Cerita untuk Anak
Soleh (13)
Oleh Wak Amin
KADIR sengaja menunggu ayahnya pulang dari kota hari ini. Hampir satu jam dia nongkrong di kursi teras.
Lepas Ashar, sekitar pukul lima sore, Pak Bondo dan isteri tercinta tiba di rumah.
Tanpa disuruh lagi, Kadir ikut membantu menurunkan dan membawa
bahan-bahan keperluan memasak seperti gula, kopi, teh, beras, gandum,
minyak sayur, mentega, sagu dan sebagainya.
Sang Ayah, apalagi Bu Bondo, heran melihat Kadir amat rajin sore hari ini.
Ada apa gerangan?
Apa yang sebenarnya telah terjadi?
Padahal sebelum ini jangankan membantu membawakan barang-barang dari
bagasi mobil, keluar dari kamar saja tidak. Asyik bermain hape.
Pak Bondo dan isteri tak pula peduli dengan perubahan sikap Kadir barusan. Mereka justru senang melihat si buah hati tidak malas lagi.
Namun selepas masuk waktu Isya ....
"Bu, Yah." Kata Kadir di ruang tamu saat kedua orang tuanya istirahat seusai santap malam.
"Kamu berantem lagi?" Tanya Sang Ibu mencoba menebak.
Kadir menggelengkan kepalanya.
"Bayaran sekolah udah kan Dir?"
"Udah Yah. Beres ..."
"Eeeem ... Ibu tahu sekarang."
"Apa Bu?"
"Soal Jamilah kan?"
Haaaa ..?
"Ibu tahu dari mana ya?" Terheran-heran Kadir mendengarnya. Karena
sebelum ini dia tak pernah sama se kali cerita tentang Jamilah. Kalau
teman sekolah yang cowok, itu iya.
"Ibu tahu dari mana?"
"Tahu aja Dir. Telinga ibu ini kan banyak. Telinga kamu aja yang dua. Betul kan?"
"Betul kata ibu. Tapi Kadir tak tengok telinga ibu selain yang di kanan dan kiri .. "
"Manalah kau tahu Dir. Telinganya ibu memang cuma dua. Maksud ibu, ibu
pasang telinga, cari kabar tentang anak ibu, ke teman-teman ibu dan
warga lain begitu. Paham?"
Kadir terdiam.
"Paham?" Sang ibu bertanya sekali lagi.
"Paham Bu."
"Nah, sekarang coba kau ceritakan apa masalahmu pada ibu."
Kadir ragu.
Setelah dipaksa, dia berkata ...
"Jamilah Bu. Seperti yang ibu tebak tadi. Aku suka sama Jamilah. Tapi keduluan Soleh," keluh Kadir.
Hek .. Hek .. Hek ...
Pak Brondo sampai terbatuk-batuk mendengar keluhan dan pengakuan Kadir barusan.
Dia tak kuasa menahan gelak tawanya. Betapa tidak, baru duduk di kelas
lima sekolah dasar, sudah tahu tentang teman bukan biasa.
"Bu. Ayah ke kamar dulu."
"Ya ayah. Nantu ibu menyusul," jawab Bu Bondo.
Tawa Pak Bondo baru lepas, tak terdengar lagi setelah masuk kamar. Anehnya, di
dalam kamar justru dia puas-puaskan ketawanya. Ketawa tergelak-gelak di depan
ceemin lemari hias isterinya.
"Ada-ada saja anak zaman now. Masih cabe rawit, eee sudah tau yang namanya 'hati sakit'."
Di ruang tamu ...
"Tolong Kadir Bu. Bilang ke mamanya Jamilah, tak usah berteman lagi
dengan Soleh. Sama Kadir saja Bu. Bilang ya Bu. Tolong Kadir Bu."
"Enggak mau ah."
Penasaran, dia tatapi lekat wajah Kadir.
Ada yang berubahkah?
Dia belai rambutnya. Usap lembut kedua pipinya. Biar jelas terlihat, apa sebabnya Kadir begitu nekat sama Jamilah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar