Entar Ya (6)
Oleh Wak Amin
DIMANA mereka sembunyi?
Sebuah rumah tua. Rumah tua se ringkali ditinggal penghuninya ka rena lebih suka bertempat tinggal di pondokan sawah mereka.
Jarak antara rumah dan sawah la dang mereks lumayan jauh. Meng habiskan waktu dengan mengayuh sepeds dua jam lebih. Daripada ca pek mondar-mandir, baru kembali ke tempat tinggal mereka di desa seminggu kemudian.
"Lompat Ya. Cepaat!"
"Enggak bisa. Kakiku Fan." Tiba-tiba keram dan tak bisa digerakkan.
Huup ...
"Pegang tanganku Pak!" Si gondo rong mengulurkan tangannya. Se telah dipegang Pak Jaya, dia putar badan.
Secepat kilat sudah berpindah tem pat. Pak Jaya sudah berada di sam ping Gondrong.
"Ayooo ...!"
Ketiganya menyusul Pak Bendo ya ng sudah lebih dulu masuk lewat pintu belakang.
Sementara itu ...
"Mereka masuk lewat pintu, Mr Clean. Saya yakin itu," kata Pak Kades Marzuki.
"Tinggal sekarang, pintu depan atau belakang. Itu saja ..."
Letnan Susan mengusulkan mereka bertiga berpencar ...
"Saya dari depan, mister di depan, sedangkan Pak Kades menunggu saja disini ..."
"Pak Kades?!"
"Baik Mr Clean dan Letnan Susan.," jawab Pak Kades.
"Oh ya Pak. Tolong juga kontak ya ng lain. Biar cepat kita tangani masalah ini."
"Baik Mister ..."
Di ruang tengah ...
"Menurutku. Tak aman kita disini," kata Gondrong sambil melihat pe nuh selidik ke sekitar ruangan da lam rumah.
"Betul Bos. Feeling saya, mereka sudah tahu kita," bisik Pak Jaya.
Hal yang sama juga dirasakan Sofan.
"Sebelum terlambat kita harus cepat bertindak."
Jika tidak, kata Sofan, bakal ter tangkap.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar