Sabtu, 21 Juli 2018

Entar Ya (1)

Entar Ya (1)
Oleh Wak Amin



HIYAAAT ...

Sikaaat ...

Embaaaat ...

"Rasakan ini keparat ...!"

Sebilah parang menghujam bebera pa kali ke perut, dada, kepala dan kaki.

Pak Bendo benar-benar kesetanan. Jeritan mintak tolong dari mulut Ef fendi dia balas dengan memukul-mukul kepalanya.

Saat tewas pun, Pak Bendo masih sempat memplorotkan celana yang dikenakan Effendi. Untungnya, niat keji preman kampung ini, yang hen dak memutilasi penis korban berha sil dicegah Pak Jaya dan Pak So fan, dua anak buahnya.

"Sudah Bos. Sudah Bos. Dia sudah mati," kata Pak Jaya.

"Nafasnya saja sudah tidak ada lagi Bos," sahut Sofan sembari menarik tangan Effendi yang berlumuran da rah ke semak-semak.

"Aku puas sekarang. Aku puas," te riak Pak Bendo. Ketawa lebar sam bil menghadapkan wajahnya ke langit.

Tak lama setelah itu ...

Druuup ..

Mata parang menancap di kaki pon dok.

"Biar orang sekampung tahu. Siapa Pak Bendo ha ..."

Hua ha ha ha ...

Pak Bendo orang hebat. Bukan ora ng sembarangan. Siapa yang berani melawan saya tanggunglah sendiri akibatnya.

Hua ha ha ha ...

"Kuburkan mayatnya sekarang!" Pe rintah Pak Bendo. "Bersihkan juga darah yang tersisa ..."

Setelah mengambil lagi parang ya ng menancap di cagak pondokan, Pak Bendo mengajak dua anak bu ahnya itu segera angkat kaki.

"Sebelum warga tahu kita segera tinggalkan tempat ini .."

"Siap Bos ..."

Kematian tragis yang dialami Effen di ini sangat menggemparkan war ga Desa Kita Bahagia. Seminggu kemudian jasadnya diketemukan petugas kepolisian lewat bantuan orang pintar desa sebelah, Ki Do yok.

Saat diketemukan jasad Effendi su dah membusuk. Semua yang hadir sesaat sebelum jenazah dibawa ke kota, kediaman orang tua Effendi, menundukkan kepala.

Tak sanggup menyaksikan kondisi korban yang nyaris tak dikenali la gi. Muka banyak bekas cabikan dan sayatan parang, juga dada, perut dan kaki.

Para guru dan siswa SMP Desa Kita Bahagia hanya bisa menangis se sunggukan setelah diberitahu Pak Kades Marzuki bahwa korban dike temu kan dam keadaan telanjang bulat.

"Biadab," ucap Bu Sita.

"Pelakunya harus dijatuhi hukuman seberat-beratnya Pak Kades," kata Bu Herlina.

"Setahu saya dia tak punya musuh di desa ini. Dia kan hanya melaku kan pengabdian masyarakat seba gai syarat menyelesaikan ujian ak hir perkuliahannya," jelas Bu Sita dengan nada berapi-api.

"Sabar ya Bu Rani," kata Bu Lim, orang terdekat yang sudah diang gap seperti ibunya sendiri.

Bu Lim ikut hadir karena diajak Bu Guru Rani.

"Kita manusia hanya bisa berenca na. Tapi keputusan akhir ada di ta ngan-Nya. Dia-lah yang paling ber kuasa di alam jagat raya ini."

"Mudah-mudahan dia mendapat tempat yang layak di sisi-Nya," ujar Pak Hidayat dan Pak Karsa.

"Amin. Amin ya Allah," ucap para guru yang lain serempak.

"Dan mudah-mudahan juga pelaku nya bisa segera diketemukan," ha rap Pak Kades Marzuki.



.

Dikirim dari Acer Liquid Z330

Tidak ada komentar:

Posting Komentar