Entar Ya (2)
Oleh Wak Amin
"APA ...? Kurang ajar. Belum tahu dia siapa aku," kata Pak Bendo se telah diberitahu Sofan penemuan mayat Effendi atas bantuan Ki Doyok.
"Jaya!"
"Siap menerima perintah Bos!"
"Ambilkan bir!"
"Segelas atau sebotol Bos?"
"Sebotol. Cepaaat!"
"Baik Bos."
Praaak ...
Pak Bendo memukul meja. Kuat juga sih. Terdengar sampai ke ru ang dapur. Saat Sofan membuka kulkas, mengambil sebotol bir.
"Mentang-mentang orang pintar, berlagak pintar dia ..." Pak Bendo wajar marah. Karena boleh jadi Ki Doyok tahu siapa pembunuh Effendi.
"Bisa jadi Bos. Soalnya, saya deng ar-dengar sudah banyak orang yang minta tolong padanya."
"Minta tolong apa Ya?"
"Macam-macamlah Bos."
"Iya. Macam-macam itu apa saja? Cepatlah kau katakan sebelum aku ngamuk ..."
"Minta bantuan cari barang hilang, orang hilang, termasuk ..."
"Termasuk apa? Ke dalam lubang begitu?"
"Termasuk menemukan si pencu likya atau pembunuhnya jika orang yang hilang itu tewas terbunuh. Gi tu Bos yang saya dengar dari orang-orang kampung."
"Kamu percaya?"
"Percaya enggak percaya sih Bos. Percaya karena Ki Doyok itu orang pintar. Enggak percayanya karena tak lihat langsung. Cuma kata ora ng, kata orang ..."
Pembicaraan terhenti ketika Sofan datang membawa sebotol dan tiga gelas kecil ...
Triiinng ...
"Sudah. Daripada pusing-pusing le bih baik kita minum dulu." Pak Ben do menuangkan bir dalam tiga ge las kecil.
"Ayo kita bersulang untuk Ki Doyok!"
Serempak minum. Sambil ketawa. Tanpa terasa, sudah tiga gelas bir ditenggak.
"Bagaimana menurutmu Jaya?"
"Tak ada cara lain Bos selain kita sikat habis saja Ki Doyoknya." Usul Jaya. Sebab, jika tidak disikat bakal ketahuan.
"Tapi aku tak yakin kita bisa Bos," ujar Sofan. Namanya juga dia orang pintar, ilmunya pasti tinggi dan hebat.
"Jadi kau remehkan aku Fan?" Ter singgung Pak Bendo rupanya. Tak terima ilmu yang di Mil ikan masih di bawah Ki Doyok.
"Bukan. Bukan begitu Bos maksud ku," buru-buru Sofan duduk bersim puh meminta maaf atas ucapannya barusan.
"Jadi maksudmu apa? Kita diamkan saja begitu?"
"Bukan Bos. Maksudku kita harus benar-benar siap melawan Ki Doyok itu."
Selain mental dsn fisik juga kema tangan beraksi. "Dia orang hebat, ki ta hadapi dengan cara yang hebat juga Bos."
"Misalnya?"
"Bos bawa pedang. Jaga-jaga saja Bos. Kalau terdesak kita gunakan untuk menghabisinya. Atau bisa juga kita sikat langsung dengan pedang itu ..."
Pak Bendo berpikir keras ...
"Saya tambahkan Bos."
"Apa Ya?"
"Bila perlu kita datangkan para ja wara sekalian ..."
Tidak ada komentar:
Posting Komentar