Rabu, 04 April 2018

Soleh (12)

Cerita untuk Anak


Soleh (12)
Oleh Wak Amin


"LEEEH ...!"

"Soleeeeh ..!"

"Soleeh. Dimana itu anak?"

Setelah memcari kesana kemari, Soleh tiba di rumah. Dia baru saja pulang dari rumahnya Jamilah. Belajar bersama, ditemani Latifah dan Nawas.

"Lhoo. Dari mana saja kamu Leh? Kenapa enggak bilang sama ibu dulu sebelum pergi?"

"Maaf Bu. Tadi Soleh hanya ngomong sama ayah. Karena ibu enggak ada. Ikut pengajian. Maafkan Soleh ya Bu."

"Ya .. Ya. Lain kali kalau mau pergi bilang sama ibu ya, biar ibu tak bersusah payah mencari kesana kemari."

"Iya Bu."

"Eeeem ...Tunggu sebentar ya Nak. Ibu mau minta tolong sama kamu ..
"

Bu Komariah bergegas ke belakang. Dia mengambil beberapa ikat sayur kangkung, ikan betok, nenas dan pepaya.

Satu kantong plastik gede. Tidak berat. Kantongnya saja yang gede, isinya tak seberapa. Tapi memba wanya harus hati-hati. Bisa robek dan pesanan yang dibawa berceceran di jalan.

"Buat siapa Bu?"

"Tolong kasih kan ke mamanya Jamilah ya Nak. Ibu kelupaan tadi mengantarkannya ..."

"Baik Bu."

Putar arah kembali sepeda mininya. Meluncur ke jalan, melewati aneka tanaman pemanis pagar rumah.

Sepuluh menit kemudian ...

Bu Hawiyah, mamanya Jamilah baru selesai membakar sampah. Berdua Jamilah, perempuan berkulit hitam manis itu menyambut ramah Soleh.

Heran sesaat. Kembali tersenyum setelah tahu apa yang dibawa Soleh. Demikian juga halnya dengan Jamilah.

"Terima kasih ya Nak."

"Sama-sama Tante ..."

"Hati-hati ya Leh."

"Ya Jamilah."

Sempat berlintasan dengan Salim, ayahnya Jamilah, baru pulang dari kota.

Dia punya toko meubel dan toko besi di kota. Dia 'pulang hari'. Pergi usai salat Subuh, pulangnya sore atau malam hari.

"Pa, ada kabar penting Pa," kata Bu Hawiyah selepas salat Magrib berjamaah, bersiap santap malam ber sama.

"Kabar penting apa Ma?"

"Anak kita udah punya gebetan Pa .." Sindir Bu Hawiyah. Yang disindir, Jamilah, cuma diam saja.

"Kenalin dong sama Papa."

"Papa pasti udah kenal. Masa harus dikenalkan lagi."

"Kak Soleh, Pa." Tiba-tiba Santi menebak. Tebakannya kali ini benar.

Ha ha ha ha ..

Saat ketawa itulah, Jamilah mengejar adiknya Santi yang sempat mengolok-olok sang kakak tadinya.

Kejar-kejaran itu berlangsung di ruang tamu. Yang dikejar ketawa, yang mengejar sewot.

Hampir dapat, tapi keburu lepas lagi. Setelah Santi bersembunyi di balik bahu Sang Papa yang baru selesai menaruh nasi di atas piring.

"Pa. Tolong dong Pa. Kak Jamilah Pa."

"Ada apa Santi?"

"Kak Jamilah marah Pa. Waktu bilang nama itu tadi. Kak Soleh ..."

"Ok .. Ooo. Seperti itu. Sudah. Jamilah, sini duduk dekat Papa sini."

Meski masih sewot, Jamilah juga senang sebenarnya. Karena kedua orang tuanya ikut senang setelah tahu buah hati mereka berteman dengan Soleh.

Tapi, bagaimana dengan Kadir?

Bukankah dia juga 'menaruh hati' sama Jamilah?

Kadir adalah anak petani kaya. Pak Bondo, ayahnya punya banyak sawah dan ladang. Tetapi amat pelit dan penuh perhitungan.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar