Selasa, 10 April 2018

Soleh (14)

Cerita untuk Anak



Soleh (14)
Oleh Wak Amin




KEESOKAN harinya, Bu Bondo, yang entah kenapa berpapasan dengan Tante Hawiyah, ibundanya Jamilah seusai membeli sayuran di warung.

Enggak banyak belanjanya. Sang suami hanya 'ngidam' sambal cungkediro, makanya beli 'anak keturunan' nya tomat itu setengah kilo.

"Bu Hawiyah. Apa kabar?" Sapa Bu Bondo sebelum Tante Hawiyah masuk ke dalam mobil.

"Kita bicara saja di rumah nanti sore," kata Tante Hawiyah. Karena dia juga harus buru-buru ke sekolahnya Jamilah. Mau jemput anak sulungnya itu.

Jamilah sebenarnya sudah bisa pulang sekolah sendiri dengan sepeda mininya. Meski masih harus ditemani Latifah, Marfuah dan Soleh.

Sangat menyenangkan pulang sekolah bersama teman sekelas. Tidak terasa capek dan bisa ber
bagi cerita.

Yang pasti, bisa saling membantu terkait urusan sekolah. Mulai dari izin tak bisa sekolah karena sakit dan berbagai keperluan mendesak lainnya yang tak bisa ditinggalkan, mengerjakan PR hingga kerja kelompok bikin prakaria.

"Mari Bu. Minum dulu," tawar Tante Hawiyah. Sudah diajak masuk ke ruang tamu, tapi Bu Bondo lebih senang berada di teras.

"Lebih relaks Bu. Santai," katanya sembari menyeruput teh manis dan mencicipi singkong goreng. Gurih tapi renyah, rasanya.

"Tentang apa Bu Bondo kalau boleh tahu?"

"Tentang anak saya, Bu."

"Eeeem ..." Mengingat-ingat. Sayang, tak juga teringat nama Kadir. Walau sebenarnya sudad di ujung lidah.

"Kadir."

"Ya Bu. Kadir. Betul sekali. Saya baru ingat sekarang. Teman sekelasnya Jamilah kan?"

"Betul sekali Bu."

"Apa masalahnya Bu?"

Antara malu dan tak enak di hati, pada akhirnya Bu Bondo cerita yang sebenarnya.

Kadir ingin berteman dengan Jamilah ...

"Apa sekarang ini enggak berteman dia Bu dengan Jamilah?"

"Katanya tidak Bu. Menurut anak saya itu, Jamilah lebih dekat dengan Soleh. Sementara anak saya tidak sama sekali."

"Ok ... Ooooo. Begitu masalahnya."

Tante Hawiyah mempersilakan tamu istimewanya itu untuk menyeruput lagi teh manis kesukaan suaminya, Pak Salim.

"Apa yang bisa saya bantu Bu?"

"Tak banyak Bu. Hanya sedikit."

He he he he ...

"Bu Bondo bisa aja. Banyak juga tak apa-apa Bu," kata Tante Hawiyah. Menggeser letak duduknya.

Jika tadinya berhadapan, kini lebih mendekat ke samping kanan Bu Bondo.

"Saya hanya ingin ibu bicara sama Jamilah tentang anak saya, Kadir Bu."

"Tentang apa kira-kira Bu?"

"Supaya Jamilah mau berteman juga dengan Kadir. Itu saja Bu."

"Ooo. Seperti itu. Kalau itu gampanglah. Nanti saya bicara sama Jamilah."

"Satu lagi Bu. Cumaaa ..." Bu Bondo berat mengutarakannya.

"Apa itu Bu?"

"Bu Hawiyah tak keberatan kan membantu saya?"

He he he he ...

"Saya akan bantu Bu Bontu, tentu sebisa dan semampunya saya."

Bu Bondo mengangkat dua jari telunjuk, lalu didekatkan. Isyarat agar Kadir dan Jamilah bukan hanya teman biasa.

He he he ...

"Bu Bondo ini lucu."

"Tapi Bu. Jangan bilang ke siapa-siapa. Nanti kalau orang lain pada tahu, Kadir anak saya jadi malu."

"Iya .. Ya Bu, insya Allah. Saya mengerti," ujar Tante Hawiyah.

Mengatur nafas sejenak ...

"Insya Allah akan saya bantu. Tapi ya itu Bu. Tapi saya tak bisa janjikan harus berhasil."

"Kenapa Bu?"

"Berat buat Jamilah, anak saya. Kayaknya seperti itu ..."

Ha ha ha ha ...

"Beratnya dimana ya Bu?"

"Teman bukan biasa itu, Bu. Itu artinya, kalau diibaratkan orang-orang tua dulu, sudah diikat. Ditunangkan. Jadi, walau masih berteman dengan orang lain, si perempuan dan si laki-laki kan sudah saling terikat ..."

"Ya enggak apa-apa Bu. Baguslah itu," ucap Bu Bondo.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar