Senin, 30 April 2018

Mawar Mewangi (7)

Serial Mafia

Mawar Mewangi (7)
Oleh Wak Amin


 

"BAIK-baik. Coba jelaskan kepada saya, apa yang akan kalian lakukan berikutnya?" Tanya Siao Lung. Me rasa capek dan bosan sendiri marah-marah tak karuan tadinya.

Kursi dan meja berantakan. Masih untung bogem mentah Siao Lung tidak mendarat di wajah Taici dan tiga rekannya.

"Kita sikat saja satu persatu Bos," usul Tauco. Nanti dipilih yang lebih gampang dihabisi dari ketiga personal Tim Mawar Mewangi itu.

"Dengan cara apa Co?" Tanya Taisek. Dia hanya ingin memastikan saja, dibunuh atau disiksa baru dibunuh sebagai teror.

"Dooor ... kelepek .. kelepek .. beres," kata Tauco.

Meski beda cara menghabisi Rahman cs, Taici dan rekan-rekannya sepakat 'aparat' yang selalu mengawasi dan menghalangi gerak-gerik Siao Lung harus secepatnya disikat.

Tak mudah memang, siapa yang lebih dulu dihabisi. Namun Bos Siao Lung memutuskan yang pertama kali dihabisi adalah Letnan Komar.

"Setuju?"

"Setuju Bos. Siap laksanakan ...!"

Di salah satu pusat perbelanjaan ..

Sore hari ...

Letnan Komar keluar dari mall. Menuju mobil yang dia parkirkan di samping bangunan bertingkat lima itu.

Agak gelap dan sepi. Tak biasanya Letnan Komar shopping sendiri. Biasanya, jika tidak ditemani anak atau isteri, dia tak segan-segan meminta bantuan Santi dan Rahman.

Dia merasa sore hari ini lebih fresh. Dia ingin sendirian. Dia ingin mengulang memori di masa lalu, saat perta ma kali bertugas di kepolisian. Masih single. Belum berumah tangga. Punya isteri dan anak.

Sebelum ini dia Letnan Komar belum pernah mengalami hal-hal aneh. Apalagi sampai ditembak, kecuali beberapa waktu lalu, menimpa salah seorang anak buahnya, Aulia.

Maka itu, dengan langkah pasti dan hati yang tenang, dia masuk ke mobilnya, hendak menelepon Rahman, tapi kemudian dia urungkan karena merasa tak nyaman.

Piiiin ...

Piiin ...

Piiiin ...

Mobil berbelok ke kanan, menuruni jalan yang menurun, menuju pintu exit mall terbesar di kota ini.

Pembeli ramai. Mobil antrean keluar masuk pintu sebelah kanan. Petugas security sibuk mengatur arus kendaraan yang sore hari ini jauh lebih ramai.

Mobil yang dikemudikan Letnan Komar kian menjauh. Tiba di sebuah perempatan, mesin tiba-tiba mati.

Dia coba nyalakan lagi. Tapi tak juga bisa. Dia memutuskan untuk keluar dari mobil.

Pintu dibuka ...

Setelah itu ...

Guaaaam ...

Jegaaaar ...

Jeguuuur ...

Traaaash ...

Mobil 'mental' ke atas, lalu terhempas ke jalanan beraspal.

Api meletup-letup menghanguskan mobil dan seisinya.

Tercerai berai ...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar