Cerita untuk Anak
Soleh (4)
Oleh Wak Amin
KEESOKAN harinya ...
Sepulang sekolah ...
Jamilah dan Latifah kaget bukan kepalang melihat ban sepedanya kempes.
"Gimana ini Latifah?" Tanya Jamilah, seolah hendak menangis.
"Tenang sajalah. Yuk aku antar kamu pulang," kata Latifah.
"Bagaimana dengan sepedanya?"
"Sudah. Enggak apa-apa. Biar aku yang bawa," kata Latifah. Dia buka
kunci setang sepeda, lalu membawa itu sepeda dari belakang sekolah.
"Aku ikut ya!"
"Boleh."
Sampai di depan pintu gerbang sekolah, Kadir yang sudah tiba lebih
dulu di rumah, lalu kembali lagi ke sekolah, menghentikan sepeda
motornya.
Ditemani Lukman, Kadir bermaksud ikut mendorong itu sepeda mini.
"Tidak usah Dir. Biar kami berdua saja," jawab Latifah.
"Nanti capek. Kalian berdua kan perempuan. Kami laki-laki. Tau sendirilah. Ya enggak Lukman?"
"Betul sekali. Betul apa yang barusan dikatakan Kadir itu Latifah, Jamilah .."
"Atau begini saja. Jamilah ikut saya, Latifah sama Lukman berdua mendorong sepeda," usul Kadir.
"Enggak mau ah. Itu namanya enak di kamu Dir. Enggak enak di aku. Tul kan Jamilah?"
"Iya Dir. Lagian ini kan sepeda aku. Walau bagaimana pun aku harus bertanggung jawab karena ini sepeda aku," jelas Jamilah.
Jamilah tampak gugup melihat Kadir nekat ingin mengajaknya pulang pakai
sepeda motor. Dia menolak karena tak ingin dipisahkan dari Latifah.
Ketika Lukman dan Kadir tengah berbisik, datanglah Soleh dan Nawas.
Teman satu kelas tapi jarang masuk sekolah karena seringkali sakit.
Betapa gembiranya Jamilah melihat kedatangan Soleh yang secara
kebetulan itu. Begitu juga dengan Latifah. Dia tak henti-hentinya
tertawa geli melihat Nawas berjoget dengan kaki sebelah.
Lukman dan Kadir, keduanya merasa tidak senang dengan kehadiran Nawas dan Soleh.
Emosi mereka terbakar ...
"Kenapa kamu joget-joget? Menyindir aku ya?"
Kadir tersinggung berat. Hampir saja dia 'menggocoh' Nawas yang sudah
siap menangkis sekiranya pukulan tangan kanan itu jadi dilakukan.
Jeritan minta tolong Jamilah dan Latifah didengar beberapa pemuda yang
baru saja pulang dari mengontrol tanaman padi mereka yang sebentar
lagi akan dipanen.
"Kak, tolong Kak!" Rengek Latifah.
"Iya Kak. Merela hendak berkelahi," sahut Jamilah.
Empat pemuda tadi mendekati Lukman dan Kadir. Ketika ditanya kenapa mau berkelahi, keduanya balik menyalahkan Soleh dan Nawas.
Untung saja, pemuda yang rata-rata masih berkepala dua ini tak mudah
terprovokasi. Sebelum memutuskan siapa yang salah, mendengar terlebih
dulu keterangan Soleh dan Nawas, serta kesaksian Jamilah dan Latifah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar