Jumat, 19 Oktober 2018

Kisah di Balik Berita (14)

Kisah di Balik Berita (14)
Oleh aminuddin


Makanan Sehari-hari


MEDIA  Pakistan sempat bernapas lega setelah tumbangnya rezim militer, namun kini mereka kembali terkekang dan kesulitan menata diri. Hal tersebut karena intimidasi dan tekanan dari milter Pakistan.

Hal itu diperparah dengan terpilih nya Imran Khan, sosok yang dikenal dekat dengan militer, sebagai Per dana Menteri baru Pakistan.

Naiknya Imran merupakan pertanda media harus mulai kembali melaku kan self-censorship. Media Pakistan tidak ingin mengambil risiko dengan mengkritik Khan ataupun militer.

Kasus terbaru yang terkait media adalah penangkapan terhadap Cyril Almeida, seorang kolumnis media lokal yang melalui tulisannya mengungkapkan keterlibatan militer Pakistan dalam kasus terorsime di Mumbai, India tahun 2008.




"Ada budaya diam di sini. Orang-orang ragu untuk mengatakan siapa dalang di balik suatu kasus," ujar Murtaza Solangi selaku Kepala Biro Capital TV, saluran televisi independen di Pakistan.

"Self-Censorship adalah budaya baru disini," tambahnya, dilansir dari laman Reuters, belum lama ini.

Pernyataan Murtaza tentu dibantah oleh militer Pakistan. ISPR selaku lembaga humas militer Pakistan mengatakan bahwa militer tidak pernah mengintervensi media.

"Media kami independen, ISPR tidak berperan apapun dalam pemberitaan media," ungkap sumber dari ISPR.

Ketika dimintai komentar lebih lanjut, ISP menolak.

Di tempat lain, pemerintah juga mengatakan hal senada dengan ISPR.

Menteri Informasi Pakistan, Fawad Chaudry, bahkan menantang media untuk membandingkan kebebasan pers Pakistan dengan negara lain.

"Saya rasa kebebasan di Pakistan dapat dibandingkan dengan negara-negara dunia pertama. Sejauh ini saya belum menerima keluhan atau bukti terkait sensor disini," ungkap Chaudry.

Laporan berbeda ditunjukkan oleh Komisi Perlindungan Jurnalis (CPJ) yang berbasis di Amerika Serikat.

Bulan lalu, CPJ merilis laporan yang membuktikan bahwa militer Pakistan baik secara langsung maupun tidak langsung memaksa media melakukan self-censorship, militer bahkan tidak segan untuk melakukan kekerasan terhadap jurnalis.

Juni lalu misalnya, jurnalis sekaligus aktivis yang vokal mengkritik militer Pakistan, Gul Bukhari, diculik oleh sekelompok orang berseragam tentara dalam perjalanan menghadiri sebuah wawancara televisi.

Bukhari berhasil kembali dalam keadaan selamat, namun ketika diwawancara ia menolak mence ritakan secara detail apa yang terjadi kepadanya.

"Militer secara senyap namun efektif, telah melakukan pembatasan di daerah-daerah, mendorong self-censorship baik secara langsung maupun tidak langsung, termasuk melakukan penghasutan untuk tindak kekerasan terhadap wartawan," tulis CPJ dalam laporannya.

Laporan tersebut ditulis setelah melakukan wawancara dengan beberapa jurnalis dari 5 daerah berbeda di Pakistan.

Tidak hanya kebebasan media, intimidasi militer juga mempengaruhi putusan pengadilan.

Hal tersebut terbukti dalam kasus Almeida di mana nasibnya masih menggantung karena belum jelas tuntutan apa yang akan diberla kukan kepadanya.








___

m.akurat.co

Tidak ada komentar:

Posting Komentar