Senin, 30 April 2018

Mawar Mewangi (6)

Serial Mafia

Mawar Mewangi (6)
Oleh Wak Amin


 

SEBELUM menemui Sang Bos, Taici cs singgah sejenak malam harinya di sebuah warung minuman. Waru ng itu tak begitu besar.

Tapi banyak juga yang mampir. Tak pernah sepi. Tidak tua, muda usia pun ingin mencoba, atau sekadar menghabiskan malam sambil menikmati beragam minuman. Mulai dari teh, kopi hingga botolan selain makanan ringan.

Taici cs mengambil tempat di pojok sebelah kanan. Mereka memesan kopi dan beberapa botol minuman bersoda serta kue.

"Kita pasti kena marah Bos." Taisek mengawali pembicaraan. Sejak masuk warung menyerupai kafe ini mereka berempat belum bicara sepatah kata pun.

"Tahan-tahankan sajalah," kata Tainen.

"Kalau menurutku, kita akui sajalah," ujar Taisek.

"Mengakui bagaimana?" Taici tak habis pikir. Masa sudah capek-capek dan hampir dapat mau menyerah. Menganggap Rahman dan Santi jauh lebih hebat.

"Maksudku Ci. Kita akui saja bahwa yang kita kejar ini hebat dan licik. Dengan begitu mudah-mydahan Bos bisa mengerti kita dan yang pasti Bos tidak akan memarahi kita."

"Menurut saya," potong Tauco, "Apa yang dikatakan Taisek itu ada benarnya juga, Bos Taici. Ini demi ke selamatan kita. Sebab, saya kuatir, kalau misalnya Bos  kita marahnya sudah sampai puncaknya, bisa-bisa kita ..."

"Kenapa?"

"Tidak dipecat ya didoor ..." Jelas Tauco terus terang.

Hampir sejam mereka tukar pikiran tentang nasib ke depan pasca gagalnya menangkap dan menghabisi Rahman serta Santi.

Sementara di kantor kepolisian, Let nan Komar baru saja selesai menerima telepon dari koleganya di luar kota.

Tidak ada perbincangan serius kecuali keinginan untuk bertemu karena sudah hampir setahun tidak bersua.

Tak lama setelah itu, dia kedatangan Rahman, sendirian tanpa di temani Santi. Keduanya terlibat obrolan serius. Empat mata membahas penyisiran terhadap buruan pihak kepolisian, Bos Siao Lung.

"Santi tak kau ajak, Man?" Tanya Letnan Komar sebelum keduanya berpisah di ruang parkiran belakang gedung.

"Beliau kelihatan amat lelah, Let. Saya kuatir, jika dipaksakan ikut, jatuh sakit."

"Oke .. Saya hanya minta kalian berdua lebih hati-hati ya," pesan Letnan Komar.

"Siip Let."

Caaaarr ...

Reeeen ...

Lampu depan memancar terang ke depan, menerangi dinding parkiran. Belok kanan. Keduanya berpisah di luar pintu gerbang perkantoran. Satu ke kiri, satunya lagi ke sebelah kanan.

Di tengah perjalanan pulang ke rumah, Rahman menelepon Santi, yang ternyata belum tidur. Malah baru saja selesai mandi dan berkeramas.

"Apa sih Man bilang Bos?"

"Kamu cantik ..."

Hik .. hik ..  hik ...

"Gombal ah. Serius ah aku ngomongnya."

"Ya serius. Kamu kan tahu mana pernah aku berbohong kepadamu. Betul kan?"

"Oke. Tak usah dibahas. Lantas, apa hubungannya beliau bilang aku cantik?"

"Ya adalah ..."

"Apa dong?"

"Nanti Bos Siao Lung naksir kamu Santi."

"Iiiiech. Amit-amit deh Man. Kayak enggak ada lelaki lain apa?"

"Ada."

"Kok tau?"

"Ya taulah ..."

"Siapa dong?"

"Aku .."

He he he he ...

Rahman menepikan mobilnya di tepi jalan. Depan kawasan perkantoran.

"San ..."

"Ya udah. Kamu kan?"

"Iya San. Terus terang San. Kenapa belakangan ini dadaku seolah bergetar ..."

"Gejala jantung itu namanya."

"Iya, itu aku tau. Tapi dengar dulu ceritaku."

"Oke. Aku akan dengar .."

"Dadaku bergetar kalau sebut nama kamu ..."

"Gombal .."

Bhua ha ha ha ...


Tidak ada komentar:

Posting Komentar