Serial Ki Ogan
Pulau Harimau (17)
Oleh Wak Amin
"OKE. Sore nanti siap?"
"Siap Bos. Tapi kalau boleh tahu, tujuan kita kemana?"
"Pulau Harimau, bagaimana?"
"Eeeem ... Saya baru kali ini men dengar nama itu Bos. Seperti apa kah
Pulau Harimau itu? Besar dan luaskah? Dan, ada manusia kah ya ng hidup
dan menetap disana?"
"Belum ada, kayaknya ..."
"Jadi?"
"Kita-kita inilah yang bakal meng huninya. Meski tak sebanding de ngan
luasnya Pulau Harimau, tapi sebagian dari kita punya keluarga kan. Ada
yang baru nikah, pasti akan lahir generasi baru. Anak cucu ..."
"Apa sudah dipastikan aman Bos? Maksud saya, sebelum ini kan be lum
seorang manusia pun yang menghuni pulau itu. Tentu saja banyak kejadian
aneh dan mistis disana ..."
"Kamu takut Paul?"
"Enggak jugalah Bos. Tapi biasa nya, namanya juga manusia, kalau
sekiranya menemukan hal-hal yang aneh, pssti taky dan akhirnya bisa jadi
stres. Saya kuatir akan meng ganggu anggota kita."
"Tenang sajalah. Nanti kita bawa juga orang pintar. Sekarang berita hukan yang lain. Kita siap-siap se belun terlambat."
Tentu, di satu sisi pengungsian yang dilakukan kelompok bersenjata
As-Syifa ini untuk menghindari ke mungkinan terjadinya bentrokan yang
berujung pada pertumpahan darah.
Pada sisi lain banyak di antara ang gotanya, terutama yang senior dan
sudah hidup enak, merasa kebera tan. Tapu mereka tak bisa berbuat
apa-apa. Ini adalah keputusan ter tinggi Asy-Syifa.
'Melawan' perintsh Sang Bos berarti akan menanggung banyak risiko. Tak
seorang pun anggota yang da pat membatalkan, apalagi sampai membela
mati-matian rekan mere ka yang kena hukum dan siksa.
Daripada beratnya menanggung beban penderitaan, lebih baik memilih
untuk tidak 'melawan arus.' Mereka kompak menuruti apa pun perintah
Mayor Nawi. Karena mereka percaya setiap perintah pasti sudah dipikir
matang dan masak-masak sebab akibatnya.
Mayor Nawi akan merasa senang jika omongannya didengar. Pada setiap
kesempatan ia selalu mengajak anggota kelompoknya untuk loyal dan
setia pada pimpinan. Bertanggung jawab atas maju mundurya Asy-Syifa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar