Kamis, 20 Desember 2018
Kenapa Keluarga Nabi Dihabisi (10)
Kenapa Keluarga Nabi Dihabisi (10)
Oleh aminuddin
SYAIKHUL Islam rahimahullah mengatakan dalam kitab 'Aqidah al-Wasithiyyah' : “Ahlussunnah menahan lidah dari permasalahan atau pertikaian yang terjadi di antara para sahabat radhiyallahu ‘anhum."
Dan mereka juga mengatakan: “Sesungguhnya riwayat-riwayat yang dibawakan dan sampai ke pada kita tentang keburukan-keburukan para sahabat radhi yallahu ‘anhum (pertikaian atau peperangan) ada yang dusta dan ada juga yang ditambah, diku rangi dan dirubah dari aslinya (ser ta ada pula yang shahih-pen).
Riwayat yang shahih menyatakan bahwa para sahabat radhiyallahu ‘anhum ini ma’dzûrûn (orang-orang yang diberi udzur). Baik dikatakan karena mereka itu para mujtahid yang melakukan ijtihad dengan benar ataupun juga para mujtahid yang ijtihadnya keliru.”
Ahlussunah wal Jama’ah memposi sikan riwayat-riwayat ini. Ketiga riwayat ini bertebaran dalam kitab-kitab tarikh (sejarah). Dan ini mencakup semua kejadian dalam sejarah Islam, termasuk kisah pembunuhan Husain bin Ali ra di Karbala.
Sebagian besar riwayat tentang peristiwa menyedihkan ini adalah kebohongan belaka. Sebagian lagi dhaif dan ada juga yang shahih.
Riwayat yang dinyatakan shahih oleh para ulama ahli hadits yang bersesuaian dengan kaidah ilmiah dalam ilmu hadits, inilah yang wajib dijadikan pedoman dalam mengetahui apa yang terjadi sebenarnya.
Dari sini kita dapat memahami betapa sanad itu sangat penting untuk membungkam para pendusta dan membongkar niat busuk mereka.
Sufyan ats-Tsauri rahimahullah mengatakan, “Sanad itu senjata kaum muslimin, jika dia tidak memiliki senjata lalu apa yang dia pergunakan dalam berperang."
Perkataan ini diriwayatkan oleh al-Hâkim dalam kitab 'al-Madkhal.'
‘Abdullah bin Mubârak rahimahullah mengatakan, “Sanad ini termasuk bagian dari agama. Kalau tidak ada isnad, maka siapapun bisa berbicara semaunya.”
Perkataan ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Muqaddimah Kitab Shahih beliau rahimahullah.
Di tempat yang sama, Imam Muslim raimahullah juga membawakan perkataan Ibnu Sîrin. “Dahulu, mereka tidak pernah bertanya tentang sanad. Ketika fitnah mulai banyak, mereka mengatakan, “Sebutkanlah nama orang-orangmu yang meriwayatkannya” !
Kronologi Terbunuhnya Husein
Berkait dengan peristiwa Karbala, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah mengatakan, “Orang-orang yang meriwayatkan pertikaian Husain ra telah memberikan tambahan dusta yang sangat banyak, sebagaimana juga mereka telah membubuhkan dusta pada peristiwa pembunuhan terha dap ‘Utsman ra, sebagaimana mereka juga memberikan tam bahan cerita (dusta) pada peristi wa-peristiwa yang ingin mereka besar-besarkan, seperti dalam riwayat mengenai peperangan, kemenangan dan lain sebagainya.
Para penulis tentang berita pembu nuhan Husain ra, ada diantara mere ka yang ahli ilmu (ulama) seperti al-Baghawi rahimahullah dan Ibnu Abi Dun-ya dan lain sebagainya.
Namun demikian, diantara riwayat yang mereka bawakan ada yang terputus sanadnya. Sedangkan yang membawakan cerita tentang peristiwa ini dengan tanpa sanad, kedustaannya sangat banyak."
Oleh karenanya, dalam pembaha san tentang peristiwa ini perlu diperhatikan sanadnya ..
Riwayat yang paling shahih ini diba wakan oleh Imam al-Bukhâri (No 3748) :
“Aku diberitahu oleh Muhammad bin Husain bin Ibrâhîm, dia mengatakan : aku diberitahu oleh Husain bin Muhammad, kami diberitahu oleh Jarîr dari Muhammad dari Anas bin Mâlik Radhiyallahu ‘anhu, dia mengatakan : Kepala Husain dibawa dan didatangkan kepada ‘Ubaidullah bin Ziyâd. Kepala itu ditaruh di bejana. Lalu ‘Ubaidullah bin Ziyâd menusuk-nusuk (dengan pedangnya) seraya berkomentar sedikit tentang ketampanan Husain.
Anas Radhiyallahu ‘anhu mengatakan, “Diantara Ahlul bait, Husain adalah orang yang paling mirip dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.”
Saat itu, Husain Radhiyallahu ‘anhu disemir rambutnya dengan wasmah (tumbuhan, sejenis pacar yang condong ke warna hitam).”
Kisahnya, Husain bin Ali ra tinggal di Mekah bersama beberapa shaha bat, seperti Ibnu ‘Abbâs dan Ibnu Zubair.
Ketika Muawiyah ra meninggal dunia pada tahun 60 H, anak beliau Yazîd bin Muâwiyah menggantikannya sebagai imam kaum muslimin atau khalifah.
Saat itu, penduduk Irak yang dido minasi pengikut Ali ra menulis su rat kepada Husain, meminta beliau pindah ke Irak.
Mereka berjanji akan membai’at Husein sebagai khalifah karena mereka tidak menginginkan Yazîd bin Muâwiyah menduduki jabatan Khalifah.
Tidak cukup dengan surat, mereka terkadang mendatangi Husain ra di Mekah, mengajak beliau berangkat ke Kufah dan berjanji akan menye diakan pasukan.
Para sahabat seperti Ibnu Abbâs radhiyallahu ‘anhuma kerap kali menasehati Husein ‘anhuma agar tidak memenuhi keinginan mereka, karena ayah Husein, Ali bin Abi Thalib, dibunuh di Kufah dan Ibnu Abbas khawatir mereka membunuh Husein juga disana.
Husein mengatakan, “Saya sudah melakukan istikharah dan akan berangkat kesana”.
Sebagian riwayat menyatakan bah wa beliau mengambil keputusan ini karena belum mendengar kabar ten tang sepupunya Muslim bin ‘Aqil yang telah dibunuh di sana.
Akhirnya, berangkatlah Husein ber sama keluarga menuju Kufah ...
Sementara di pihak yang lain, ‘Ubaidullah bin Ziyâd diutus oleh Yazid bin Muawiyah untuk mengatasi pergolakan di Irak.
Akhirnya, ‘Ubaidullah dengan pasukannya berhadapan dengan Husein bersama keluarganya yang sedang dalam perjalanan menuju Irak.
Pergolakan ini sendiri dipicu oleh orang-orang yang ingin meman faatkan Husein ra ....
Dua pasukan yang sangat tidak im bang ini bertemu, sementara orang-orang Irak yang membujuk Husein, dan berjanji akan membantu serta menyiapkan pasukan justru melari kan diri meninggalkan Husain dan keluarganya berhadapan dengan pasukan Ubaidullah.
Sampai akhirnya, terbunuhlah Hu sein ra sebagai orang yang terzha limi dan sebagai syahid.
Kepalanya dipenggal lalu dibawa kehadapan ‘Ubaidullah bin Ziyâd dan kepala itu diletakkan di bejana.
Lalu ‘Ubaidullah yang durhaka ini menusuk-nusuk hidung, mulut dan gigi Husalein, padahal di situ ada Anas bin Mâlik, Zaid bin Arqam dan Abu Barzah al-Aslami radhiyallahu ‘anhum.
Anas radhiyallahu ‘anhu mengata kan, “Singkirkan pedangmu dari mulut itu, karena aku pernah meli hat mulut Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mencium mulut itu!”
Mendengarnya, orang durhaka ini mengatakan, “Seandainya saya tidak melihatmu sudah tua renta yang akalnya sudah rusak, maka pasti kepalamu saya penggal.”
Dalam riwayat at- Tirmidzi dan Ibnu Hibbân dari Hafshah binti Sirîn dari Anas radhiyallahu ‘anhu dinyatakan :
“Lalu ‘Ubaidullah mulai menusukkan pedangnya ke hidung Husain radhiyallahu ‘anhu”.
Dalam riwayat ath-Thabrâni rahimahullah dari hadits Zaid bin Arqam radhiyallahu ‘anhu :
“Lalu dia mulai menusukkan pedang yang di tangannya ke mata dan hidung Husein radhiyallahu ‘anhu. Aku (Zaid bin Arqam) mengatakan, “Angkat pedangmu, sungguh aku pernah melihat mulut Rasulullah (mencium) tempat itu”.
Demkian juga riwayat yang disampaikan lewat jalur Anas bin Mâlik radhiyallahu ‘anhu :
Aku (Anas bin Malik) mengatakan kepadanya, “Sungguh aku telah melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mencium tempat dimana engkau menaruh pedangmu itu.”
Lalu Ubaidullah mengangkat pedangnya ...
Demikianlah kejadiannya ...
Setelah Husein radhiyallahu ‘anhu ma terbunuh, kepala beliau dipeng gal dan ditaruh di bejana. Mata, hi dung dan gigi beliau ditusuk-tusuk dengan pedang. Para sahabat yang menyaksikan hal ini meminta kepa da Ubaidullah orang durhaka ini, agar menyingkirkan pedang itu, karena mulut Rasulullah pernah menempel tempat itu. Alangkah tinggi rasa hormat mereka kepada Rasulullah dan alangkah sedih hati mereka menyaksikan cucu Rasu lullah, orang kesayangan beliau di hinakan di depan mata mereka.
Dari sini, kita mengetahui betapa banyak riwayat palsu tentang peris tiwa ini yang menyatakan kepala Husein diarak sampai diletakkan di depan Yazid rahimahullah.
Para wanita dari keluarga Husein dikelilingkan ke seluruh negeri de ngan kendaaraan tanpa pelana, ditawan dan dirampas. Semua ini merupakan kepalsuan yang dibuat Rafidhah (Syiah).
Karena Yazid saat itu sedang bera da di Syam, sementara kejadian me milukan ini berlangsung di Irak ...
Syaikhul Islam Taimiyyah rahimahullah mengatakan, “Dalam riwayat dengan sanad yang majhul dinyatakan bahwa peristiwa penusukan ini terjadi di hadapan Yazid, kepala Husein radhiyallahu ‘anhuma dibawa kehadapannya dan dialah yang menusuk-nusuk gigi Husein.
Disamping dalam cerita (dusta) ini terdapat isyarat yang menunjukkan bahwa cerita ini bohong, maka (untuk diketahui juga-red) para sahabat yang menyaksikan peris tiwa penusukan ini tidak berada di Syam, akan tetapi di negeri Irak.
Justru sebaliknya, riwayat yang dibawakan oleh beberapa orang menyebutkan bahwa Yazid tidak memerintahkan ‘Ubaidullah untuk membunuh Husain.”
Yazid rahimahullah sangat menyesalkan terjadinya peristiwa menyedihkan itu. Karena Mu’awiyah berpesan agar berbuat baik kepada kerabat Rasulullah SAW.
Maka, saat mendengar kabar Hu sein dibunuh, mereka sekeluarga menangis dan melaknat ‘Ubaidul lah ...
Hanya saja dia tidak menghukum dan meng-qisas Ubaidullah sebagai wujud pembelaan terhadap Husein secara tegas.
Jadi memang benar, Husein dibunuh dan kepalanya dipotong, tapi cerita tentang kepalanya diarak, wanita-wanita dinaikkan kendaraan tanpa pelana dan dirampas, semuanya dhaif (lemah).
Alangkah banyak riwayat dhaif dan dusta seputar kejadian menyedih kan ini, sebagaimana dikatakan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah di atas ..
Selanjutnya kisah pertumpahan da rah yang terjadi di Karbala ditulis dan diberi tambahan-tambahan dus ta.
Tambahan-tambahan dusta ini ber tujuan untuk menimbulkan dan me munculkan fitnah perpecahan di tengah kaum muslimin.
Sebagian dari kisah-kisah dusta itu bisa kita dapatkan dalam kitab Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah dalam 'Minhâjus Sunnah IV/517 dan 554, 556' :
– Ketika Hari pembunuhan terhadap Husein, langit menurunkan hujan darah lalu menempel di pakaian dan tidak pernah hilang dan langit nampak berwarna merah yang tidak pernah terlihat sebelum itu.
– Tidak diangkat sebuah batu melainkan di bawahnya terdapat darah penyembelihan Husein radhiyallahu ‘anhuma.
– Kemudian mereka juga menisbatkan kepada Rasulullah SAW sebuah perkataan yang berbunyi :
Mereka ini adalah titipanku pada kalian, kemudian Allah Azza wa Jalla menurunkan ayat :
“Katakanlah:”Aku tidak meminta kepadamu sesuatu upahpun atas seruanku kecuali kasih sayang dalam kekeluargaan” [asy Syûrâ/42:23]
Riwayat ini dibantah oleh para ulama di antaranya Ibnu Taimiyyah rahimahullah dengan mengatakan, “Apa masuk di akal, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam meni tipkan kepada makhluk padahal Allah Azza wa Jalla tempat penitip yang terbaik. Sedangkan ayat di atas yang mereka anggap diturun kan Allah Azza wa Jalla berkenaan dengan peristiwa pembunuhan Hu sein radhiyallahu ‘anhuma, ini juga merupakan satu bentuk keboho ngan. Karena ayat ini terdapat da lam surat as-Syûrâ dan surat ini Makkiyah. Allah Azza wa Jalla me nurunkan surat ini sebelum Ali ra dhiyallahu ‘anhu dan Fatimah ra dhiyallahu anha menikah."
Terzhalimi dan Mati Syahid
Ini merupakan keyakinan Ahlussunnah. Pendapat ini berada diantara dua pendapat yang saling berlawanan ...
Syaikhul Islam rahimahullah mengatakan, “Tidak disangsikan lagi bahwa Husein radhiyallahu ‘anhuma terbunuh dalam keadaan terzhalimi dan syahid. Pembunuhan terhadap Husein radhiyallahu ‘anhuma merupakan tindakan maksiat kepada Allah Azza wa Jalla dan rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam dari para pelaku pembunuhan dan orang-orang yang membantu pembunuhan ini. Di sisi lain merupakan musibah yang me nimpa kaum muslimin, keluarga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan yang lainnya. Husein radhiyallahu ‘anhuma berhak men dapatkan gelar syahid, kedudukan dan derajat ditinggikan”.
Kemudian, di halaman yang sama, Ibnu Taimiyyah rahimahullah mengatakan bahwa pembunuhan terhadap Husein radhiyallahu ‘anhuma tidak lebih besar daripada pembunuhan terhadap para rasul.
Allah Azza wa Jalla telah memberitahukan bahwa Bani Israil telah membunuh para nabi tanpa alasan yang benar. Pembunuhan terhadap para nabi itu lebih besar dosanya dan merupakan musibah yang lebih dahsyat.
Begitu pula pembunuhan terhadap ‘Ali radhiyallahu ‘anhu (bapak Husein radhiyallahu ‘anhuma) lebih besar dosa dan musibahnya, termasuk pembunuhan terhadap ‘Utsman juga radhiyallahu ‘anhu.
Ini merupakan bantahan telak bagi kaum Syi’ah yang meratapi kema tian Husein radhiyallahu ‘anhuma, namun, tidak meratapi kematian para nabi.
Padahal pembunuhan yang dilakukan oleh Bani Israil terhadap para nabi tanpa alasan yang benar lebih besar dosa dan musibahnya.
Ini juga menunjukkan mereka bersi kap ghuluw (melampau batas) ke pada Husein radhiyallahu ‘anhu.
Sikap ghuluw ini mendorong mereka membuat berbagai hadits palsu. Misalnya, riwayat yang menerangkan bahwa Rasulullah SAW menyatakan pembunuh Husein raadhiyallahu ‘anhu akan berada di tabut (peti yang terbuat dari api). Dia mendapatkan siksa setengah siksa penghuni neraka, kedua tangan dan kakinya diikat dengan rantai dari api neraka, ditelungkupkan sampai masuk ke dasar neraka dan dalam keadaan berbau busuk. Penduduk neraka berlindung dari bau busuk yang ke luar dari orang tersebut dan dia kekal di dalamnya.
Syaikhul Islam Ibnu Tamiyyah rahimahullah mengomentari riwayat ini dengan mengatakan, “Hadits ini termasuk di antara riwayat yang berasal dari para pendusta”.
Menyikapi Peristiwa Karbala
Menyikapi peristiwa wafatnya Hu sein ra, umat manusia terbagi men jadi tiga golongan ...
Syaikhul Islam rahimahullah menga takan, “Dalam menyikapi peristiwa pembunuhan Husein radhiyallahu ‘anhuma, manusia terbagi menjadi tiga : dua golongan yang ekstrim dan satu berada di tengah-tengah.
- Golongan Pertama : pembunuhan terhadap Husein radhiyallahu ‘anhuma itu merupakan tindakan benar. Karena Husein radhiyallahu ‘anhuma ingin memecah belah kaum muslimin.
Rasulullah SAW bersabda :
“Jika ada orang yang mendatangi kalian dalam keadaan urusan kali an berada dalam satu pemimpin lalu pendatang hendak memecah belah jamaah kalian, maka bunuh lah dia."
Kelompok pertama ini mengatakan Husein radhiyallahu ‘anhuma da tang saat urusan kaum muslimin berada di bawah satu pemimpin (yaitu Yazid bin Muawiyah) dan Husein radhiyallahu ‘anhuma hen dak memecah belah umat.
Sebagian lagi mengatakan Husein radhiyallahu ‘anhuma merupakan orang pertama yang memberontak kepada penguasa.
Kelompok ini melampaui batas, sampai berani menghinakan Hu sein Radhiyallahu ‘anhuma.
Inilah kelompok ‘Ubaidullah bin Ziyâd, Hajjâj bin Yusûf dan lain-lain. Sedangkan Yazid bin Muâwiyah rahimahullah tidak seperti itu.
Meskipun tidak menghukum ‘Ubaidullah, namun ia tidak menghendaki pembunuhan ini ..
- Golongan Kedua : Husein radhiyallahu ‘anhu adalah imam yang wajib ditaati; tidak boleh menjalankan suatu perintah kecuali dengan perintahnya; tidak boleh melakukan shalat jamaah kecuali di belakangnya atau orang yang ditunjuknya, baik shalat lima waktu ataupun shalat Jumatt dan tidak boleh berjihad melawan musuh kecuali dengan izinnya dan lain sebagainya.
Kelompok pertama dan kedua ini berkumpul di Irak. Hajjâj bin Yûsuf adalah pemimpin golongan perta ma. Ia sangat benci kepada Husein radhiyallahu ‘anhuma dan merupa kan sosok yang zhalim.
Sementara kelompok kedua dipim pin oleh Mukhtâr bin Abi ‘Ubaid ya ng mengaku mendapat wahyu dan sangat fanatik dengan Husein radhiyallahu ‘anuhma.
Orang inilah yang memerintahkan pasukannya agar menyerang dan membunuh ‘Ubaidullah bin Ziyad dan memenggal kepalanya.
Golongan Ketiga : Ahlussunnah wal Jamaah yang tidak sejalan dengan pendapat golongan perta ma, juga tidak dengan pendapat golongan kedua.
Mereka mengatakan Husein radhiyallahu ‘anhuma terbunuh dalam keadaan terzhalimi dan mati syahid.
Inilah keyakinan Ahlussunnah wal Jamaah, yang selalu berada di tengah antara dua kelompok ...
Ahlussunnah mengatakan Husein radhiyallahu ‘anhuma bukanlah pemberontak. Sebab, kedatangannya ke Irak bukan untuk memberontak.
Seandainya mau memberontak, be liau bisa mengerahkan penduduk Mekah dan sekitarnya yang sangat menghormati dan menghargai beliau.
Karena, saat beliau di Mekah, ke wibaannya mengalahkan wibawa para sahabat lain yang masih hidup pada masa itu di Mekkah.
Beliau rdhiyallahu ‘anhuma seorang alim dan ahli ibadah. Para sahabat sangat mencintai dan menghorma tinya.
Karena beliaulah Ahli Bait yang paling besar ...
Jadi Husein radhiyallahu ‘anhuma sama sekali bukan pemberontak. Oleh karena itu, ketika dalam perja lanannya menuju Irak dan mende ngar sepupunya Muslim bin ‘Aqîl dibunuh di sana, beliau berniat un tuk kembali ke Mekkah.
Akan tetapi, beliau ditahan dan dipaksa oleh penduduk Irak untuk berhadapan dengan pasukan ‘Ubaidullah bin Ziyâd.
Akhirnya, beliau tewas terbunuh da lam keadaan terzhalimi dan mati syahid ...
Setan Sebarkan Bid'ah
Syaikhul Islam mengatakan, “Dengan sebab kematian Husein radhiyallahu ‘anhuma, setan memunculkan dua bid’ah di tengah manusia.
Pertama : Bid’ah kesedihan dan ratapan para hari Asyûra (di negeri kita ini, acara bid’ah ini sudah mulai diadakan-pen) seperi menampar-nampar, berteriak, merobek-robek, sampai-sampai mencaci maki dan melaknat generasi Salaf, memasukkan orang-orang yang tidak berdosa ke dalam golongan orang yang berdosa.
(Para sahabat seperti Abu Bakar dan Umar dimasukkan, padahal mereka tidak tahu apa-apa dan tidak memiliki andil dosa sedikit pun. Pihak yang berdosa adalah yang terlibat langsung kala itu).
Mereka sampai berani mencaci Sâbiqûnal awwalûn. Kemudian riwayat-riwayat tentang Husein radhiyallahu ‘anhuma dibacakan yang kebanyakan merupakan kebohongan.
Karena tujuan mereka adalah membuka pintu fitnah (perpecahan) di tengah umat ...
Kemudian Syaikhul Islam rahimahullah juga mengatakan , “Di Kufah, saat itu terdapat kaum yang senantiasa membela Husein radhiyallahu ‘anhuma yang dipimpin oleh Mukhtâr bin Abi ‘Ubaid al-Kadzdzâb (karena dia mengaku mendapatkan wahyu-pen).
Di Kufah juga terdapat satu kaum yang membenci Ali dan keturunan beliau radhiyallahu ‘anhum.
Di antara kelompok ini adalah Hajjâj bin Yûsuf ats-Tsaqafi. Dalam sebuah hadits shahîh dijelaskan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
“Akan ada di suku Tsaqif seorang pendusta dan perusak”.
Orang Syi’ah yang bernama Mukhtâr bin Abi ‘Ubaid itulah sang pendusta. Sedangkan sang perusak adalah al-Hajjaj.
Yang pertama membuat bid’ah kesedihan, sementara yang kedua membuat bid’ah kesenangan.
Kelompok kedua ini pun meriwayatkan hadits yang menyatakan barangsiapa melebihkan nafkah keluarganya pada hari ‘Asyûra, maka Allah Azza wa Jalla melonggarkan rezekinya selama setahun itu.”
Juga hadits, “Barangsiapa mema kai celak pada hari ‘Asyûra, maka tidak akan mengalami sakit mata pada tahun itu."
Dan banyak juga hadist lain ...
Kedua : Bida’ah yang kedua adalah bid’ah kesenangan pada hari Asyu ra : Karena itu, para khatib yang se ring membawakan riwayat ini – ka rena ketidaktahuannya tentang ilmu riwayat atau sejarah – , sebe narnya secara tidak langsung, ma suk ke dalam kelompok al-Hajjâj, kelompok yang sangat membenci Husein radhiyallahu ‘anhuma.
Padahal wajib bagi kita meyakini bahwa Husein radhiyallahu ‘anhu ma terbunuh dalam keadaan ter zhalimi dan mati syahid.
Dan wajib bagi kita mencintai sahabat yang mulia ini tanpa melampaui batas dan tanpa mengurangi haknya.
Tidak mengatakan Husein seorang imam yang ma’sum (terbebas dari semua kesalahan), tidak pula me ngatakan pembunuhan terhadap Husein radhiyallahu anhuma itu adalah tindakan yang benar.
Pembunuhan terhadap Husein ra adalah tindakan maksiat kepada Allah SWT dan Rasul-Nya.
_____
- Penulis artikel ini: Ustadz Abdul Hakim bin Amir Abdat.
- Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 10/Tahun XII/1430H/2009M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-761016
- Sumber : almanhaj.or.id
- https:/www.kisahislami.net>tag> ubaidullah ...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar