Senin, 30 April 2018

Mawar Mewangi (5)

Serial Mafia

Mawar Mewangi (5)
Oleh Wak Amin

 

TAUCO memberanikan diri mendekat ke mobil Rahman. Dia amati. Depan, belakang dan bagian dalam mobil yang miring sebelah, ke kanan.

"Enggak ada Bos," kata Tauco.

Taici memundurkan mobilnya, berhenti di depan mobilnya Rahman.

"Benar enggak ada Co?" Tanya Taici penasaran.

Cepat sekali mereka berlari.

Kemana ya?

"Itu mereka Bos Ci." Tunjuk Taisek ke sebelah kanan. Sebuah mobil truk berhenti. Keduanya melompat naik tanpa sepengetahuan pengemudi truk.

"Bangsat. Kita tertipu. Came on!" Taici menyalakan mesin mobil. Me lesat cepat mengejar truk tanpa muatan itu.

Dari bak belakang truk, Rahman mengintip mobil yang disopiri Taisek, mulai mengejar.

"Sementara aman, San." Kata Rahman.

Sementara pemilik sekaligus sopir truk, teman di sebelahnya menghitung sejumlah uang kertas lima puluhan ribu, bersiul riang karena setelah ini mereka akan pulang ke rumah.

"Jangan lupa Bro." Sang sopir mengingatkan teman di sebelahnya. "Anakmu lima. Jangan kau habiskan uangmu di minuman saja. Kasihlah anak dan isterimu. Mereka juga mau makan, minum, pakaian dan banyaklah. Kau pasti tahu itu ...."

"Tahulah Bro. Makanya aku hitung dulu duitku ini ..."

"Buat apa?"

"Dibagi-bagi Bro. Kalau saya kasih kan semuanya ke isteriku, pasti habislah. Padahal keperluan kita ini kan bukan buat makan saja."

"Benar kamu Bro. Lalu ...?"

"Ya, aku bagi- bagilah Bro. Sekian untuk belanja dapur, sekian untuk keperluan anak sekolah, sekian juga untuk bayar listrik dan sisanya, kalau masih ada, ditabung buat jaga-jaga," kata teman si sopir.

"Pintar kamu Bro. Tak percuma aku punya teman seperti kamu. Tidak merokok, tapi ngopi ..."

Ha ha ha ha ...

Door ...

Door ...

Dooor ..

Door ...

Terperanjat juga sang sopir truk. Dia menoleh ke belakang, melihat ke kaca spion. Sebuah mobil mendekat dan memaksa sang sopir  menghentikan mobilnya.

Karena merasa tak punya musuh, takut dan baru kali pertama truk ditembaki dan dipaksa berhenti bukan oleh petugas, sang sopir menepikan truknya.

Syuuut ...

Dreeegh ...

Sreeet ..

Taici, Tauco, Tainen dan Taisek, turun dari mobil. Taici menginterogasi sopir truk dan temannya, tiga cs nya naik ke bak truk.

Kecele lagi ...

"Bos Ci. Tak ada ..." Kata Tainen. Sesaat setelah melompat dari bak truk.

"Apa?"

Marah besar. Sang sopir jadi sasaran. Digebuki berkali-kali. Setelah itu kabur karena dilihat banyak orang. Masih untung tak dihakimi massa.

"Cepat San ...!"

Dia tarik tangan Santi. Dinaikkan ke sepeda motor. Jalanan ramai. Senja sudah merambat malam.

Lampu-lampu jalan mulai menyala. Sayup-sayup terdengar suara biduanita mendendangkan tembang lawas dari sebuah kafe di pinggir jalan.

Para musisi jalanan mulai beraksi. Rumah makan bertenda mulai di datangi pembeli. Mall-mall mulai ramai dengan berbagai aktivitas.

"Aku antar kamu dulu ya San. Tak keberatan kan?"

"Tidak. Malah senang ..."

"Setelah itu baru ke rumahku, dan kita pikirkan bagaimana sebaiknya kita bersikap dan bertindak .."

Tidak ada komentar:

Posting Komentar