Cerita untuk Anak
Soleh (23)
Oleh Wak Amin
TEPUK tangan kembali bergema di bawah panggung setelah siswa kelas 5 SD
Al-Munawar dengan lincah nya menabuh rebana diiringi dentingan suara
gitar.
Jumlah mereka kurang lebih sepuluh orang. Tiga siswa laki-laki, si
sanya siswa perempuan. Mengenakan kebaya dan bercelana hitam baju putih
lengan panjang serta berkopiah hitam bagi siswa laki-laki.
Mereka membawakan tiga buah tembang. Dua di antaranya berbahasa Arab, satunya lagi berbahasa Indonesia.
Inilah syair lagu terakhir yang mereka senandungkan. Mereka beri judul ... 'Al-Munawar'.
"Kami siswa-siswi Al-Munawar
Tak henti terus belajar
Cita-cita kami kejar
Tak pandang perut lapar ...
Kami siswa-siswi Al-Munawar
Maju terus tak pernah gentar
Siap hadapi yang kurang ajar
Demi membela yang benar ..
Kami bantu yang lemah
Tanpa harus bersikap pongah
Selalu waspada tak pernah
lengah
Walau mesti terengah-engah ..
Sawah ladang kami punya
Ikan juga kami pelihara
Siap dijual dengan harga
murah
Siap bantu orang yang
susah ...
Kami siswa-siswi Al-Munawar
Selalu setia dan rajin belajar
Maju terus tak pernah gentar
Demi membela yang benar.."
Plak .. pak .. plak ... pak ...
"Terima kasih bapak ibu dan hadirin sekalian," kata Marwiyah dengan suara lantang.
"Berikutnya kami panggilkan dua orang adik kelas kami masing-masing Zuleha dan Abdul ..."
Plak .. pak .. plak ... pak ...
"Terima kasih .. terima kasih," ucap Marwiyah bangga. Mempersilakan
Zuleha berdiri di tengah depan pang gung sementara Abdul duduk di kursi
sambil memetik gitar.
Jreeeeng ..
Jeeeng ...
Ting ... Ting .. Ting ...
"Selamat siang bapak dan ibu seka lian. Kakak dan adik kami serta teman-teman kami semuanya. Kami akan membawakan sebuah puisi yang kami
beri judul ...'Berkibarlah Al-Munawarku'. Selamat mendengarkan ..."
Zuleha memulai puisinya ....
"Berkibarlah Al-Munawarku
Singgahi pulau-pulau kami
Temui teman-teman kami
Yang jauh di pelosok negeri
Berilah mereka harapan
Kasihanilah penuh kasih
sayang ...
Mereka saudara kami
Mereka sahabat kami
Walau kami jauh
Dipisahkan bentangan pulau
Kami kukuh satu hati
Tak goyah kena angin
Tetap kokoh meski badai
menerpa ...
Berkibarlah Al-Munawarku
Sambangi pagi biar melimpah
rezeki
Sambut siang biar menerangi
Datangi sore biar meneduhi
dan sambut malam biar
pernama datang menghampiri
...."
Hadirin khusyuk mendengar ...
Terdengar suara dentingan gitar yang dimainkan dengan lembut oleh Abdul. Tanpa kata.
Zuleha melanjutkan ...
"Al- Munawarku
Berkibar terus sepanjang hari
Sepanjang malam
Tak kenal lelah
Pantang menyerah
Tampil gagah ..."
Tidak ada komentar:
Posting Komentar