Sabtu, 21 Juli 2018

Entar Ya (3)

Entar Ya (3)
Oleh Wak Amin

SORE hari di perbatasan desa ..

KI Doyok ditemani dua sobatnya, Ki Dalem dan Ki Tapa, baru saja pula ng dari desa sebelah, Desa Kutila ng, membantu warga setempat yang kesurupan.

Mereka pulang menggunakan ben di. Bendi kepunyaan Ki Doyok. Ben di alias sado ini sering digunakan Ki Doyok mengunjungi warga desa yang memerlukan pertolongannya.

Hiiiik ... Hiiiik ..

Kuda meringkik ...

Tak mau jalan ...

Hanya berputar-putar ..

Ciyaaat ...

Guaaaar ..

Bendi terbalik. Sempat menggelin ding. Tapi tidak sampai jatuh ke dalam sungai ...

Hua ha ha ha ...

Dua jawara sewaan Pak Bendo ter tawa mengejek. Sambil meme lintir kumisnya yang lebat hitam, kedua nya mendekat ...

Tapi ...

Husyaaa ..

Praaash ...

Dengan cepat dua jawara ini melom pat menghindari pukulan angin ya ng dilepaskan Ki Doyok.

Huuup ...

Saat bersamaan, Ki Doyok melom pat turun dari bendi.

Ha ha ha ha ...

"Belum apa-apa kalian sudah kelim pungan," kata Ki Doyok.

"Setan alas. Baru segitu sombo ngnya minta ampun," ujar jawara berambut gondrong.

Bersama temannya berambut pen dek, si gondrong pasang jurus angin mengamuk.

Saat itu juga pohon seolah berge rak. Angin bertiup kencang. Saking kencangnya, Sofan dan Jaya terpen tal dan mengenai roda bendi.

Sementara kuda putih kesayangan Ki Doyok terlempar jauh. Nyaris nyemplung ke dalam sungai. Deng an tenaga ya ng tersisa berlari me nyelamatkan diri dari amukan ang in yang tak kunjung reda itu.

Angin baru reda setelah Ki Doyok mengeluarkan jurus angin sejuk. Angin yang semula kencang beru bah pelan. Tak terlihat lagi dedau nan bergerak kecuali hawa sejuk menebar ke sekitar areal persa wahan.

Hiyaaat ...

Klusyaaa ..

Dari tangan Ki Doyok keluar api dan api itu bergerak cepat mengarah ke kedua jawara ...

Braaak ...

Auuuw ...

Breeet ...

Keduanya terpental. Dari mulut keluar darah segar.

Heeeegh ...

Heeegh ...

Si rambut pendek tewas seketika di lokasi kejadian. Sementara gondro ng berusaha memberikan perlawa nan dengan mencoba berdiri di te ngah dada yang menghitam terkena jurus tapak api.

"Jangan sombong dulu Ki Doyok. Coba tahan jurusku ini ..."

Si gondrong bergerak mundur. Lalu berputa- putar. Setiap kali putaran ada belasan paku keill yang keluar dari tubuhnya.

Paku-paku utu bagaikan anak pa nah yang siap menghabisi sasa rannya.

Deeep ..

Braaas ...

Auuugh ...

Paku-paku itu menghantam dada dan kepala Ki Dalem dan Ki Tapa. Sangat cepat. Begitu terkena sa sarab  langsung roboh. Menggele par-gelepar denga  sekujur tubuh menghitam.

Tewas mengenaskan ...

Ki Doyok kini seorang diri ..

Hua ha ha ha ...

Ciyaaat ...

Koprol di udara. Kaki menyentuh ta nah. Pak Bendo sudah berduri di hadapan Ki Doyok.

"Apa maumu kisanak?"

Pak Bendo tertawa lebar ...


Tidak ada komentar:

Posting Komentar