Mata Pisau (18)
Oleh Wak Amin
TEET ... Teet ... Teeet ...
Sebuah kapal motor lewat tak jauh dari Mr Fredi dan empat kaki tang annya mencari ikan di pinggir pantai.
"Oooo ... Tolooong. Tolonng kami, pi!" Teriak Jobathan.
"Toooloong. Antar kami pulang oi. Berapa ongkos kami bayaaar!" Ikut juga berteriak Anto.
Sementara Albert ketawa geli ...
"Apa muat kita berempat Bro?" Ta nyanya.
"Aku takut kelebu kita," kata Albert lagi.
"Itu kan jauh. Coba kalau sudah dekat, pasti besar," ujar Jonathan. "Lagian kita disini enggak ada yang gemuk. Kerempeng semuanya."
"Coba kamu yang panggil Seph," pinta Mr Fredi. "Suaramu merdu. Mana tahu mereka kesemsem."
"Oke Tuan. Saya coba ..."
Auuuu ooooo ...
Auuuuu ooooo ...
Uoooo .. Uooooo ...
"Toloooong kamiiiii .."
Sampai tiga kali dipanggil. Kali ke empat, kapal motor yang berjalan lambat itu memutar arah. Belok kiri, menuju posisi Mr Fredi cs saat ini
"Hebat Bro kamu," puji Anto. Semu anya memuji Joseph.
Kapal motor mulai mendekat ...
Lalu berhenti di bibir pantai ..
Semua mendekat ..
Haaaa ...?
Terkejut karena tak ada pengemu dinya.
"Tuan ...!"
"Coba naik Anto. Mana tau sembu nyi yang punya kapal kayu ini."
"Baik Tuan."
Ikut naik ke atas kapal motor, Jona than dan Albert. Sedangkan Joseph menemani Mr Fredi yang berdiri di pasir tepian pantai.
"Ada To?" Tanya Albert.
Anto menggelengkan kepalanya. Su dah diperiksa sampai ke bagian lu ar kapal motor.
"Kamu Bert?!"
"Sama juga."
Albert takjub melihat kapal motor ini. Meski tak terlalu besar, ada satu kamar di belakang.
"Juga ada dapurnya," kata Anto terheran-heran. Bukan soal dapur, kenapa kapal bisa berjalan sendiri tanpa pengemudi.
"Iiich ngeri aku. Yuk turun. Lapor Tuan," ajak Jonathan.
Melompat dari kapal motor ...
Mendekat ke Mr Fredi dan Joseph. Keduanya terlibat pembicaraan se rius ....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar