Cerita untuk Anak
Soleh (15)
Oleh Wak Amin
MALAM harinya, saat dimintai tanggapannya, kepada ibundanya, Jamilah tak henti-hentinya tertawa.
Tante Hawiyah sampai harus menemui suaminya. Dia kuatir ada sesuatu yang terjadi pada Jamilah.
Usut punya usut, setelah bicara dari hati ke hati, Jamilah mengaku dia heran dengan sikap Kadir.
"Di kelas, melawannya minta ampun deh Pa. Eee ... Sekarang, ngomong ke Jamilah harus lewat Mama."
"Ooo .. Syukurlah kalau begitu," ucap Pak Salim.
"Papa kenapa bilang syukur. Memangnya ada apa?"
"Maksud Papa, Jamilah baik-baik saja dong Ma. Jadi wajar kalau Papa bilang syukur."
"Jadi soal si Kadirnya gimana Pa?"
"Gimana apanya Ma?"
"Maunya dia, si Kadir itu, nih kata ibunya pada Mama, maunya berteman dengan Jamilah gitu."
"Oooo begitu. Memangnya selama ini apa Jamilah musuhan sama Kadir?"
"Enggak Pa. Dia saja yang suka iri," jawab Jamilah.
"Iri? Iri kenapa sayang?"
"Iri karena Jamilah berteman dengan Soleh, Ma, Pa. Gitu."
Ha ha ha ha ...
Tante Hawiyah dan Om Salim ketawa lebar. Tak mau bengong sendirian, Jamilah akhirnya ikut tertawa juga.
Ha ha ha ha ...
"Lucu ya Pa?!"
"Iya. Lucu deh Ma."
"Sakit perut Ma," kata Jamilah.
"Kenapa?"
"Lucu aja Ma."
Ha ha ha ha ...
Di lain tempat ...
Di kediaman Pak Bondo.
Sebelum tidur, Kadir nyelonong masuk ke kamar ibunya. Dia menanyakan hasil pertemuan ibunya dengan Tante Hawiyah.
"Beres Nak. Siiip," kata Bu Bondo sembari memperlihatkan jari jempol.
"Terima kasih Bu."
"Ya, sama-sama. Cepat tidur sana. Biar tidak kesiangan bangun besoknya."
"Ya Bu."
Pintu kamar kembali ditutup.
Kadir kembali masuk ke kamarnya. Dia tampak puas. Lampu kamar dipadamkan. Segera pejamkan mata. Tidur.
Sementara Pak Bondo ...
"Apa kamu yakin Bu?"
"Yakin apanya Yah?"
"Itu ... Soal Kadir sama siapa tuh ..?"
"Jamilah?"
"Ya Jamilah. Takutnya ibu sudah janji oke, eeee ...taunya tidak. Bakal sakit hati Bu, Kadir anak kita."
"Ah bapak. Percayalah sama ibu. Kalau kata ibu oke, pasti oke Yah."
"Kalau tidak?"
"Ibu yakin sukses, Yah. Sudah. Tidur yuk Yah. Udah malem."
Esok paginya ...
Di rumah sekolah ...
Kadir mendekati Jamilah yang lagi makan kue bersama Latifah, Marfuah, Anisah dan Marwiyah.
"Hai Jamilah!" Sapa Kadir sambil mengangkat tangan kanannya.
Sikap beda yang diperlihatkan Kadir bikin heran teman-teman Jamilah.
"Pulang nanti sama aku ya Jamilah."
Jamilah mengangguk.
Kadir berlalu pergi. Hatinya senang, bersiul riang. Di belakangnya ikut bersiul Pardi, Yunus dan Lukman.
"Kamu mau Jam? Kasihan Soleh, Jam. Apa tega kamu tinggal sendirian dia pulang ke rumah." Komentar Latifah.
"Iya Jam. Kamu kan tau siapa si Kadir itu. Nanti kalau ada apa-apa di tengah jalan, siapa yang tolong kamu," sela Marwiyah.
"Atau begini saja." Anisah membisikkan sesuatu di telinganya Jamilah.
Semua geli dan berdengung ..
Setelah itu tersenyum lebar.
"Bisikin aku juga dong," pinta Marwiyah.
"Aku juga," kata Latifah.
"Aku juga." Tak ketinggalan Marfuah mau juga dibisiki Anisah.
Daripada penasaran ...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar