Rabu, 23 Januari 2019

Strategi Pemanfaatan Lahan Basah (14-tamat)

Strategi Pemanfaatan Lahan Basah (14-tamat)
Oleh aminuddin

4. Peran dan Keterlibatan Perguruan Tinggi.

a. PT yang wilayah Tri Dharma Perguruan Tingginya mencakup daerah rawa seyogianya mempunyai pemahaman yang komprehensif tentang berbagai aspek terkait dengan daerah rawa dari sisi teknis, sosial, budaya, ekonomi dan kelembagaan.

b. Memahami masalah (seperti point 3) lebih merupakan tugas PT yang kemudian menerjemahkannya ke dalam bahasa birokrasi dan pemerintahan sehingga dapat diimplementasikan oleh pemerintah di lapangan.

c. Konsep penelitian dan pengembangan PT harus juga berorientasi pengguna atau berorientasi petani (client oriented atau farmers oriented research and development).

d. Peran dan keterlibatan PT dalam pengembangan dan pengelolaan daerah rawa paling tidak dapat dibedakan menjadi  :

d1. Task concept - civitas academica PT melakukan sendiri kegiatan-kegiatan untuk membantu masyarakat dan pemerintah daerah seperti misalnya mencari data-data lapangan, menggali keinginan masyarakat;

d2. Technical assistance - dosen dan mahasiswa membantu dan memberi masukan untuk masyarakat atau aparatur pemerintah daerah yang melakukan kegiatan di wilayahnya;

d3. Networking dan diseminasi informasi - pada berbagai kesempatan seminar, lokakarya, website, data dan informasi serta program pemerintah daerah disebarluaskan ke para pelaku (calon) sehingga mereka tertarik untuk terlibat.

e. Sudah selayaknya PT di masing-masing provinsi kawasan rawa menjadi pusat data dan informasi iptek daerah rawa bagi para pengguna.

5. Keterlibatan pihak swasta, BUMN, dan masyarakat.

a. Pihak swasta yang berbadan hukum ataupun masyarakat lebih banyak berinvestasi secara naluri di daerah rawa.

b. Percepatan investasi oleh pihak swasta di daerah rawa memerlukan dukungan ketersediaan data dan informasi, nasehat teknis, pendampingan dan peraturan serta perizinan yang mendukung.

c. Sumsel dapat dijadikan salah satu contoh. Mengakselerasi pembangunan di daerah rawa dan pesisir dengan keterlibatan pihak swasta dan peran aktif pemda yang didukung oleh ketersediaan data dan informasi.

d. Anggota masyarakat dan kelom poknya, misalnya kelompok tani dan kelompok pengelola air dapat dilibatkan secara aktif melalui pen dekatan latihan dan kunjungan.

e. Penyuluh pertanian pemerintah atau penyuluh pertanian swakarsa sangatlah membantu proses keterlibatan masyarakat dalam kegiatan pengelolaan dan pembangunan daerah rawa ini di lapangan.

f. Pembagian peran dan tersedia serta terciptanya forum komunikasi multi pihak yang bersifat dinamis, akomodatif, tegas, baik secara formal maupun informal.

g. Pemerintah memberikan dukungan dan fasilitasi terhadap kegiatan pihak swasta ini.

h. Pemerintah lebih berperan dalam menginisiasi dan mengakselerasi kegiatab-kegiatan pelayanan publik.

i. Kesepakatan tidak tertulis tentang pembagian peran ini dapat dibuat menjadi lebih resmi berupa kesepakatan kerjasama, penentuan tata ruang wilayah, penyusunan rencana detil tata ruang kawasan.

j. Pelaku utama pengelolaan dan pengembangan daerah rawa secara terus menerus adalah petani, nelayan dan masyarakat yang ada di daerah masing-masing lokasi. Mereka melakukan tugas pengelolaan dan pengembangan baik secara individu maupun lewat kelompoknya.

k. Pengembangan sumberdaya manusia tingkat lapangan ini akan lebih efektif bila dilakukan secara terpola baik melalui penyuluh perta nian pemerintah maupun penyuluh pertanian swakarya (mandiri).

l. Penguatan kapasitas kelembagaan petani, nelayan dan kelompoknya pada tingkat lapangan harus diikuti juga dengan penguatan kelembagaan petugas pada tingkat lapangan dan institusi pemda yang terkait.


6. Pengembangan Pertanian Terpadu Berbasis Kawasan.

Program dan kegiatan pada suatu kawasan pengembangan sebaiknya bersifat : unggul, integral: vertikal-horizontal; pendekatan wilayah; berbasis sumberdaya alam; teknologi tepat guna; berorientasi pasar; pemberdayaan masyarakat; berwawasan lingkungan.

Berikut kita sertakan mekanisme pelaksanaan pengembangan perta nian terpadu berbasis kawasan yang dilakukan di Kabupaten Banyuasin, Sumsel.



                  Visi dan Misi
           Kabupaten Banyuasin

                             |

                Rencana Strategis
            Kabupaten Banyuasin

                             |


SDM       Sumberdaya Buatan  SDA

                             |

Data   Renca  Program  I    Kebutu
dan     na Ta   Utama     P  han Ma
In        ta Ru    Kab          T   syarakat
for       ang.     BA            E
masi                                 K
                                     IMTAK

                            |

               
             Program 2003-2010

                   Sifat dan Ciri


- Unggul                  - Integral:vertikal-
                                  horizontal
- Pendekatan          - Berbasis SDA
  Wilayah
- Teknologi Tepat   - Berorientasi
   Guna                      Pasar
- Partisipatif           - Pemberdayaan
                                  Masyarakat
- Berwawasan Lingkungan



7. Peningkatan Kapasitas Kelembagaan Melalui Pengembangan SDM.

a. Pelatihan, training, program non-gelar dan pendidikan gelar pada berbagai aspek lahan basah/rawa sangat diperlukan dan dapat dilakukan untuk meningkatkan kemampuan SDM yang mengelola lahan basah/rawa.

b. Hal ini dilakukan Unsri yang di antaranya melalui program-program sebagai berikut :

- Program Linkage/Double Master Degree on Intrgrated Lowland Development and Management Planning (DD-IL.DM).

- Program S3 -- Doktor -- Ilmu-ilmu Lingkungan (BKU Lingkungan Lahan Basah, BKU Agri-Industri-Energi, BKU Sosiologi Lingkungan.












_____
- Sumber bacaan: Makalah Utama dengan tema 'Potensi dan Strategi Pemanfaatan Lahan Basah untuk Pertanian, Peternakan dan Perikanan', ditulis Prof Dr Robiyanto H. Susanto, M.Agr.Sc, Guru Besar Manajemen Air dan Lahan Rawa Unsri.

- Makalah ini disampaikan pada Seminar Nasional Lahan Sub-Optimal, Palembang, 20-21 September 2013.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar