Kamis, 20 Desember 2018

Kenapa Keluarga Nabi Dihabisi (9)

Kenapa Keluarga Nabi Dihabisi (9)
Oleh aminuddin



1.3. Syahidnya Husein, Cucu Nabi



KITA awali kisah ini dengan mema suki tahun 60 H ketika Yazid bin Muawiyah dibaiat menjadi khalifah. Saat itu Yazid yang berumur 34 tahun diangkat oleh ayahnya Mua wiyah bin Abi Sufyan ra sebagai khalifah umat Islam menggantikan dirinya.

Ketika Yazid dibaiat ada dua orang sahabat Nabi yang enggan membaiatnya. Mereka adalah Abdullah bin Zubeir dan Husein bin Ali bin Abi Thalib.

Abdullah bin Zubeir pun diminta untuk berbaiat, ia mengatakan, “Tunggulah sampai malam ini, akan aku sampaikan apa yang ada di benakku.”

Saat malam tiba, Abdullah bin Zu beir pergi dari Madinah menuju Mekah.

Demikian juga Husein, ketika beliau dipinta untuk berbaiat, beliau mengatakan, “Aku tidak akan berbaiat secara sembunyi-sembunyi, tapi aku menginginkan agar banyak orang melihat baiatku.”

Saat malam menjelang, beliau juga berangkat ke Mekah menyusul Abdullah bin Zubeir ..

Kabar tidak berbaiatnya Husein dan perginya beliau ke kota Mekah sampai ke telinga penduduk Irak atau lebih spesifiknya penduduk Kufah.

Mereka tidak menginginkan Yazid menjadi khalifah bahkan juga Mua wiyah, karena mereka adalah pendukung Ali dan anak keturunannya.

Lalu penduduk Kufah pun mengirimi Husein surat yang berisi “Kami belum berbaiat kepada Yazid dan tidak akan berbaiat kepadanya, kami hanya akan membaiat Anda (sebagai khalifah).”

Semakin hari, surat tersebut pun semakin banyak sampai ke tangan Husein, jumlanya mencapai 500 surat.

Tidak terburu-buru menanggapi isu ini, Husein mengutus sepupunya Muslim bin Aqil bin Abi Thalib menuju Kufah untuk meneliti dahulu kebenaran berita tersebut.

Tibalah Muslim bin Aqil di Kufah dan ia melihat kebenaran berita yang sampai kepada Husein ..

Penduduk Kufah pun membaiat Husein melalui Muslim bin Aqil.

Kabar dibaiatnya Husein melalui Muslim bin Aqil sampai ke Syam, tempat Khalifah Yazid bin Muawiyah.

Ia segera mencopot gubernur Kufah, Nu’man bin Basyir ra karena Nu’man tidak mengambil tindakan apa pun atas kejadian itu.

Sebagai penggantinya, diangkatlah Ubaidullah bin Ziyad menjadi amir Kufah.

Ubaidullah langsung bergerak cepat hendak mengupayakan penangkapan Muslim bin Aqil.

Langkah pertama yang dilakukan Ubaidullah adalah mengintrogasi sahabat-sahabat dekat Muslim. Ia menangkap Hani’ bin Urwah, kemudian menanyai keberadaan Muslim kepadanya.

Hani’ bin Urwah bersikukuh tidak akan membocorkan rahasia persembunyian Muslim.

Akhirnya ia ditahan ...

Penahanan Hani’ bin Urwah memancing reaksi dari Muslim bin Aqil, ia mengerahkan 4000 orang mengepung benteng Ubaidullah bin Ziyad menekannya agar membebaskan Hani’.

Sayang, kisah penghianatan penduduk Kufah ternyata berulang, mereka yang sebelumnya membaiat Muslim bin Aqil pergi meninggalkannya.

Di siang hari saja jumlah 4000 tersebut menyusut hanya menjadi 30 orang dan ketika matahari terbenam tinggallah Muslim bin Aqil seorang diri.

Akhirnya ia pun terbunuh ...

Sebelum wafat, ia memberi pesan kepada Umar bin Sa’ad untuk me nyampaikannya kepada Husein bin Ali bin Abi Thalib.

“Pulanglah bersama keluargamu. Jangan engkau terpedaya oleh penduduk Kufah. Karena mereka telah berhianat kepadamu dan kepadaku.”


Menuju Kufah

Pada saat hendak berangkat menuju Kufah, Husein bertemu dan dinasihati oleh beberapa sahabat Nabi agar tidak menuju Kufah.

Di antara sahabat yang menasihati Husein adalah:

- Abdullah bin Abbas. “Kalau sekiranya orang-orang tidak mencela aku dan engkau, akan aku ikat tanganku ini di kepalamu. Tidak akan kubiarkan engkau pergi.”

- Abdullah bin Umar, setelah mendengar keberangkatan Husein menuju Kufah, ia bergegas menyusulnya dan berhasil bertemu dengannya setelah perjalanan 3 malam.

Abdullah bin Umar: Hendak kemana engkau?

Husein: Menuju Irak.

Husein mengeluarkan surat-surat penduduk Irak yang menunjukkan mereka berpihak kepada dirinya.

Husein mengatakan, “Ini surat-surat mereka, aku akan kesana dan menerima baiat mereka.”

Abdullah bin Umar: Aku akan sampaikan kepadamu sebuah hadis. Sesungguhnya Jibril pernah datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ia memberi pilihan kepada Nabi antara dunia dan akhirat, beliau pun memilih akhirat dan tidak menginginkan dunia. Engkau adalah darah daging Rasulullah, demi Allah! Janganlah salah seorang dari kalian (keluarga Nabi) mengambil dunia tersebut atau menggapai bagian yang telah Allah jauhkan dari kalian.

Husein pun tetap pada pendiriannya berangkat menuju Kufah.

Melihat pendirian Husein, menangislah Abdullah bin Umar dan mengatakan “Aku titipkan engkau kepada Allah dari pembunuhan.”

- Abdullah bin Zubeir mengatakan, “Hendak kemana engkau wahai Husein? Engkau mau menemui orang-orang yang telah membunuh ayahmu dan menghina saudaramu (Hasan bin Ali)? Janganlah pergi!"

Namun Husein pun tetap berangkat ...

- Abu Said al-Khudri mengatakan, “Wahai Abu Abdullah (maksudnya Husein pen.), aku ada sebuah nasihat untukmu dan aku adalah orang yang sangat mencintaimu. Aku mendengar berita bahwa Syiah (pendukung)mu di Kufah menulis pernyataan kepadamu, mereka mengajakmu keluar dari Mekah dan bergabung dengan mereka di Kufah. Janganlah engkau menemui mereka! Sesungguhnya aku mendengar ayahmu sewaktu di Kufah mengatakan, ‘Demi Allah, aku telah membuat mereka (penduduk Kufah) bosan dan marah dan mereka pun membuatku bosan juga membuatku marah. Tidak ada seorang pun di antara mereka yang memenuhi janji.”

Saat Husein melanjutkan perjalanan, sampailah Umar bin Sa’ad utusan dari Muslim bin Aqil.

Amir mengabarkan tentang terbunuhnya Muslim bin ‘Aqil dan penghianatan orang-orang Kufah.

Mendengar berita tersebut Husein pun sadar apa yang ia lakukan akan sia-sia.

Ia pun memutuskan untuk pulang ....

Namun anak-anak Muslim bin Aqil menginginkan perjalanan dilanjut kan menuntut hukuman atas tewasnya ayah mereka.

Tiba di Tanah Karbala

Mengetahui Husein bin Ali ra bera ngkat menuju Kufah, Ubaidullah bin Ziyad berencana mencegatnya agar tidak memasuki Kufah dengan mengirim 1000 pasukan  dipimpin al-Hurru bin Yazid at-Tamimi plus  4000 pasukan dikomandoi Umar bin Sa’ad.

Saat tiba di Karbala, Husein bertanya tentang nama daerah tersebut.

“Daerah apa ini?” Orang-orang menjawab, “Ini adalah daerah Karbala.”

Husein pun langsung mengatakan, “Karbun (bencana) dan bala’ (musibah).”

Dibayang-bayangi 5000 pasukan membuat Husein semakin menyadari bahwa janji-janji penduduk Kufah itu hanyalah bualan semata.

Apalagi pasukan-pasukan itu sendiri adalah penduduk Kufah yang telah mengiriminya surat.


Lalu Husein mengajukan tiga al ternatif kepada pasukan Kufah sebagai jalan keluar:

Pertama, Husein meminta agar pasukan Kufah mengawalnya pulang ke Mekah (agar ia dan keluarganya terjaga)

Kedua, pasukan Kufah mengizinkannya untuk pergi ke daerah perbatasan agar ia bergabung dengan pasukan kaum muslimin untuk berjihad.

Ketiga, mereka mengizinkannya me nuju Yazid agar ia membaiatnya secara langsung ..

Umar bin Sa’ad pun menanggapi positif pilihan yang diajukan Hu sein ...

Ia mengusulkan agar Husein me ngirimkan utusan ke Yazid terlebih dahulu dan ia sendiri mengirimkan utusan ke Ubaidullah untuk membe ritakan kabar ini sekaligus alter natif yang diajukan Husein.

Setibanya utusan Umar bin Sa’ad di hadapan Ubaidullah dan menyam paikan apa yang dikehendaki Husein, Ubaidullah pun bergembira dan memberi kemuliaan kepada Husein agar ia sendiri yang memilih sesuai dengan yang ia kehendaki; kembali ke Mekah atau Madinah, menuju daerah perbatasan, atau menuju Yazid di Syam, ia serahkan kepada pilihan Husein.

Namun seseorang yang dekat dengan Ubaidullah yang bernama Syamr bin Dzi al-Jasyan angkat bicara atas keputusan Ubaidullah.

“Demi Allah, urusannya tidak demikian, dia yang harus tunduk kepada putusanmu.”

Maksud Syamr, engkau (Ubaidullah) adalah pemimpin bukan dia (Husein), jadi dia yang harus tunduk kepada putusanmu bukan sebaliknya.

Ternyata Ubaidullah yang tadinya memuliakan Husein berpaling me ngikuti saran dari sahabat dekatnya, Syamr bin Dzi al-Jausyan.

Ubaidullah memutuskan menawan Husein dan dibawa ke hadapannya di Kufah sebagai tawanan kemudia ia yang menentukan kemana Hu sein seharusnya diasingkan.

Setelah sampai perintah Ubaidullah di tanah Karbala, Husein pun menolak kalau dirinya dijadikan tawanan.

Ia seorang muslim, terlebih ia ada lah keluarga Rasulullah. Karena Husein menolak untuk ditawan, maka pasukan Ubaidullah itu berusaha menangkap paksa dirinya.

Husein mengatakan, “Kalian renungi dulu apa yang hendak kalian lakukan. Apakah dibenarkan (secara syariat), kalian memerangi orang sepertiku? Aku anak dari putri Nabi kalian dan tidak ada lagi di bumi ini anak dari putri Nabi ka lian selain diriku. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda tentang aku dan sauda raku (Hasan bin Ali), ‘Dua orang ini adalah pemimpin para pemuda penghuni surga.’

Akhirnya Husein pun terbunuh ber sama keluarga Rasulullah yang la in. Seorang yang secara langsung membunuh Husein dan memenggal kepalanya bernama Sinan bin Anas.

Demikianlah mereka yang mengaku Syiah (pendukung) Ali dan keluarga nya, mereka membelot dan menum pahkan darah ahlul bait Nabi SAW.

Dalam peristiwa ini, ada tiga orang yang berperan besar sehingga cucu Nabi yang mulia ini tewas.

Mereka itu adalah :

> Ubaidullah bin Ziyad

< Syamr bin Dzi al-Jauzyan

> Sinan bin Anas.

Ketiga orang ini adalah Syiah (pendukung) Ali di Perang Shiffin. Mereka termasuk dalam barisan pasukan Ali bin Abi Thalib.

Bisa jadi mereka yang meratapi ke matian Husein di Hari Asyura, me nganiaya diri mereka, berandai-an dai bersama Husein, dan merasa kan penderitaannya, seandainya mereka berada pada hari tersebut.

Mereka akan turut serta dalam pa sukan Kufah dan membelot dari Husein bin Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhuma.












______

- Sumber: Huqbah min at-Tarikh oleh Syaikh Utsman al-Khomis

- KonsultasiSyariah.com




Tidak ada komentar:

Posting Komentar