Minggu, 16 Desember 2018

Mangkuk (21)

Mangkuk (21)
Oleh Wak Amin

"TERHARU aku Wil," ucap Mr Jango.

Pengen rasanya menangis, tapi eng gan dan malu hati karena merasa diri ini sudah tua.

"Aku juga Ngo," kata William sambil menahan geli yang membuat Mr Jango penasaran.

"Kamu kamu Wil?"

"Enggak Ngo. Enggak."

"Itu .. Barusan. Perasaan kulihat kamu ketawa ditahan. Kalau me mang terharu enggak begitu."

"Maaf Ngo. Aku terpaksa begitu  karena tugas kita ..." Akhirnya Wil liam berterus terang.

"Maksud kamu Wil?"

"Kita berdua kan cari orang yang membunuh kolega Mr Rahman. Hidup atau mati. Bagaimana kita berhasil menjalankan tugas kalau tengok orang sedih kita ikut sedih."

Ha ha ha ha ...

"Kalau itu lain Bro. Itu tugas yang tidak bisa tidak harus berhasil. Ti dak boleh gagal. Lah, kalau ini pe rasaan Bro. Kita tak boleh bohongi lah perasaan. Jadi, intinya harus dibedain. Mana tugas dan mana tidak."

Sesaat obrolan mereka terhenti ..

Kenapa ya?

Bu Anisah pamitan pulang. Dia uru ngkan shoping hari ini. Perasaan nya berkecamuk antara lega, ce mas dan kesal.

"Kita ikuti Ngo?" William merasa Mr Jango sudah tidak bernafsu lagi.

Itu awalnya. Tapi, setelah Bu Ani sah dan dua anakny keluar dari mal  menuju areal parkir bawah tanah, pikiran Mr Jango berubah seketika.

"Ayo kita susul Wil!"

"Ayoooo ..."

Tidak ada komentar:

Posting Komentar