Rabu, 23 Januari 2019

Pintu Surga Terbuka (1)

Pintu SurgaTerbuka  (1)
Oleh aminuddin




KITA awali tulisan kita kali ini de ngan cerita yang berkenaan dengan Mutiah, Fatimah dan Rasulullah SAW ...

Diceritakan ...

Pada suatu hari Fatimah bertanya kepada Rasulullah SAW, siapakah perempuan yang bakal masuk surga pertama kali.

Rasulullah pun menjawab, seorang wanita yang bernama Mutiah.

Fatimah terkejut. Ternyata bukan dia seperti yang dibayangkannya. Mengapa orang lain. Padahal dia adalah puteri Nabi?

Karena itu timbul keinginannya un tuk mengetahui siapakah Mutiah itu sebenarnya. Apakah gerangan yang diperbuatnya sampai menda pat kehormatan yang begitu tinggi?

Setelah meminta izin kepada suaminya, Ali bin Abi Thalib, Fatimah berangkat mencari rumah Mutiah. Putranya yang masih kecil, Hasan, menangis ingin ikut. Maka digandengnyalah Hasan.

Tiba di depan rumah Mutiah, Fatimah mengetuk pintu dan memberi salam, " Assalamualaikum ..!"

"Waalaikumsalam! Siapa di luar?" Terdengar jawaban yang lemah lembut dari dalam.

Suaranya cerah dan merdu ...

"Saya Fatimah, puteri Rasulullah."

"Alhamdulillah, alangkah bahagia saya hari ini. Fatimah sudah berkunjung ke gubuk saya." Terdengar kembali jawaban dari dalam.

Kali ini lebih gembira lagi, dan makin dekat ke pintu.

"Sendirian Fatimah?"

"Aku ditemani Hasa ."

"Aduh, maaf ya." Suara itu terdengar jadi menyesal. "Saya belum menda pat izin untuk menemui tamu laki-laki."

"Tapi Hasan masih kecil."

"Meskipun kecil, Hasan laki-laki. Be sok saja datang lagi, saya akan minta izin kepada suami saya," sahut Mutiah tak kurang kecewanya.

Sambil menggeleng-gelengkan ke palanya, Fatimah minta permisi.

Besoknya dia datang lagi. Kali ini Husin diajak juga. Maka bertiga de ngan anak-anak yang masih kecil itu Fatimah mendatangi rumah Mutiah.

Setelah memberi salam dan dijawab gembira, Mutiah berkata dari dalam, "Jadi dengan Hasan, Fatimah? Suami saya sudah memberi izin."

"Ya, dengan Hasan dan Husin."

"Haa? Mengapa tidak bilang dari kemarin? Yang dapat izin cuma Hasan. Husin belum. Terpaksa saya tidak menerimanya juga."

Hari itu Fatimah gagal bertemu pula. Hanya esok harinya baru mereka disambut baik-baik oleh Mutiah di rumahnya.

Keadaan rumah itu sangatlah se derhana. Tidak ada satu pun pera botan mewah. Namun semuanya teratue dengan rapi.

Tempst tidur yang terbikin dari kayu kasar tampak bersih sekali. Alas nya putih. Agaknya baru dicuci. Dan bau di dalam sangat segar, membi kin orang betah berdiam di rumah.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar