Serial Mafia
Bunga Sedap Malam (4)
Oleh Wak Amin
DARI stasiun televisi ...
Taici cs duduk bersama menghadap ke kamera televisi. Menjawab
pertanyaan wartawan, tanya jawab ini mendapat perhatian khusus dari
semua pihak.
Sebagian besar dari mereka ingin menyaksikan secara langsung sosok
Taici dan kawan-kawan yang dikenal sebagai orang jahat dan meresahkan
masyarakat selama ini.
Wartawati : "Bapai Taici yang terhormat. Kenapa anda jadi orang jahat? Apa sudah bosan jadi orang baik?"
Taici : "Demi fulus. Uang .."
Wartawati : "Anda senang, maksud saya, anda sangat senang dan menikmati pekerjaan yang anda geluti sekarang Tuan Taici?"
Taici : "Iya .."
Wartawati : "Termasuk melakukan dan menghilangkan nyawa orang lain?"
Taici : Sebenarnya sih tidak. Tapi sudah tugas dari Bos saya, mau
gimana lagi, coba. Kalau saya menolak, saya akan menerima risikonya
Mbak wartawan."
Wartawati : "Anda disiksa selama di penjara Tuan Taici?"
Taici : "Mbak sendiri pasti sudah bisa mengira-ngira apa saya disiksa atau justru dimanja selama mendekam di penjara."
Waaaau ..
Suasana mendadak riuh. Karena ada beberapa warga yang memaksa masuk ke ruangan press room atau media centre itu.
"Mohon kerjasama bapak-bapak dan ibu-ibu sekalian." Rahman mencoba
menenangkan, termasuk para kuli tinta yang mulai berebutan ingin
bertanya.
"Saya harapkan kerjasamanya." Pinta Letnan Sayuti. Rahim meminta para
awak media untuk mundur bebe rapa sentimeter ke belakang, agar ada jarak
yang pas antara Taici cs dengan massa yang hadir dan ikut me nyaksikan
sesi tanya jawab ini.
Pengaturan posisi ini berlangsung selama hampir setengah jam. Lebih lama
dari perkiraan semula. Hal ini terjadi karena ada beberapa gelintir
warga rebutan posisi di paling depan, walau harus berdiri.
"Mohon kerjasamanya." Beberapa wartawan ikut menenangkan suasana. Diputuskan untuk sama-sama duduk lesehan.
Tidak ada yang berdiri lagi ..
"Terima kasih. Terima kasih," ucap Letnan Sayuti lega.
"Rahman, lanjutkan!"
"Siap Letnan ..."
Berikutnya sesi tanya jawab wartawan dan Tauco:
Wartawan : "Selamat pagi Tuan Tauco."
Tauco : "Selamat pagi juga."
Wartawan : "Siapa Bos anda Tuan Tauco?"
Tauco : "Orang ..."
Hadirin tertawa geli.
Wartawan : (kaget sejenak). Maksud saya Tuan, kalau Tuan tidak keberatan, nama beliau bisa disebutkan ..?"
Tauco : "Siao Lung."
Haaaa ...?!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar