Mangkuk (2)
Oleh Wak Amin
SESAMPAINYA Mr Rahman cs di bangku penonton, sepasang muda-mudi tadi mendadak diam dan tak enak hati.
"Ada apa?" Tanya Sir Edward ramah kebapakan.
"Biasalah Om. Anak muda. Suka becanda, penesan." Kata remaja berkaos oblong dan rambut yang dicat warna hijau.
"Kegatelan Om," kata yang lain.
Ha ha ha ha ...
Pecah lagi tawa ...
"Tidak apa-apa Om." Pacar si pemuda akhirnya bicara.
Dia katakan apa yang mereka ber dua omongkan barusan ..
He he he he ...
Gantian Sir Edward yang tertawa. Di susul Mr Rahman, Mr James dan Sir Effendi.
"Ya. Sudah. Kami mengucapkan terima kasih," ucap Sir Edward.
Tak lama setelah itu, Sir Edward cs kembali lagi ke lapangan. Mereka melanjutkan bermain tenis, kali ini disaksikan sejumlah penonton.
"Maafkan saya ya Kak," kata si cewek pada sang pacar.
"Ya sudah. Enggak apa-apa," jawab si doi lega.
"Biasalah Dik. Namanya juga paca ran. Yang namanya berantem mulut sudah biasa. Yang penting jangan berantem fisik. Buahaya itu .." Sa hut bapak berpostur gemuk pendek.
"Kenapa buahaya Pak?" Tanya re kannya yang duduk di sebelah.
"Bisa bunting tau .."
Ha ha ha ha ..
Kembali pecah tawa ..
Tapi tawa penonton kali ini tak me mbuat Mr Rahman cs menghenti kan sementara bermain tenis se perti sebelumnya.
Mereka justru makin bersemangat. Saling smash dan melepaskan bola lambung ke belakang dengan sese kali main tipis di depan net.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar