belur di ronde awal, lebih baik menyerah sebelum duel.

"Dasar pengecut." Iwan marah. Tapi Iwin tak balas marah. Dia hanya melihat Agus yang masih mengaduh kesakitan setelah terkena pukulan maut Ki Santani.

"Aku ingatkan Ki. Saya bukan dia," ucap Iwan, bak pendekar turun gunung, "Yang hanya jadi permainan. Saya tak akan membiarkan Ki mempermalukan saya."

"Siapa yang mempermalukan. Dia sendiri yang bikin malu ..." Balas Ki Santani.

Bhua ha ha ha ....

"Ki boleh menjawab tidak. Tapi faktanya teman saya dibikin bertekuk lutut. Apa itu bukan dipermalukan namanya Ki?"

"Bukanlah ..."

"Lalu apa?"

"Memalukan ..."

Hua ha ha ha ...

"Kampret. Kutu busuk. Rasakan tendangan geledek ini ..."

Iwan memperlihatkan jurus tendangan halilintar dengan melompat sambil menendang. Tendangan semakin kencang mendekati lawan.

Druuuug ...

Traaaaak ...

Cepuuuuk ...

Traaaaak ...

Dengan tenang Ki Santani menghindari tendangan geledek itu. Karena berkali-kali tidak mengenai sasaran, hanya menendang angin, Iwan mulai kepayahan.

"Nafas tempe," celetuk salah seorang pesilat pemula. Sedangkan teman di sebelahnya hanya tersenyum geli.

"Bagaimana mau duel beneran kalau cuma segitu kemampuan kakak itu." Komentar pesilat pemula bermata biru.

Ketika Iwan melanjutkan kembali duel, para pesilat tampak senang. Mereka hanya ingin melihat jurus apakah yang akan diperagakan tamu asing itu.

Hiyaaaaat ...

Koprol dan ...

Cuwiiiis ...

Deeeep ...

Ki Santani dengan cepat mengelak ketika Iwan menghujamkan pisau belati itu ke bahu kanannya. Pisau itu kepunyaan Agus.

Ki Santani sengaja membiarkan pisau belati itu tergeletak di tanah. Iwan mengambilnya, yang tanpa sengaja melihat benda tajam bermata dua itu.

Huuup ...

Dia arahkan pisau belati itu ke leher Ki Santani. Sangat cepat. Secepat anak panah yang terlepas dari busur nya. 

Tak kena. Ki Santani tertawa.

"Hanya seperti ini kemampuanmu wahai anak muda?" Ki Santani berhasil menepis pisau belati itu, terjatuh ke tanah sebelum ditendangnya ke barisan pesilat pemula. Diamankan dua pesilat di belakang barisan.

"Jangan sombong dulu Ki. Itu belum seberapa ..."

"Memang ada lagi? Keluarkanlah seluruh kemampuan kamu. Biar aku lihat. Apakah cukup ampuh untuk mengalahkanku. Tapi kalau cuma jurus kacang goreng lebih baik tak usahlah. Nanti kamu saya permalukan ..."

Hua ha ha ha ....

"Coba lihat Ki!"

Iwan memukul tanah. Bergetar memang. Saking kuatnya pukulan itu, tanah di sekitarnya membentuk garis-garis. Tapi tidak jelas untuk apa pukulan itu ia daratkan.

"Itu mah jurus cuci piring," ledek Ki Santani.

Hua ha ha ha ...

Merasa diledeki, Iwan tetap melanjutkan jurus yang barusan ia peragakan.

Setiap tanah yang ia pukul bergetar dan membuat mereka yang berada di dekatnya, kalau tidak melompat, akan jatuh berguling-gulingan di tanah.

Traak ...

Adaaaw ...

Pukulan Iwan kali ini mengenai batu. Saking kerasnya batu dan kuatnya pukulan, Iwan terpental beberapa meter ke belakang.

Ha ha ha ha ...

"Kenapa anak muda?"

Iwan tak menjawab pertanyaan Ki Santani. Bukan sombong. Tapi dia sendiri kesakitan. Meraung-raung sambil memegang tangannya.

Iwin dan Agus berinisiatif menolong rekannya itu. Digosok-gosok dan ditiup, namun menolak diobati Ki Santani.

"Kami sudah terbiasa seperti ini, Ki." Kata Agus dengan pongahnya.

Ki Santani meminta siswa latihnya diam di tempat. Tak usah bereaksi sambil menunggu keputusan Iwan. Mau terus berduel atau dihentikan.

"Tak usah malulah mengaku kalah. Sebaiknya kita pergi saja dari sini," saran Iwin.

Menghadapi lawan sekaliber Ki Santani sama artinya menyerahkan diri untuk dipukuli dan dihabisi.



                                                                        -----

SEPERGINYA Agus, Iwan dan Iwin dari Padepokan Al-Husna, membuat Ki Santani lega. Namun tidak bagi Pedro dan Thomas. Keduanya berniat untuk pergi karena tak ingin merepotkan Ki Santani dan anak didiknya.

"Izinkanlah kami pergi, Ki. Kami yakin suatu saat nanti, entah esok atau lusa, Agus dan dua rekannya kembali lagi kesini," kata Pedro.

"Kenapa kamu merasa yakin mereka akan kembali lagi Nak Pedro?"

"Pertama, mereka tidak mengaku kalah. Artinya, ada atau tidak adanya kami, mereka tetap akan menuntut ba las. Kedua, mereka sepertinya tidak yakin dan percaya dengan penjelasan Ki Santani bahwa kami berdua tidak ada di padepokan ini. Ketiga, ini yang saya kuatir kan, sekiranya ada kaki tangannya di kampung ini,  bisa jadi dia menyuruh beberapa warga kampung mengintai kami. Jika intaian mereka berhasil, tentu Ki Santani sudah bisa menduga apa yang bakal terjadi," terang Pedro.

"Mereka juga yakin, selain di Padepokan Al-Husna, tidak ada tempat lain bagi kami.untuk berlindung," timpal Thomas.

"Betul Ki," lanjut Pedro, "Kami ingin Ki dan anak didik Ki termasuk Perguruan Al-Husna ini porak poranda. Seti daknya, ketika kami sudah tidak ada lagi di sini, Ki bisa mempersilakan mereka memeriksa setiap sudut padepokan ini ..."

Ki Santani belum memberikan jawaban. Dia masih berpikir dan mencari sulusi terbaik. Bukan soal mengharus kan mereka pergi atau tidak. Tapi mencarikan tempat yang aman dan layak buat Pedro dan Thomas sekiranya tetap.bersikukuh meninggalkan padepokan ini.

"Bagaimana Ki?" Tanya Pedro dan Thomas hampir berbarengan.

"Baiklah. Pada prinsipnya, saya setuju dalam artian tak bisa menghalangi kalian berdua untuk meninggalkan perguruan yang saya pimpin ini. Tapi kalau boleh tahu, hendak kemana tujuan kalian selanjutnya?"

"Belum ada Ki. Sebab, yang penting bagi kami sekarang ini adalah pergi dahulu dari padepokan ini. Maka itu, sekalian kami minta bantuan Ki, jika tidak berkeberatan ..."

"Bantuan apa kira-kira Nak Pedro dan Thomas?"

"Tempat kami bersembunyi sementara Ki," terang Thomas. "Yang sulit terlacak kelompok bersenjata Asy-Syifa."

"Sebentar ..."

Ki Santani masuk ke ruangan kerjanya. Dia membolak-balik lembaran buku diary. Melihat daftar nama dan ala mat rekan-rekannya sesama pesilat yang kini punya usaha sampingan sebagai pemasok sembilan kebutuhan bahan pokok.

Dia tersenyum puas setelah melihat sebuah nama di bagian atas lembaran ketiga buku diary.

"Ini yang pas," ucapnya dalam hati. Dia bawa buku diary itu. Menemui Pedro dan Thomas di ruang utama.

"Ki?"

"Ada kayaknya Nak Thomas. Mudah- mudahan beliaulah orang yang cocok buat kalian ," jawab Ki Santani.

"Siapakah dia, Ki?" Tanya Pedro, sudah tak sabar mendengar nama orang dimaksud. Pesilatkah dia seperti halnya Ki Santani, pengu saha atau orang biasa.

"Pesilat dan pengusaha," ujar Ki Santani. Namanya Ki Ogan.

"Pasti hebat ya Ki?"

"Nanti kalian bisa lihat dan buktikan sendiri. Eeeem ... Oh ya, sebelum kalian berdua berangkat, saya titip ini pada beliau. Alamatnya ada tertera di amplop ini," kata Ki Santani.

Ki Ogan adalah teman Ki Santani saat keduanya sama-sama menuntut ilmu silat. Mereka berasal dari kota yang berbeda.

Sekembalinya dari belajar ilmu silat pada seorang guru silat kesohor di negeri ini, mereka kembali ke kampung halaman masing-masing dan mendirikan padepokan silat.

Namun tidak semua dari pesilat itu mendirikan padepokan. Ada juga bekerja sebagai tenaga security di peru sahaan perkebunan dan membuka ladang persawahan.

Kendati berbeda profesi, mereka tetap tidak melupakan ilmu silat. Tidak tenaga, uang dari hasil bekerja dan usaha mereka sisihkan untuk membantu tumbuh berkembangnya dunia persilatan di negeri ini.

Sementara Ki Ogan sendiri memulai usahanya dengan berjualan beras, sayur mayur dan makanan. Mulai dari modal kecil hingga sedang.

Tak disangka, usahanya maju pesat. Dia membuka cabang usaha di beberapa tempat dengan menunjuk orang kepercayaannya untuk memimpin dan mengelola usaha tersebut.

"Usaha yang beliau jalani macam-macamlah. Mulai dari ikan asin, ikan laut dan sungai dan ikan dalam kaleng. Juga kalau tidak salah beliau buka usaha konveksi dan kebutuhan sembilan bahan pokok," jelas Ki Santani.

"Pasti kaya raya ya Ki?"

"Betul. Tapi orangnya sederhana. Biasa hidup sederhana. Saya pernah diundang beliau ke kediamannya. Lumayanlah. Tapi beliau sendiri siang hari jalan kaki mengecek pabrik ikannya."

"Tolong doa kan kami ya Ki, agar selamat sampai tujuan," harap Pedro dan Thomas.

"Insya Allah .."

                                                                           ----
SEPERGINYA Pedro dan Thomas menuju kediaman Ki Ogan, sore harinya Agus cs bersama para pemuda kam pung mendatangi Perguruan Al-Husna.

Ki Santani yang baru saja selesai menunaikan Shalat Ashar berjamaah dengan para siswanya kaget karena tak menyangka didatangi Agus dan pemuda setempat.

Praaaak ...

Jeguaaaar ...

Pintu gerbang ditendang. Beberapa pesilat pemula tampak mendekat. Dengan sabar mereka menanyakan mak sud kedatangan Agus cs yang kedua kalinya ke markas Al-Husna.

"Mana Bos kamu?" Tanya Iwin dengan angkuhnya. Di hadapan siswa didik Ki Santani, Iwin menjilat-jilat mata parang sambil tersenyum sinis.

"Bilang sama Bos mu. Keluar cepat!" Bentak Iwin.

Tak ingin ribut, satu dari empat pesilat berlari menemui Ki Santani yang ternyata sudah bersiap meladeni tanta ngan Agus dan beberapa temannya yang marah dan berniat merusak bangunan Al-Husna berikut seisinya.

"Assalamualaikum .." Ucap Ki Santani dengan ramah.

"Waalaikum sayang ..." Jawab Agus yang disambut tawa mengejek rekan-rekannya yang lain.

"Bukan sayang, tapi salam." Sahut Iwan.

"Bodoh amat," tukas Agus. Dia memandang tajam Ki Santani dengan penuh dendam dan kebencian.

"Hei Pak Tua. Lu jangan gee er dulu ya. Kemarin-kemarin itu kami memang kalah lawan elu. Tapi sekarang ... Hei manusia beruban. Kami akan menghabisimu." Ancam Agus.

Dengan tenang Ki Santani menjawab ...

"Saya tak ingin membuat masalah pada kalian. Kalian masih muda. Kalian hanya menghabis-habiskan waktu saja datang kemari. Tak ada gunanya. Tak ada faedahnya. Lebih baik kalian kerja. Banyak pekerjaan menunggu anda. Mulai dari bekerja di pabrik, menggarap sawah ladang hingga jadi tenaga kerja di luar kota dalam dan luar negeri."

"Hei Pak Tua. Kami tak butuh khutbah darimu. Mengerti?" Hardik Iwan.

"Saya tak bermaksud mengkhutbahi kalian. Saya hanya mengingatkan anak-anak kampung saya ini. Sebagian saya kenal. Sebagian lagi lupa-lupa ingat. Sayangilah umur kalian. Mumpung masih muda. Bekerjalah. Bantu orang tua kalian. Senangkanlah hati mereka. Berbaktilah kepada mereka. Jangan susahkan hidup mereka yang sudah susah. Mumpung mereka masih hidup. Mumpung mereka masih ada di dekat kalian. Kembalilah ke jalan yang benar dan diridhai-Nya. Tak usah ikut-ikutan orang yang tidak benar," jelas Ki Santani dengan suara lantang dan berapi- api.

Agus juga mengingatkan, "Jika Pak Tua bermain api dengan kami, kami akan bermain besi. Mengerti?"

"Mengerti. Kami mengerti. Tap terus terang, orang yang kalian cari itu tidak ada di perguruan ini " terang Ki Santani ...

Selasa, 02 Januari 2018

Pulau Harimau (4)

Serial Ki Ogan



Pulau Harimau (4)
Oleh Wak Amin




"Supaya mantap ya Ki?"

"Betul Nak Thomas. Karena dengan kita mencintai silat, kita akan dengan mudah menguasainya," terang Ki Santani.

Di lapangan, salah seorang pesilat senior tampil ke depan. Dia dikelilingi beberapa siswa pemula. Jumlahnya ada sekitar delapan orang.

Mereka bersiap menyerang. Namun belum sempat mendekat, apalagi melepaskan pukulan, lewat ilmu tenaga dalam, pesilat senior tadi berhasil memukul mundur siswa berpakaian serba hitam itu.

Gedebug ...

Sreeet ...

Ha ha ha ha ...

Ada yang saling berbenturan kepala,  tapi tidak sampai bikin puyeng. Karena setelah itu, anak-anak belia ini berdiri lagi. Siap menyerang pesilat senior.

Mereka kini mengelilingi laki-laki kurus berkepala pelontos itu. Kedua kaki bergerak silih berganti. Sebentar kaki kiri ke depan, lalu bertukar kaki kanan.

Seorang siswa menyerang dari belakang. Karena tendangannya dapat dibaca, pesilat senior dengan mudah mengelak. Dia tepis itu kaki sambil didorong ke depan.

Gedebug ...

Auuugh ...

Kraaaak ...

Ha ha ha ha ...

Pesilat pemula tadi tersungkur. Celananya robek di selangkangan. Pedro dan Thomas ketawa. Tapi ditahan karena melihat Ki Santani tidak tertawa.

Berikutnya, sekali dua menyerang dari arah yang berbeda. Sama seperti teman mereka tadi, keduaya sama-sama tersungkur.

Karena keras sungkurannya, puyeng sesaat sebelum berhasil berdiri lagi dan kembali ke posisi barisan masing-masing.

Kini tersisa lima pesilat. Mereka dipersilakan menyerang bersama-sama. Si pesilat senior mundur. Dia hanya menghindar dan sengaja memberi kesempatan pada adik latihnya itu menyerang habis-habisan.

"Hiyaaat ..."

Sebuah tendangan kilat mengenai leher  pesilat senior. Dia mundur beberapa langkah. Dia baru menangkis saat tendangan kedua dilepaskan. Menunduk sedikit, kemudian memukul selangkangan 'lawan" nya.

Auuuugh ...

Dia dorong ke depan. Lawannya terjatuh. Berguling-guling. Sesaat tak ada gerakan. Mengira pingsan. Ternyata tidak.

Karena setelah itu ...

Huuup ...

Deeeeep ...

Plaaag ..

Sudah berdiri lagi, dari salto tadi. Memberi hormat sebelum kembali ke barisannya.

Kini tersisa empat siswa lagi.

Mereka belum juga menyerang. Mereka kini dihinggapi rasa ragu setelah melihat teman-teman mereka keok.

"Ayo seraaang. Tak usah takut," ucap pesilat senior.

"Baik Kak. Tapi jangan kuat-kuat ya pukulnya," kata anak bertelinga lebar.

Ha ha ha ha ...

Semua pesilat tertawa mendengar nya.

"Kenapa Ki? Ada yang lucu barang kali?" Pedro tak mendengar, jadi tidak ketawa.

Hanya sedikit heran ...

"Bolehlah bersenda gurau, asalkan tak terlalu sering ya Ki?"

Ki Santani diam.

"Kita lanjutkan menontonnya." Ki Santani dengan bahasa isyarat meminta para pesilat untuk melanjutkan latih tandingnya.

Hiyaaaat ...

Empat pesilat pemula menyerang dari depan, belakang, kiri dan kanan. Pesilat senior hanya menghindar. Mundur beberapa langkah.

Kemudian dia melepaskan tendangan ke belakang. Salah seorang siswa tersungkur dan mengenai tiga rekannya di depan.

Bruuuuk ...

Ha ha ha ha ...

Muka mereka belepotan dengan ta nah. Untung saja tanahnya kering. Tidak basah karena diguyur hujan.


4

SECARA bergantian dua pesilat senior memperlihatkan kemampuan mereka mempragakan jurus tangan kosong.

Pesilat pertama melompat ke tanah lapang. Lalu melepaskan pukulan ke kiri, kanan dan depan.

Selanjutnya memutar badan. Menangkis serangan lawan dengan cara mengelak ke kiri dan kanan sambil  melepaskan pukulan ke depan, diikuti gerakan kaki memutar beberapa kali.

Setelah itu berguling-gulingan di tanah, mirip jurus monkey (monyet). Bergulingan sembari mendaratkan pukulan.

Berputar, lalu menyerang dan bertahan dengan cara berputar, mundur dan mengarahkan pukulan ke depan.

Ketika pesilat pertama kembali ke barisannya, pesilat kedua tampil ke depan. Dia memberi hormat terlebih dulu pada Ki Santani, Pedro dan Thomas.

Kemudian dia mengepalkan tinju. Meninju ke depan, belakang, samping kiri dan kanan.

Mundur beberapa langkah ...

Lalu melepaskan tendangan ke depan, menjatuhkan diri ke tanah. Berdiri lagi sambil melompat dan melepaskan pukulan keras ke depan.

Tak lama kemudian, setelah pesilat kedua kembali ke barisan, dua pesilat melompat ke tengah lapangan. Tinggi badan sama. Sama-sama kurus, berkulit putih dan ganteng. Muda lagi.

Mereka kini sama-sama memegang pedang. Sama-sama menghunus. Pedang itu didekatkan dengan tangan kanan kedua pesilat.

Triiiing ...

Mundur beberapa langkah. Pesilat pertama tampil menyerang. Pedang bergerak ke kiri dan kanan. Beradu pedang dan sama-sama melepas kan tendangan.

Gantian pesilat kedua menyerang. Berbeda dengan pesilat pertama, pesilat kedua menyerang dengan koprol terlebih dahulu. Sebelum mengayunkan pedang ke perut, kaki dan kepala.

Pesilat pertama membalasnya dengan melompat sambil mundur. Lalu bergulingan di tanah. Baru mengayunkan pedang setelah pesilat kedua maju ke sebelah kanan.

Plak ... pak .. plak .. pak ...

Plak ... pak ... plak ... pak ...

Thomas dan Pedro bertepuk tangan, diikuti Ki Santani.

Peragaan pedang untuk sementara selesai. Ki Santani mengisyaratkan pada asistennya untuk memberi ke sempatan para guru muda dan tua tampil.

Diawali guru muda Samosir. Dengan gayanya yang kalem, dia berjalan beberapa langkah ke tengah lapangan.

Sesaat kemudian dia duduk bersila. Memejamkan mata dengan tangan bersedekap. Tak lama setelah itu  badan Samosir terangkat ke atas.

Meski cuma semeter, karena bergerak ke kanan dan kiri, semua yang hadir merasa takjub. Tak terkecuali Pedro dan Thomas.

"Hebat sekali ya Ki," puji Thomas sambil bertepuk tangan.

"Seumur-umur saya menonton pertunjukan silat, baru kali ini ada pesilat duduk bersila sambil terbang," sahut Pedro.

Dia berkali-kali mengusap bola matanya seakan tak percaya dengan apa yang baru dilihatnya hari ini.

Ki Santani tersenyum. Dia mengucapkan terima kasih atas pujian yang dilontarkan Thomas dan Pedro. Dia hanya berharap akan muncul pesilat-pesilat tangguh di kemudian hari.

"Mari Nak, kita lanjutkan menontonnya," ajak Ki Santani.

Guru silat pertama kembali ke barisan ...

"Guru kedua Ki."

"Ya kita kasih kesempatan yang samalah Nak Thomas. Biar adil."

Ha ha ha ha ...

Guru silat kedua yang tampil bernama Maskur. Usianya sudah kepala lima. Meski sudah terbilang tua, tak kalah dengan yang muda.

Aktif melatih dan mengawasi guru silat muda, pesilat pemula dan pesilat senior.

Setiap hari ada-ada saja ide darinya yang bergulir dan bisa diapresiasikan dalam upaya mengembangkan ilmu silat lebih baik lagi.

Penonton menunggu harap-harap cemas. Apa yang akan diperagakan sang guru. Apalagi saat yang ber sangkutan menelentangkan badan di atas tanah.

"Jurus apa Ki?"

"Kita lihat saja Nak Pedro."

Dua pesilat senior mendekat ke guru mereka. Lalu berbagi posisi. Satu menginjak dada, satunya lagi menindih kaki.

Setelah itu ...

Huaaaa ...

Kedua pesilat terpental ke atas sejauh enam meter. Lalu dengan lincahnya bersalt di udara, dan ketika menyentuh tanah, dalam posisi berdiri dengan kedua kaki tegak lurus.

Plak ...pak ...plak ... pak ...

Plak ... pak ... plak ... pak ...

"Namanya jurus 'Terbang Melayang', Nak Pedro ..."

He he he he ....

"Maaf Ki. Agak lucu saya mendengarnya. Tapi benar-benar nyata," kata Thomas, tak kuasa menahan gelinya.

Demikian pula halnya Pedro. Dia berkali-kali meminta maaf pada Ki Santani atas sikapnya dan rekannya, Thomas.

Usai menyaksikan latihan sekaligus peragaan ilmu silat, Ki Santani mengajak serta Thomas dan Pedro makan bersama para pesilat di ruang makan bersama.

                                                                                  -----
"BISA cepat sedikit tidak?" Tegur Iwan, yang mulai kesal melihat ulah penarik perahu ketek seolah sengaja mem perlambat tarikan kawat seling.

Tali itu memang berbeda. Jadi, tanpa ditarik pun, jika rodanya bergeser, tetap jalan. Tapi sesekali akan nyangkut  manakala tidak ditarik.

Saat itulah si pemilik perahu harus menariknya. "Kebetulan air lagi surut Om. Jadi kita harus sabar," jelas si penambang dengan ramah.

"Ya sudah. Tapi bisa cepat kan?"

"Insya Allah."

Setelah manghabiskan waktu sekitar sepuluh menit, perahu itu tiba di seberang.

Iwan dan kedua temannya bertanya kepada beberapa warga sambil memperlihatkan foto Pedro dan Thomas.

Petunjuk tentang keberadaan Pedro dan Thomas bersembunyi di markas perguruan Al-Husna diperoleh dari pengakuan seorang ibu yang baru pulang dari ladang.

Si ibu dengan penuh rasa takut, karena diancam Iwan cs, megatakan pernah melhat Pedro dan Thomas menuju ke selatan.

"Tidak bohong kan?" Bentak Agus.

"Betul Nak. Ibu tidak bohong," jawab si ibu, bergegas pergi. Hendak dikejar Agus, tapi Iwan melarangnya.

"Kita langsung saja ke selatan," kata Iwan.

Ada sebuah sebuah mobil pick-up menuju ke arah mereka. Iwan pura-pura  menyeberang. Dia berhenti di tengah jalan.

Si pengemudi turun. Iwan 'ecak-ecak' jatuh pingsan dengan alasan kaget campur terkejut melihat ada mobil.

Iwin dan Agus, temannya Iwan, keluar dari semak belukar, lalu mengancam si pengemudi.

"Antar kami. Cepaaaaat!"

"Ke ... Kemana Pak?"

"Ke kampung ujung sana."

"Tapi Pak. Saya tidak lewat sana. Saya ke kiri, sementara kampung yang dimaksud bapak ke kanan," jelas si pengemudi ketakutan.

"Ah, tak usah banyak alesan. Mau atau tidak, haaaa ...?"

"Maaa ... Mau Pak."

"Cepaaaat!"

Karena kurang cepat larinya mobil pick-up, Agus meminta paksa sang sopir menaikkan laju kecepatan mobil.

Si pengemudi mengatakan tak mungkin menambah kecepatan mobil. Maklum, mobil tua.

"Ah sudah. Mau tidak? Saya cincang perutnya!" Ancam Iwan. Memperlihatkan pisau belati yang dia keluarkan dari saku celananya.

"Maaaa ... Maaau Pak."

Sempat zig-zug, mobil pick-up pun melaju dengan sangat kencang tapi bising, mengeluarkan asap hitam dari knalpot. Persis di dekat pos ronda, mobil berhenti.

Iwan, Iwin dan Agus turun bergantian. Begitu ketiganya turun, walau pintu mobil pick up terbuka, si pengemudi langsung tancap gas.

"Heeeegh. Kampret tu sopir." Umpat  Iwan. Dua rekannya buru-buru mendekat karena saat bersamaan beberapa pemuda mendekati mereka dengan sikap ramah.

"Ada apa Mas?" Tanya salah seorang dari mereka.

"Tidak ada apa-apa," jawab Iwan dengan muka masam.

"Kalian mau apa, tanya-tanya segala haaa?" Sergah Iwin. Mulai kesal.

"Enggak apa-apa Mas. Soalnya, setiap orang baru ke kampung kami pasti kami tanyai. Bukan apa-apa. Mana tahu perlu bantuan alamat seseorang," jelas pemuda beralis tebal.

"Iya. Kami mencari alamat seseorang memang, kenapa?" Tantang Agus.

Si pemuda mundur beberapa langkah. Teman di sampingnya angkat bicara ...

"Mungkin kami bisa bantu ..."

"Oke ..." Jawab Iwan. "Tahu enggak kalian alamat perguruan Al-Husna?"

Para pemuda itu saling pandang dan berbisik.

"Tahu tidak?" Bentak Agus.

Belum ada jawaban.

"Tahu tidak?"

"Kami tahu Mas," jawab pemuda berkulit hitam legam tapi bergigi sangat putih.

"Bisa kan antarkan kami kesana?"

"Bisa ... Bisa."

Beberapa di antara pemuda tadi memisahkan diri. Rupanya mereka bergegas menemui Ki Santani. Memberita hu ada tiga lelaki ingin menemuinya.

Pedro dan Thomas yang berada di dekat Ki Santani hanya tekun menyimak. Keduanya baru buka mulut setelah para pemuda tadi diminta Ki Santani kembali menemui rekan mereka.

Di tengah jalan mereka bertemu Iwan, Iwin dan Agus. Dengan diantar beberapa pemuda, ketiganya menuruni tebing  menuju jalan setapak ke padepokan Al-Husna.

Ki Santani meminta para pesilat bersiaga. Siapa pun mereka akan kita hadapi, katanya.

Setengah jam kemudian ...

Kreteeeek ...

Nyeeeet ...

Greeeesh ...

Pintu gerbang dibuka.

"Silakan masuk Tuan," ucap para pesilat pemula dengan ramah.

Dasar tak tahu diri. Bukannya membalas dengan sikap ramah dan sopan. Sebaliknya ketiga anak buah Mayor Nawi ini justru dengan angkuhnya mengajak berantem para pesilat muda usia itu.

                                                                         
                                                                          -----
KEPADA Ki Santani, Iwan, Iwin dan Agus menanyakan keberadaan Thomas dan Pedro.

Namun, sebelum menjawab pertanyaan ketiga tamunya, Ki Santani meminta penjelasan kenapa mencari Pedro dan Thomas.

"Mereka berdualah yang membunuh Panglima Tertinggi Jenderal Lutfi, Ki." Ujar Iwan dengan suara tinggi. Tak sedikit pun ia merasa gentar berhadapan dengan Ki Santani.

"Anda punya bukti?"

"Kami tak bawa bukti, Ki. Kami hanya menjalankan perintah Bos," sahut Iwan, agak merendah suaranya.

"Siapa Bos kalian?"

"Mayor Nawi Ki," jelas Agus, tak mau ketinggalan ikut bicara. Sejak tadi dia mau ngomong, cuma keduluan dua temannya ....