Cerita untuk Anak
Soleh (17)
Oleh Wak Amin
"KEMANA saja kamu?" Kadir sangat marah pada Lukman. Saat genting dan
penuh pertolongan, enggak datang. Eeee ... Sudah tidak penting lagi baru
datang. Tampil muka.
"Maaf Dir. Aku tadi dari warung beli macam-macamlah. Beras, minyak sayur
dan lain-lain. Hape kutinggal di rumah. Nah, setelah aku pulang dari
warung dan masuk kamar, kutengok ada telepon masuk, dari kamu rupanya.
Jadi ya begitulah. Aku telepon kamu dan datanglah aku ke sini
menemuimu," jelas Lukman.
"Ya sudah. Ikut aku sekarang ...!"
"Sepedaku?"
"Titiplah dulu dengan bapak tukang warung ini."
"Okeee ..."
Harap dan cemas. Harap hilang, cemas yang ada. Marwiyah cs sudah tidak ada di tempat semula.
Atas saran Lukman, keduanya mendatangi kediaman Jamilah. Berkali-kali mengetuk pintu, itu pintu tak ada yang mau buka. Padahal Jamilah ada di kamarnya. Baru saja nyampe, dan mau beristirahat sebentar sebelum kumpul bersama di kediaman Marfuah.
"Cari kemana lagi ya Luk?"
Lukman berpikir sejenak.
"Kita cari ke rumahnya Anisah saja Dir. Mungkin dia ada dan tahu kemana Jamilah dan teman sekelas yang lain ..."
"Kamu yakin ada?"
"Kita coba dululah ..."
Sama seperti sebelumnya, pint diketuk, tapi tak ada sahutan. Dengan
penuh rasa kecewa bercampur kesal, setelah mengambil sepeda Lukman,
pulanglah Kadir.
Dia naik motor sendirian, sementara Lukman masih 'kelayapan' entah kemana.
Sedangkan di kediaman Marfuah, telah berkumpul teman-teman satu kelasnya. Ada Anisah, Jamilah, Marwiyah dan Latifah.
Tidak ada maksud apa-apa. Mereka kumpul sekadar kepingin kumpul saja.
Selain ngobrol tentang sekolah dan aktuvitas keseharian di bawah pohon
jambu.
Marfuah sengaja bikin rujak. Bahannya macam-macamlah. Ada jambu air, mangga, kedondong, pepaya dan mentimun.
Pedas-pedas manis. Dimakan bersama, sungguh amat nikmat. Semua pada
berkeringat. Tentu tak asyik jika tidak ngobrol sambil bergurau.
Satu persatu diberi kesempatan bicara. Ungkapkan isi hati. Kali pertama
Anisah. Dia hanya mengusulkan siswa putri seperti mereka harus kompak.
"Kalau ada apa-apa kan enak. Jangan kalah dengan cowok," terang Anisah.
Usul dan saran ini diamini Jamilah, Latifah dan Marwiyah. Sedangkan Marfuah mengusulkan pembentukan sebuah geng.
"Serem ah Marfuah. Ich, ngeri aku," ucap Latifah.
Ketika ditanya kenapa ngeri, Latifah menjawab karena istilah geng yang ia tahu tidak baik.
"Seperti di televisi, ada geng motor, yang kebut-kebutan. Ah, enggak mau ah. Nanti ikut ditangkap Pak Polisi," kata Latifah.
He he he he ...
Marfuah ketawa ngakak.
"Bukan geng itu maksudku Latifah. Tapi semacam grup lah. Jadi
masing-masing kita tolong menolonglah. Misalnya, kamu diganggu cowok.
Ya kita kompak untuk mengatasinya. Begitu ..."
"Oooo ..."
Pada 'oooo', Marfuah ketawa ngakak lagi.
"Kalau misalnya aku, belum kerja kan PR, bantulah aku pinjamin buku kalian yang sudah kerjakan PR."
Wuuuu ...
"Enak saja kamu Fuah. Kalau begitu mending tak usah bikin PR. Pinjam saja buku kalian," kata Marwiyah.
"Satu lagi contohnya. Kalau aku tak ada duit jajan, kalian bantulah aku beru duit jajan, atau dijajanilah aku."
Wuuuu ...
"Marfuah .. Marfuah. Pulang ah!" Ajak Latifah.
Bukan kesal, tapi memang sudah sore.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar