Minggu, 25 November 2018

Mangkuk (1)

Mangkuk (1)
Oleh Wak Amin


MISTER Rahman masih asyik ber main tenis bersama kolega bisnis nya sore hari di salah satu lapa ngan tenis pusat kota.

Mr Rahman berpasangan dengan Sir Edward. Keduanya melawan pa sangan Mr James dan Sir Effendi.

Saling kejar mengejar angka. Tanpa melupakan senda gurau. Sesekali di selingi tawa dan canda. Jadi ra mai sekali.

Banyak penonton dadakan. Tua dan muda. Laki-laki dan wanita, bujang dan gadis, bahkan tak ketinggalan anak-anak setingkat sekolah dasar.

Tepuk tangan terdengar serempak ketika Sir Edward berhasil mengem balikan smash tajam yang dilepas kan Sir Effendi berulangkali, dan membalasnya dengan tipuan bola pendek menyentuh bibir net.

Demikian pula sebaliknya. Ketika Mr James sukses mengecoh peng embalian bola dari Mr Rahman. Sa at Rahman berlari ke depan net, Mr James melambungkan bola peng embaliannya ke tempat kosong, se hingga tidak bisa terkejar lagi oleh pasangan lawan mainnya.

"Hebat sekali bapak itu. Tak sangka aku," komentar seorang pemuda ke pada teman wanitanya yang duduk di sebelah kanannya.

"Lucu," kata si gadis tersenyum sembari menyibakkan rambutnya yang panjang sebahu.

"Lucu kenapa say?" Tanya si pria penasaran.

"Habis, yang tua hebat, yang muda seperti kakak malah senengnya ngembat."

Ha ha ha ha ...

He he he he ...

Semua pada ketawa. Mengarahkan  mata mereka ke sepasang muda-mudi yang ngobrol tadi.

Karena makin ramai ketawanya, mu ka si pemuda malah merah padam jadinya,  main tenis dihenti kan sementara.

"Ayo Sir Edward, Mr James dan Sir Effendi, kita naik ke bangku penon ton. Cari tahu apa yang sebenarnya telah terjadi," ajak Mr Rahman.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar