Senin, 10 Desember 2018

Tangisan Rasulullah (8)

Tangisan Rasulullah (8)
Oleh aminuddin




Kisah Pemuda Tampan dan Kaya



DIALAH Mush’ab bin Umair, seorang pemuda Quraisy, sahabat Rasulullah yang terkenal kaya dan rupawan.

Orang tuanya memberikan segala fasilitas untuk Mush’ab ...

Penampilannya sangat elegan de ngan pakaian yang indah dan par fum yang semerbak.

Segala jenis kenikmatan dunia ada pada diri Mush’ab ...

Sosok paling rupawan di kalangan pemuda Makkah ...

Orang-orang yang melihat Mush’ab pasti akan terkesima. Al Barra bin Azib, seorang sahabat Rasulullah di Kota Madinah, mengira Mush’ab adalah pemuda dari surga karena begitu tampan wajahnya dan indah penampilannya.

“Seorang laki-laki, yang aku belum pernah melihat orang semisal diri nya. Seolah-olah dia adalah laki-laki dari kalangan penduduk surga,” ka ta Al Barra mendeskripsikan sosok Mush’ab.

Bahkan Rasulullah SAW pun pernah mengatakan ketampanan Mush’ab. Beliau bersabda, “Aku tidak pernah melihat seorang pun di Makkah yang lebih rapi rambutnya, paling bagus pakaiannya, dan paling ba nyak diberi kenikmatan selain dari Mush’ab bin Umair.” (HR Hakim).

Karena banyaknya kenikmatan dunia yang diraih Mush’ab, Rasu lullah pernah menangis saat me ngingatnya ...

Pasalnya, semua kenikmatan itu di lepaskan Mush’ab dengan ikhlas tanpa mengeluh ...

Rasulullah menangisi kondisi Mush’ab yang jauh berbeda setelah berislam ...

Peristiwa itu terjadi ketika ibunda Mush’ab mendapati putranya te ngah shalat ..

Mush’ab yang memeluk Islam di awal dakwah Rasulullah, selalu menyembunyikan keimanannya, sebagaimana muslim yang lain.

Saat itu dakwah masih dilakukan Rasulullah secara diam-diam ...

Kaget melihat Mush’ab telah mengi mani Muhammad, sang ibunda pun menyiksa putranya. Padahal dulu sang ibunda amat sangat mencin tai dan menyayangi Mush’ab.

Segala kenyamanan hidup diberi kan pada putranya. Sampai-sampai, hidangan selalu ibunda siapkan sa at malam agar ketika Mush’ab ba ngun, putra terkasihnya itu dapat segera menyantap makanan.

Kasih sayang berubah menjadi mur ka tak terkira. Ibunda menyiksa Mush’ab hingga badannya penuh luka.

Namun Mush’ab tetap enggan kem bali ke agama nenek moyang. Ia te tap memilih Islam meski tak ada la gi makanan lezat yang disantap nya hingga badan Mush’ab yang gagah itu menjadi kurus kering.

Mush’ab tetap mentauhidkan Allah meski segala fasilitas dari orang tuanya tak lagi didapatkan, baik pakaian yang indah maupun kendaraan yang mahal.

Hingga suatu hari, Mush’ab muncul dalam kondisi badan yang kurus kering dan pakaian compang-camping.

Sang pemuda yang dahulu tampan itu menjadi gelandangan yang mem buat setiap orang melas melihat nya ...

Demikian pula halnya Rasulullah. Beliau  menangisi kondisi Mush’ab yang rela menjual dunianya demi akhirat.

Hal itu dikisahkan oleh Ali bin Abi Thalib. Ia berkata, “Suatu hari, kami duduk-duduk bersama Rasulullah di masjid. Lalu muncul Mush’ab bin Umair dengan mengenakan kain burdah yang kasar dan memiliki tambalan ...

Saat Rasulullah melihatnya, beliau pun menangis teringat kenikmatan yang Mush’ab dapatkan dahulu (se belum berislam) dibandingkan kea daannya yang sekarang.” (HR
At Tirmidzi).

Rasulullah pun kemudian memuji Mush’ab yang rela meninggalkan segala kenikmatan.

“Sungguh aku melihat Mush’ab tatkala bersama kedua orang tuanya di Makkah. Keduanya memuliakan dia dan memberinya berbagai macam fasilitas dan kenikmatan. Tidak ada pemuda-pemuda Quraisy yang semisal dengan dirinya. Setelah itu, ia tinggalkan semua itu demi menggapai ridha Allah dan menolong Rasul-Nya.” (HR Al Hakim dari Zubair bin Al Awwam).

Tak hanya Rasulullah, para sahabat beliau juga merasa melas melihat kondisi Mush’ab. Mereka turut pilu dengan apa yang dialami sang pe muda yang dahulu sangat rupawan itu.

Sa’ad bin Abi Waqqash, salah sa tunya. Ia berkata tentang sang pemuda, “Dahulu saat bersama orang tuanya, Mush’ab bin Umair adalah pemuda Makkah yang pa ling harum. Ketika ia mengalami apa yang kami alami (kekerasan dari kaum kafir), keadaannya pun berubah. Kulihat kulitnya pecah-pecah mengelupas dan tertatih-tatih hingga tak mampu berjalan. Lalu kami ulurkan busur-busur kami, lalu kami papah dia.”

Namun, dalam kondisi yang demi kian, Mush’ab tetap menjadi saha bat Rasulullah yang turut serta memperjuangkan agama Allah.

Mush’ab sangat dikenang umat Is lam karena perannya yang sangat berjasa pada dakwah. Dialah juru dakwah yang diutus Rasulullah SAW untuk menyebarkan agama Islam di kota Madinah.

Karena dakwahnyalah kota Madi nah dipenuhi muslimin dan men jadi tujuan hijrah ..


Tak hanya itu, Mush’ab pula peme gang panji Rasulullah saat Perang Uhud berkecamuk.

Saat itu, Mush’ab tampil melindungi Rasulullah. Sampai-sampai pihak musuh mengira Mush’ab adalah Ra sulullah, hingga ditebaslah kedua tangan Mush’ab dan dibantai habis-habisan.

Ketika Mush’ab wafat, panji kemu dian dipegang oleh Ali bin Abi Thalib.

Saat perang usai, Rasulullah SAW berkeliling medan perang untuk me lihat jenazah para syahid.

Ketika melihat jenazah Mush’ab yang mengenaskan, Rasulullah SAW berhenti cukup lama dan mendoakan banyak kebaikan untuk sang pemuda.

Kedukaan meliputi beliau ...

Rasulullah pun bersabda, “Sungguh aku melihatmu ketika di Makkah, tak ada seorang pun yang lebih baik pakaiannya dan rapi penam pilannya daripada engkau. Dan sekarang rambutmu kusut dan (pakaianmu) kain burdah.”

Sosok Mush’ab selalu dikenang pa ra sahabat. Ketika umat Islam telah memasuki masa kejayaan, Abdurrahman bin ‘Auf pun masih teringat pada sosok Mush’ab.

Dikisahkan, saat itu Abdurrahan bin ‘Auf dihidangkan makanan yang le zat. Lalu tiba-tiba ia teringat pada sang sahabat.

“Mush’ab bin Umair telah wafat ter bunuh, dan dia lebih baik dariku. Tak ada kain yang menutupi jenazahnya kecuali sehelai burdah.” (HR Al Bukhari).

Abdurrahman bin ‘Auf pun tak sang gup menyantap makanan tersebut, lalu menangis tergugu ..













_____

https:// muslimahdaily.com > hikmah > item

Tidak ada komentar:

Posting Komentar