Serial Ki Ogan
Pulau Harimau (5)
Wak Amin
"EEEEEM ..."
"Anda kenal Bos kami Ki?" Tanya Iwan, berharap kenal sehingga dengan mudah mengajak serta menemukan dan menangkap Pedro serta Thomas.
"Tidak. Tidak sama sekali," jelas Ki Santani.
"Baiklah. Tapi apa anda tahu keberadaan mereka berdua Ki?"
"Tidak. Maafkan saya. Saya tidak tahu keberadaan mereka," jawab Ki Santani.
Iwan, setelah mendengar jawaban Ki Santani barusan, naik pitam dan bermaksud memukul lelaki tua di hadapannya ini.
Namun hal itu tidak terwujud karena secara bersamaan tiga pesilat senior mendekat dan melindungi Ki Santani dari rencana jahat Iwan cs itu.
"Sebaiknya kalian bertiga pergi saja dari tempat ini. Ini perintah guru kami," terang pesilat bertahi lalat.
"Kalau kami tidak mau, kenapa memangnya?" Tantang Iwan.
"Kami akan lapor ke kepala kampung," jawab si pesilat.
"Sekali lagi kami ulangi. Kalau tak mau pergi dari sini, mau apa?"
"Kami paksa usir kalian bertiga," kata si pesilat bermata sipit.Sudah siap meladeni tantangan Iwan.
"Coba kalau berani?"
"Sudah .. Sudah. Begini saja." Ki Santani menengahi. "Jika kalian ingin benar-benar menantang saya, saya persilakan. Tapi dengan syarat, kalian harus enyah dari tempat ini jika kalah. Sebaliknya pun demikian. Jika kalian bertiga menang, saya persilakan kalian untuk tidak pergi dari sini ..."
"Baik Ki. Kami ladeni tantangan anda," kata Agus penuh percaya diri mampu menaklukkan Ki Santani.
Ketiganya menuju tanah lapang bersama Ki Santani, berikut para pesilat anak didiknya.
Tak kepalang tanggung. Beberapa pesilat menabuh gong sebagai tanda dimulainya duel seru itu.
Goooong ...
Gooooong ...
Gooooong ...
Agus lebih dulu tampil ke depan. Dia memulai ancang-ancang dan memperagakan beberapa jurus.
Bagi pesilat Al-Husna, jurus yang dipertontonkan Agus tidak istimewa. Mereka kini justru menunggu harap-harap cemas, jurus apa gerangan yang bakal diperagakan suhu mereka, Ki Santani.
Ciyuuuut ...
Melompat sambil gingkang mengarah ke dada Ki Santani. Dengan tenangnya dia tahan telapak kaki itu. Dia putar, pelintir. Agus pun jatuh berguling-gulingan di tanah.
Bruuuuuk ...
Hua ha ha ha ...
Merasa ditertawakan setengah mengejek, darah Agus mendidih. Ingin rasanya dia melumat habis Ki Santani.
Plak ... pak ... plak ... pak ...
Plak ... pak ... plak ... pak ...
Tepuk tangan beriringan. Agus memulai jurus baru. Kalau tadi gingkang, sekarang salto beberapa kali sebelum melepaskan pukulan ke arah muka Ki Santani.
Tapi, apa yang terjadi kemudian?
Gedebuuug ...
Auuuugh ...
Ha ha ha ha ...
Agus kembali terjatuh. Saat saldo terakhir, kepalanya menyentuh tanah dan mengerang kesakitan.
Beberapa pesilat coba hendak menolong, tapi Agus menolaknya.
"Tak usah. Saya bisa berdiri sendiri," katanya dengan nada marah bercampur kesal dan malu dilihat orang banyak.
Buuuug ...
Jatuh lagi.
"Aaaaaagh!" Teriaknya, menepis tangan Iwan, yang bermaksud menariknya berdiri.
"Aku bisa kan?"
"Ya ya. Teruskanlah ...!"
Agus memandang tajam Ki Santani. Kali ini dia mengeluarkan pisau belati. Semua pesilat hendak men cegahnya. Kuatir dengan keselamatan Ki Santani.
"Majulah Nak!" Kata Ki Santani dengan tenang. Sebelumnya dia meminta siswa latihnya untuk memberi kesempatan padanya meladeni tantangan Agus.
Ciyeeeeet ....
Mata pisau itu berulangkali bergerak dengan cepat ke kanan, kiri, depan dan belakang. Mengikuti kemana gerak arah menghindar Ki Santani.
Semua yang menyaksikan, terutama Iwan dan Iwin, berharap Agus berhasil mencenderai Ki Santani. Sangat senang bila lelaki tinggi semampai itu mampus kena tikaman pisau belati.
5
"ADUH ... Aduh ... Ampun Ki. Ja ngan Ki." Rengek Agus sambil menahan rasa sakit.
Rengekan ini membuat mereka yang menonton tertawa geli. Tak habis pikir, badan gede, melawan pula, eee mau 'dipeliteske' malah menjerit.
Setelah mengaku kalah, Agus akhirnya minggir secara teratur. Dia persilakan Iwin yang maju.
"Kamu sajalah yang duluan, Wan." Iwin ingin melihat seberapa kuat Iwan meladeni Ki Santani. Jika bisa mengimbangi dia akan maju nantinya.
Tapi sebaliknya jika Iwan babak belur di ronde awal, lebih baik menyerah sebelum duel.
"Dasar pengecut." Iwan marah. Tapi Iwin tak balas marah. Dia hanya melihat Agus yang masih mengaduh kesakitan setelah terkena pukulan maut Ki Santani.
"Aku ingatkan Ki. Saya bukan dia," ucap Iwan, bak pendekar turun gunung, "Yang hanya jadi permainan. Saya tak akan membiarkan Ki mempermalukan saya."
"Siapa yang mempermalukan. Dia sendiri yang bikin malu ..." Balas Ki Santani.
Bhua ha ha ha ....
"Ki boleh menjawab tidak. Tapi faktanya teman saya dibikin bertekuk lutut. Apa itu bukan dipermalukan namanya Ki?"
"Bukanlah ..."
"Lalu apa?"
"Memalukan ..."
Hua ha ha ha ...
"Kampret. Kutu busuk. Rasakan tendangan geledek ini ..."
Iwan memperlihatkan jurus tendangan halilintar dengan melompat sambil menendang. Tendangan semakin kencang mendekati lawan.
Druuuug ...
Traaaaak ...
Cepuuuuk ...
Traaaaak ...
Dengan tenang Ki Santani menghindari tendangan geledek itu. Karena berkali-kali tidak mengenai sasaran, hanya menendang angin, Iwan mulai kepayahan.
"Nafas tempe," celetuk salah seorang pesilat pemula. Sedangkan teman di sebelahnya hanya tersenyum geli.
"Bagaimana mau duel beneran kalau cuma segitu kemampuan kakak itu." Komentar pesilat pemula bermata biru.
Ketika Iwan melanjutkan kembali duel, para pesilat tampak senang. Mereka hanya ingin melihat jurus apakah yang akan diperagakan tamu asing itu.
Hiyaaaaat ...
Koprol dan ...
Cuwiiiis ...
Deeeep ...
Ki Santani dengan cepat mengelak ketika Iwan menghujamkan pisau belati itu ke bahu kanannya. Pisau itu kepunyaan Agus.
Ki Santani sengaja membiarkan pisau belati itu tergeletak di tanah. Iwan mengambilnya, yang tanpa sengaja melihat benda tajam bermata dua itu.
Huuup ...
Dia arahkan pisau belati itu ke leher Ki Santani. Sangat cepat. Secepat anak panah yang terlepas dari busur nya.
Tak kena. Ki Santani tertawa.
"Hanya seperti ini kemampuanmu wahai anak muda?" Ki Santani berhasil menepis pisau belati itu, terjatuh ke tanah sebelum ditendangnya ke barisan pesilat pemula. Diamankan dua pesilat di belakang barisan.
"Jangan sombong dulu Ki. Itu belum seberapa ..."
"Memang ada lagi? Keluarkanlah seluruh kemampuan kamu. Biar aku lihat. Apakah cukup ampuh untuk mengalahkanku. Tapi kalau cuma jurus kacang goreng lebih baik tak usahlah. Nanti kamu saya permalukan ..."
Hua ha ha ha ....
"Coba lihat Ki!"
Iwan memukul tanah. Bergetar memang. Saking kuatnya pukulan itu, tanah di sekitarnya membentuk garis-garis. Tapi tidak jelas untuk apa pukulan itu ia daratkan.
"Itu mah jurus cuci piring," ledek Ki Santani.
Hua ha ha ha ...
Merasa diledeki, Iwan tetap melanjutkan jurus yang barusan ia peragakan.
Setiap tanah yang ia pukul bergetar dan membuat mereka yang berada di dekatnya, kalau tidak melompat, akan jatuh berguling-gulingan di tanah.
Traak ...
Adaaaw ...
Pukulan Iwan kali ini mengenai batu. Saking kerasnya batu dan kuatnya pukulan, Iwan terpental beberapa meter ke belakang.
Ha ha ha ha ...
"Kenapa anak muda?"
Iwan tak menjawab pertanyaan Ki Santani. Bukan sombong. Tapi dia sendiri kesakitan. Meraung-raung sambil memegang tangannya.
Iwin dan Agus berinisiatif menolong rekannya itu. Digosok-gosok dan ditiup, namun menolak diobati Ki Santani.
"Kami sudah terbiasa seperti ini, Ki." Kata Agus dengan pongahnya.
Ki Santani meminta siswa latihnya diam di tempat. Tak usah bereaksi sambil menunggu keputusan Iwan. Mau terus berduel atau dihentikan.
"Tak usah malulah mengaku kalah. Sebaiknya kita pergi saja dari sini," saran Iwin.
Menghadapi lawan sekaliber Ki Santani sama artinya menyerahkan diri untuk dipukuli dan dihabisi.
-----
SEPERGINYA Agus, Iwan dan Iwin dari Padepokan Al-Husna, membuat Ki Santani lega. Namun tidak bagi Pedro dan Thomas. Keduanya berniat untuk pergi karena tak ingin merepotkan Ki Santani dan anak didiknya.
"Izinkanlah kami pergi, Ki. Kami yakin suatu saat nanti, entah esok atau lusa, Agus dan dua rekannya kembali lagi kesini," kata Pedro.
"Kenapa kamu merasa yakin mereka akan kembali lagi Nak Pedro?"
"Pertama, mereka tidak mengaku kalah. Artinya, ada atau tidak adanya kami, mereka tetap akan menuntut ba las. Kedua, mereka sepertinya tidak yakin dan percaya dengan penjelasan Ki Santani bahwa kami berdua tidak ada di padepokan ini. Ketiga, ini yang saya kuatir kan, sekiranya ada kaki tangannya di kampung ini, bisa jadi dia menyuruh beberapa warga kampung mengintai kami. Jika intaian mereka berhasil, tentu Ki Santani sudah bisa menduga apa yang bakal terjadi," terang Pedro.
"Mereka juga yakin, selain di Padepokan Al-Husna, tidak ada tempat lain bagi kami.untuk berlindung," timpal Thomas.
"Betul Ki," lanjut Pedro, "Kami ingin Ki dan anak didik Ki termasuk Perguruan Al-Husna ini porak poranda. Seti daknya, ketika kami sudah tidak ada lagi di sini, Ki bisa mempersilakan mereka memeriksa setiap sudut padepokan ini ..."
Ki Santani belum memberikan jawaban. Dia masih berpikir dan mencari sulusi terbaik. Bukan soal mengharus kan mereka pergi atau tidak. Tapi mencarikan tempat yang aman dan layak buat Pedro dan Thomas sekiranya tetap.bersikukuh meninggalkan padepokan ini.
"Bagaimana Ki?" Tanya Pedro dan Thomas hampir berbarengan.
"Baiklah. Pada prinsipnya, saya setuju dalam artian tak bisa menghalangi kalian berdua untuk meninggalkan perguruan yang saya pimpin ini. Tapi kalau boleh tahu, hendak kemana tujuan kalian selanjutnya?"
"Belum ada Ki. Sebab, yang penting bagi kami sekarang ini adalah pergi dahulu dari padepokan ini. Maka itu, sekalian kami minta bantuan Ki, jika tidak berkeberatan ..."
"Bantuan apa kira-kira Nak Pedro dan Thomas?"
"Tempat kami bersembunyi sementara Ki," terang Thomas. "Yang sulit terlacak kelompok bersenjata Asy-Syifa."
"Sebentar ..."
Ki Santani masuk ke ruangan kerjanya. Dia membolak-balik lembaran buku diary. Melihat daftar nama dan ala mat rekan-rekannya sesama pesilat yang kini punya usaha sampingan sebagai pemasok sembilan kebutuhan bahan pokok.
Dia tersenyum puas setelah melihat sebuah nama di bagian atas lembaran ketiga buku diary.
"Ini yang pas," ucapnya dalam hati. Dia bawa buku diary itu. Menemui Pedro dan Thomas di ruang utama.
"Ki?"
"Ada kayaknya Nak Thomas. Mudah- mudahan beliaulah orang yang cocok buat kalian ," jawab Ki Santani.
"Siapakah dia, Ki?" Tanya Pedro, sudah tak sabar mendengar nama orang dimaksud. Pesilatkah dia seperti halnya Ki Santani, pengu saha atau orang biasa.
"Pesilat dan pengusaha," ujar Ki Santani. Namanya Ki Ogan.
"Pasti hebat ya Ki?"
"Nanti kalian bisa lihat dan buktikan sendiri. Eeeem ... Oh ya, sebelum kalian berdua berangkat, saya titip ini pada beliau. Alamatnya ada tertera di amplop ini," kata Ki Santani.
Ki Ogan adalah teman Ki Santani saat keduanya sama-sama menuntut ilmu silat. Mereka berasal dari kota yang berbeda.
Sekembalinya dari belajar ilmu silat pada seorang guru silat kesohor di negeri ini, mereka kembali ke kampung halaman masing-masing dan mendirikan padepokan silat.
Namun tidak semua dari pesilat itu mendirikan padepokan. Ada juga bekerja sebagai tenaga security di peru sahaan perkebunan dan membuka ladang persawahan.
Kendati berbeda profesi, mereka tetap tidak melupakan ilmu silat. Tidak tenaga, uang dari hasil bekerja dan usaha mereka sisihkan untuk membantu tumbuh berkembangnya dunia persilatan di negeri ini.
Sementara Ki Ogan sendiri memulai usahanya dengan berjualan beras, sayur mayur dan makanan. Mulai dari modal kecil hingga sedang.
Tak disangka, usahanya maju pesat. Dia membuka cabang usaha di beberapa tempat dengan menunjuk orang kepercayaannya untuk memimpin dan mengelola usaha tersebut.
"Usaha yang beliau jalani macam-macamlah. Mulai dari ikan asin, ikan laut dan sungai dan ikan dalam kaleng. Juga kalau tidak salah beliau buka usaha konveksi dan kebutuhan sembilan bahan pokok," jelas Ki Santani.
"Pasti kaya raya ya Ki?"
"Betul. Tapi orangnya sederhana. Biasa hidup sederhana. Saya pernah diundang beliau ke kediamannya. Lumayanlah. Tapi beliau sendiri siang hari jalan kaki mengecek pabrik ikannya."
"Tolong doa kan kami ya Ki, agar selamat sampai tujuan," harap Pedro dan Thomas.
"Insya Allah .."
----
SEPERGINYA Pedro dan Thomas menuju kediaman Ki Ogan, sore harinya Agus cs bersama para pemuda kam pung mendatangi Perguruan Al-Husna.
Ki Santani yang baru saja selesai menunaikan Shalat Ashar berjamaah dengan para siswanya kaget karena tak menyangka didatangi Agus dan pemuda setempat.
Praaaak ...
Jeguaaaar ...
Pintu gerbang ditendang. Beberapa pesilat pemula tampak mendekat. Dengan sabar mereka menanyakan mak sud kedatangan Agus cs yang kedua kalinya ke markas Al-Husna.
"Mana Bos kamu?" Tanya Iwin dengan angkuhnya. Di hadapan siswa didik Ki Santani, Iwin menjilat-jilat mata parang sambil tersenyum sinis.
"Bilang sama Bos mu. Keluar cepat!" Bentak Iwin.
Tak ingin ribut, satu dari empat pesilat berlari menemui Ki Santani yang ternyata sudah bersiap meladeni tanta ngan Agus dan beberapa temannya yang marah dan berniat merusak bangunan Al-Husna berikut seisinya.
"Assalamualaikum .." Ucap Ki Santani dengan ramah.
"Waalaikum sayang ..." Jawab Agus yang disambut tawa mengejek rekan-rekannya yang lain.
"Bukan sayang, tapi salam." Sahut Iwan.
"Bodoh amat," tukas Agus. Dia memandang tajam Ki Santani dengan penuh dendam dan kebencian.
"Hei Pak Tua. Lu jangan gee er dulu ya. Kemarin-kemarin itu kami memang kalah lawan elu. Tapi sekarang ... Hei manusia beruban. Kami akan menghabisimu." Ancam Agus.
Dengan tenang Ki Santani menjawab ...
"Saya tak ingin membuat masalah pada kalian. Kalian masih muda. Kalian hanya menghabis-habiskan waktu saja datang kemari. Tak ada gunanya. Tak ada faedahnya. Lebih baik kalian kerja. Banyak pekerjaan menunggu anda. Mulai dari bekerja di pabrik, menggarap sawah ladang hingga jadi tenaga kerja di luar kota dalam dan luar negeri."
"Hei Pak Tua. Kami tak butuh khutbah darimu. Mengerti?" Hardik Iwan.
"Saya tak bermaksud mengkhutbahi kalian. Saya hanya mengingatkan anak-anak kampung saya ini. Sebagian saya kenal. Sebagian lagi lupa-lupa ingat. Sayangilah umur kalian. Mumpung masih muda. Bekerjalah. Bantu orang tua kalian. Senangkanlah hati mereka. Berbaktilah kepada mereka. Jangan susahkan hidup mereka yang sudah susah. Mumpung mereka masih hidup. Mumpung mereka masih ada di dekat kalian. Kembalilah ke jalan yang benar dan diridhai-Nya. Tak usah ikut-ikutan orang yang tidak benar," jelas Ki Santani dengan suara lantang dan berapi- api.
Agus juga mengingatkan, "Jika Pak Tua bermain api dengan kami, kami akan bermain besi. Mengerti?"
"Mengerti. Kami mengerti. Tap terus terang, orang yang kalian cari itu tidak ada di perguruan ini " terang Ki Santani ...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar