Selasa, 10 April 2018

Soleh (16)

Cerita untuk Anak


Soleh (16)
Oleh Wak Amin

 



TRET ... Reet ... Nyeet ...

Tiga kali mencet starter. Sepeda motor tak mau juga menyala.

"Engkol saja Dik," kata seorang remaja laki-laki yang buru-buru pulang dari sawah sambil membawa sekarung sayur mayur seperti bayam, kangkung, cabe rawit, kubis dan tomat.

Gredek ..

Gredek ...

Gredek ...

Dua puluh lima kali ngengkol motor, itu motor tak mau nyala mesinnya.

Apa yang sebenarnya terjadi?

"Mungkin bensinnya Nak habis," kata seorang laki-laki tua, sampai terbungkuk-bungkuk memikul sangkek berisi rumput untuk makanan sapi piaraan.

Kplaaak ...

Jok motor dibuka ..

"Perasaan baru diisi kemarin," kata Kadir ngomong sendirian.

Sementara Jamilah tampak tenang. Dia menyibukkan diri dengan membolak-balik buku pelajaran sekolah.

Haaaa ...?

"Habis? Aduh ... Gimana ini?" Garuk-garuk kepala.

Nyalakan hape. Mencari nomor telepon teman sekelasnya, Lukman.

Berulangkali ditelepon, enggak juga mau ngangkat. Saat bingung campur kesal, datanglah Latifah, Marfuah, Anisah dan Marwiyah.

"Mogok ya Dir?" Tegur Latifah.

"Habis bensin Fah," jawab Kadir malu-malu. Maksud hati mau ngantar pulang Jamilah pakai sepeda motor sampai di rumah. Eee taunya habis bensin. Paraaah.

"Dorong saja Dir. Beli bensin di ujung sana. Ada kayaknya," kata Latifah, menunjuk ke kanan, ada sebuah rumah kayu yang di depannya berdiri sebuah warung.

Di dekat warung itu ada hampir sepuluh dirijen berisi bensin. Bisa beli 'ketengan.'

"Iya Dir," sahut Marfuah. "Sudah sana. Jamilah, dijamin aman bersama kami."

"Betul Dir. Aman pokoknya," timpal Marwiyah.

Dorong motor sama-sama ...

Lepas itu ...

"Kami sampe sini saja ya Dir. Bisa kan kamu dorong sendirian?" Kata Anisah. Batuk-batuk kecil karena sudah tak kuat menahan tawa.

"Bisa .. Bisalah." Gengsi dibilang tak bisa. Padahal nafas sudah ngos-ngosan, tenaga terkuras oleh ngengkol sepeda motor tadi.

Hik ... Hik ... Hik ...

Jamilah dan teman-temannya pada ketawa geli tapi tidak sampai ngakak setelah sepeda motor yang di dorong Kadir semakin menjauh.

"Lucu ya Jamilah," ujar Anisah. Belum juga reda ketawanya.

"Sudah ... Bisa tidak kamu simpan ketawanya," kata Marwiyah.

Anisah bukannya tak mau. Dia memang tak bisa menghentikan ketawanya.

Baru setelah Kadir tak kelihatan lagi, ketawanya berhenti sendiri.

Lucu ya?

"Ke rumahku saja yuk," ajak Marfuah. "Sekali-kali kan boleh."

"Iya ... Iya. Tapi sebaiknya kita pulang dulu. Ganti pakaian. Ijin sama ibu," kataAnisah.

"Setelah itu ke rumahku ya! Setuju?"

"Setujuuu .."

Tidak ada komentar:

Posting Komentar