Yahudi Genggam Dunia (28)
Oleh aminuddin
Komunitas Yahudi
PENGANUT Yudaisme di Indonesia sudah ada sejak jaman Belanda, na mun sampai saat ini hanya ada sa tu sinagoga di Indonesia, yaitu di Sulawesi Utara.
Di dalam Sinagoga Shaar Hashamayim di Tondano Barat Sulawesi Utara pada Sabtu siang pertengahan Desember lalu, tam pak satu keluarga, sepasang suami istri dan seorang anaknya, tengah beribadah.
Ibadah Sabat di Sinagoga kali ini hanya diikuti oleh empat orang; Rabbi Yaakov Baruch yang memimpin ibadah, dan Manuel Sadonda bersama istri dan seorang anaknya.
Mereka duduk terpisah, karena tempat duduk perempuan dan laki-laki dibatasi dengan menggunakan sebuah "sekat" atau pembatas.
Dalam beberapa doa yang dipanjatkan, Rabbi dan Manuel terlihat menggunakan Tallit, kain ibadah yang dipakai orang Yahudi.
Usai ibadah, dilanjutkan dengan per jamuan yaitu minum anggur yang dilakukan di ruangan berbeda. Ya
hudi di Jerman dianjurkan tidak me ngenakan kippah setelah terjadi serangan.
Yaakov mengatakan, ibadah Yahudi lebih banyak dilakukan di rumah, se dangkan setiap hari Sabtu, ibadah dapat dilakukan di Sinagoga bera tap merah yang didirikan sejak 13 tahun.
"Dalam ibadah hari Sabat, sangat dibutuhkan minyan yaitu kuorum dari 10 orang laki-laki dewasa. Tan pa minyan, tak semua doa bisa dipanjatkan. Ini seperti kewajiban. Minimal ada 10 laki-laki Yahudi dewasa, baru beberapa doa bisa dibaca secara sempurna," ujar Yaakov kepada wartawan di Manado Eva Aruperes.
Sejak berdiri pada 2004 lalu, Sina goga Shaar Hashamayim dapat diterima dengan baik oleh masya rakat setempat yang mayoritas beragama Kristen.
Sentimen anti Yahudi di berbagai daerah terjadi karena konflik Israel-Palestina, dan sempat meningkat di dalam beberapa bulan terakhir me nyusul pengakuan Yerusalem seba gai ibukota Israel oleh Amerika Seri kat.
Namun situasi tersebut, menurut Yaakov, tidak berdampak pada kehidupan komunitas Yahudi di Sulut.
"Masyarakat Sulut, apapun agamanya cukup dewasa dalam menyikapi setiap kejadian yang ada di sana. Kita tahu ini bukan masa lah agama tapi masalah konflik wilayah. Jadi kita sudah serahkan semuanya kepada pemerintah kita untuk memberikan statemen dan lain-lain menyangkut soal itu," jelas Yaakov.
Meski begitu, Yaakov mengaku Si nagoga sempat mengalami gang guan seperti vandalisme, pencore tan pada dinding dan pencurian artefak.
Puluhan kilometer dari Sinagoga Shaar Hashamayim, menorah se tinggi 18 meter telah berdiri sejak 2009 lalu di atas bukit Manado, ibukota Provinsi Sulut, atas biaya pemerintah. Selain itu, pemerintah setempat juga merenovasi sinagoga.
Di Sulawesi Utara, keturunan Yahudi Belanda leluasa mempraktekkan ajaran agama mereka secara terbuka sebelum kemerdekaan 1945.
Namun setelah itu banyak yang berpindah agama menjadi Kristen atau Islam untuk keamanan mereka.
Yaakov juga baru mengetahui dirinya memiliki darah Yahudi dari nenek dari ibunya ketika masih SMA. Kakek buyutnya dari garis keturunan ibunya adalah Elias van Beugen yang merupakan imigran Yahudi Belanda.
Dalam perjalanan ke Belanda dan Israel, Yaakov mengetahui dirinya keturunan van Beugen yang meru pakan penganut Yahudi Ortodoks. Yahudi menganut matrilineal yang mengakui garis keturunan ibu. Na mun, sejak lama keluarga ibunya telah berpindah dari agama Yahudi.
Kakek buyut Yaakov yang bernama Toar Palilingan dari garis keturunan ibunya adalah Elias van Beugen, imigran Yahudi Belanda.
Yaakov kemudian mempelajari aga ma Yahudi di Singapura, dan bekal itu yang membuat dirinya yakin un tuk memimpin peribadatan di sinagoga Sulut.
Pencarian Jati Diri
Di Jakarta, Elisheva Wiriaatmadja kembali menganut agama nenek moyangnya setelah bertahun-tahun menjalani pencarian spiritualitas.
Elisheva mengatakan, salah satu yang membuatnya kembali ke aja ran Yudaisme adalah nubuat dalam kitab suci Torah menyatakan bahwa keturunan Yahudi yang hilang akan kembali.
"Jadi mereka akan kembali lagi pulang ke agama, bahkan ke tanah mereka," kata Elisheva.
"Kakek dari kakek saya itu hari lahir nya sama dengan saya, dan dia Ya hudi, ketika saya mengambil kepu tusan (pindah agama ke Yahudi) saya pikir kayak closing the circle," tambah dia.
Elisheva dibesarkan dalam keluar ga dengan ayah yang seorang Mus lim dan ibunya beragama Kristen, dibebaskan memilih agama ketika dewasa.
Elisheva Wiriaatmadja kembali menganut agama nenek moyang nya setelah bertahun-tahun menja lani pencarian spiritualitas.
Meski awalnya menganut agama ibunya, lebih dari 10 tahun lalu Eli sheva mulai melakukan pencarian spiritual.
Setelah dia mengetahui ada darah Yahudi mengalir di tubuhnya dari garis keturunan ayahnya, dia pun mulai mencari dan mempelajari agama Yahudi.
"Pertama yang kelihatan itu karena bapak tampangnya kebule-bulean dikira keturunan Belanda, lalu sekeluarga pernah melakukan tes DNA dan ternyata ayah keturunan Eropa Timur, dan Yaman dari garis ibu," jelas Elisheva.
Elisheva pun sempat mengunjungi makam leluhurnya yang seorang Yahudi di Cirebon, namun sudah rusak tak terurus.
Dia kemudian menemukan data mengenai makam dan data moya ngnya yang keturunan Yahudi di Jewish History Museum di Belanda.
Sementara silsilah keluarga ibunya yang berasal dari Timur Tengah ti dak terlacak karena minimnya doku mentasi.
Elisheva memutuskan menganut Yudaisme melalui konversi resmi di Australia.
"Untuk menghilangkan keraguan itu diresmikan saja dikonversi, karena garis keturunan ibu tidak terlacak, padahal keturunan keyahudiannya itu dari ibu, kesukuannya itu dari ayah," terang dia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar