Serial Ki Ogan
Pulau Harimau (6)
Oleh Wak Amin
"SUDAH ... Biar kami periksa sendiri," ucap Iwan.
"Ayo kawan-kawan," ajaknya pada pemuda kampung, agak segan di antaranya. Namun karena sudah datang dan ikut bergabung, terpaksa mengiyakan ajakan Iwan memeriksa setiap ruangan yang ada di lingkungan Perguruan Al-Husna.
Ki Santani membagi tugas. Mereka meminta siswa didiknya menyebar di empat kelompok mengikuti empat kelompok Agus cs yang memencar. Sedangkan Ki Santani menemani Agus dan Iwan.
Setiap ruangan mereka masuki. Tapi Pedro dan Thomas yang dicari tidak diketemukan. Agus putus asa dengan melampiaskan kemarahan nya pada para pemuda kampung yang tampak bengong dan salah tingkah.
"Ada tidak?"
"Tidak ada, Kak Agus. Semua ruangan sudah kami masuki. Tapi yang kita cari tidak ada," jelas si rambut keriting.
"Kamu?"
"Sudah juga, Kak. Tapi yang kami dapatkan cuma ..." Si rambut lurus memperlihatkan baju kaos dalam buruk.
Ha ha ha ha ...
"Kalau itu banyak di pasar " celetuk Iwan.
Mereka belum juga beranjak pergi. Walau Pedro dan Thomas tak juga diketemukan. Pasalnya, Agus menelepon Sang Bos, tapi tidak berhasil karena ada gangguan jaringan telekomunikasi.
Mereka baru beranjak pergi lepas Magrib. Sempat terjadi kontak sebentar dengan Sang Bos. Mayor Nawi menginstruksikan untuk segera menemui Pedro dan Thomas.
"Cari ke kampung lain, paham?"
"Paham Bos," jawab Agus.
"Ada kendala?"
"Ada Bos."
"Apa? Cepat katakan ...!"
"Orang yang kita cari ini benar-benar lihai Bos."
Hua ha ha ha ...
"Baiklah. Nanti kabari perkembangannya, termasuk lokasi dimana kalian berada. Kita akan kirim bantuan secepatnya. Oke?"
"Makanan Bos?"
"Husssy ... Perut saja yang kau pikirkan. Jangan makan sebelum yang dicari dapat. Mengerti?"
"Bisa mati Bos kalau kita tidak makan."
"Kuburkan kalau mati."
Iwan yang berada di dekat Agus tertawa ngakak. Lucu, bisiknya pada teman dekatnya itu.
"Lucu apa?" Tanya Agus.
"Masa kita yang mati, lalu kita disuruh ngubur sendiri .."
Bhua ha ha ha ...
6
SEHARI menempuh perjalanan darat dan laut, Pedro dan Thomas akhirnya tiba di kediaman Ki Ogan, pimpinan Perguruan Al-Kalam.
Ki Ogan menyambut keduanya dengan ramah. Mereka diajak mengaso sejenak di belakang rumah.
Meski tidak mengenal lebih dekat, hanya lewat cerita Ki Santani, Pedro dan Thomas tidak merasa canggung, apalagi segan karena Ki Ogan lebih banyak tertawa dan bercanda ria.
"Kalau kita banyak bercanda, insya Allah awet muda," kata Ki Ogan seraya menambahkan, "Tapi jangan kelewatan. Lupa yang lain."
Ha ha ha ha ...
Hening sejenak.
"Kami bermaksud ..."
"Sudah .." Potong Ki Ogan. "Saya sudah baca isi surat teman saya, Ki Santani. Cuma ada beberapa hal yang hendak saya tanyakan."
"Silakan Ki," kata Pedro. "Insya Allah, semua pertanyaan akan kami jawab berdua."
"Pertama, sampai kapan kalian berdua begini terus. Berlari menghindari kejaran kelompok bersenjata Asy-Syifa. Ini yang pertama. Kedua, kenapa tidak lapor saja kepada pihak berwajib. Terakhir, atau yang ketiga, apa yang bisa kami bantu buat kalian berdua?"
"Baiklah Ki. Mungkin rekan saya, Thomas lebih dulu yang menjelaskannya."
"Terima kasih. Begini Ki. Untuk jawaban pertama, saya dapat jelaskan, kami berlari bukan karena kami tak be rani Ki. Sebab, kami tahu pelarian kami ini banyak menimbulkan masalah bagi orang lain. Kami juga sudah mulai capek. Lelah. Kami sebenarnya ingin segera mengakhiri pelarian ini. Tapi, setelah kami pikir, menyerahkan diri juga percuma. Lebih gawat lagi. Kami pasti dihabisi. Karena kami adalah saksi kunci tewasnya Jenderal Lutfi. Orang hebat di negeri ini .."
"Kedua, biar saya yang menjawabnya Ki," sahut Pedro. Merasa haus, air minum putih yang baru saja di sajikan salah seorang siswa latih Ki Ogan, dengan cepat diminum.
Segar terasa kerongkongan ini ...
"Kenapa kami tidak melapor kepada pihak berwajib, karena situasinya belum aman untuk melapor saat ini. Pun, menurut hemat saya, kelompok Asy-Syifa ini sebuah kelompok yang terorganisir dan memiliki jaringan yang amat luas Bukan cuma orang pemerintahan mereks kuasai, aparat penegak hukum juga sudah berhasil mereka bungkam. Jadi Ki, kalau kami melapor pada pihak berwajib, justru saya mau bertanya, maaf beribu maaf ya Ki, kepada Ki Ogan, pihak berwajib yang mana. Jika kami melapor misalnya, diproses tidak. Lalu keselamatan kami bagaimana," terang Pedro.
"Pertanyaan ketiga, saya yang jelaskan Ki Ogan," ujar Thomas. "Kami ingin semua orang, atau paling tidak yang kami temui dan minta bantuan, tolong perhatikan kami lah. Kami sangat senang jika dibantu, apalagi diberi solu si. Tapi jika tidak, tidak apa-apa jugalah. Yang penting sebagian orang sudah tahu apa yang kami hadapi saat ini ..."
Karena hampir tengah hari, Ki Ogan menghentikan sementara dialog dari hati ke hati ini. Dia mengajak dua tamu istimewanya hari ini untuk santap siang bersama.
Kendati terkesan mendadak, kepada tamunya Ki Ogan selalu telaten memperhatikan. Dia melayani sebaik-baiknya.
Sebab, tanpa memandang status dan jabatan, tamu itu adalah raja. Harus disambut dan diperlakukan dengan amat baik dan manusiawi.
Seusai santap siang, Ki Ogan mengajak Pedro dan Thomas menuju mushalla di ruangan tengah. Mereka menu naikan shalat Zuhur bersama, dilanjutkan diskusi ringan, sehingga penuh sesaklah mushalla ini ...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar