Kamis, 09 Agustus 2018

Entar Ya (22)

Entar Ya (22)
Oleh Wak Amin


"MISTER clean. Dengarkah...?"

"Iya," jawab Mr Clean.

"Sebaiknya kita turun dekat tanah berbukit itu Mr Clean," bisik Ki Doyok.

"Pak Kades. Tolong berhenti di sa na nanti." Letnan Susan menunjuk ke sebelah kanan.

"Siap Bu Letnan," jawab Pak Kades. Mobil ditepikan tak lama kemudi an.

Lepas itu mereka turun satu persa tu. Dengan menggunakan senter ke cil mungil miliknya Letnan Susan, keempatnya mendekati sebuah po hon besar.

Letnan Susan kaget ...

"Mister. Coba tengok!"

Kepala Ki Gondrong tergeletak di bawah pohon.

"Sempat berkedip tadinya," kata Letnan Salam.

Ki Doyok memastikan itu kepala orang bayaran dan kepercayaan Pak Bendo.

Mr Clean mengamati kepala Ki Gon drong. Dia meminta pendapat Pak Kades dan Ki Doyok.

"Kita bawa pulang saja Mr buat bukti pada warga bahwa tukang onar telah tewas," ujar Ki Doyok.

"Tapi apa mereka percaya Ki?" Tanya Pak Kades.

"Kan ada Mr Clean dan Letnan Su san. Apalagi yang kurang. Betul kan Mister?"

"Ya. Ini kepala kita amankan seba gai barang bukti Pak Kades dan Ki Doyok."

"Yang lain masih perlu dicarikah Mr Clean?"

"Tentu Pak Kades, jika kita masih kuat untuk mencarinya malam ini. Tapi jika tak memungkinkan kita lanjutkan besok saja. Bagaimana?"

"Lanjut saja Mister. Sudah kepalang tanggung," kata Pak Kades.

Kurang lebih sepuluh meter ...

Letnan Salim memanggil koleganya Mr Clean sampai lima kali.

Ada apa gerangan?

Ternyata Letnan Susan menemu kan dua kepala manusia di atas pohon.

Setelah Mr Clean, Ki Doyok dan Pak Kades Marzuki mendekat. Dia me lompat. Memanjat pohon besar dan rindang itu.

Sesampainya di atas, dia ambil sa tu persatu kepala yang masih me nyisakan sedikit darah itu ..

"Mister. Sambut!"

Plaak ...

Dreep ..

Pertama kali disambut kepalanya Sopan, menyusul kemudian Pak Bendo.

"Kurang satu Mister," terang Pak Kades.

"Siapa?"

"Pak Jaya, masih anak buahnya Pak Bendo," kata Ki Doyok.

"Tapi menurutku, ini sudah lebih dari cukup. Soal siapa tadi?"

"Pak Jaya Bu Letnan," jawab Pak Kades Marzuki.

"Oh ya. Saya kira nantilah. Yang penting tiga sudah kita dapat. La gian pula menurut perkiraanku, beliau Pak Jaya itu tak mungkin juga selamat."

"Saya sependapat dengan Bu Let nan Mister. Yang penting malam ini juga kita tinggalkan hutan berhantu ini," kata Ki Doyok.

Setiap jengkal selalu ada saja suara aneh dan penampakan 'arwah gen tayangan'.

Apa tidak mengerikan ..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar