Jumat, 04 Januari 2019

Strategi Restorasi KPHP Lakitan (3)

Strategi Restorasi KPHP Lakitan (3)
Oleh aminuddin

E. Aspek Ekologi dan Ekonomi

- HASIL survei dengan Metode Transek menunjukkan tutupan lahan pada lokasi prioritas didominasi oleh kebun karet, hutan bekas tebangan dan terbakar, dan semak belukar.

- Rata-rata populasi 573 ph/ha 13 dari 18 jenis pohon ditemukan anakannya.

- Diketemukan sebanyak 18 jenis pohon dengan populasi terbanyak adalah karet (hevea sp), pulai(alstonia sp) dan medang-medangan.

- Terdapat 41 desa dari 13 keca matan di Kabupaten Musirawas, Sumatera Selatan yang melingkupi KPHP UnitnVI Lakitan.

- Mata pencaharian utama : kebun karet, sawit, buruh tani, beterna, lebah madu, kerajinan rotan.

- Masyarakat masih memanfaatkan hasil hutan bukan kayu seperti; lebah madu, rotan dan buah jernang.

- Sebagian besar masyarakat masih hidup di bawah garis kemiskinan.*

- Sebagian tingkat pendidikan masyakat masih rendah.
















_______
* Menteri Perencanaan Pembangu nan (PPN) atau Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro menyebut kan, rendahnya kepemilikan lahan adalah salah satu penyebab para petani tak pernah bisa hidup mak mur.
Hingga saat ini para petani di Indo nesia rata-rata hanya memiliki la han kurang dari setengah hektar.  Terutama para petani di Pulau Jawa.
“Kondisi ini menyebabkan petani sulit untuk mengusahakan lahan itu sendiri pada tingkat yang menguntungkan,” kata Bambang.
Masalah lainnya adalah karena sebagian besar petani belum memiliki ketrampilan pertanian yang mumpuni.
Sebabnya, karena sebagian besar petani berpendidikan rendah. Keterbatasan ketrampilan, pendapatan yang rendah dan pendidikan yang kurang memadai itu membuat para petani kesulitan mengadopsi teknologi pertanian yang baru.
Padahal perkembangan dunia pertanian sekarang ini sangat tergantung dengan penguasaan teknologi ..
Di Australia, Bambang mencontoh kan, petani justru digolongkan seba gai kalangan orang kaya. Soalnya, rata-rata petani di sana memiliki lahan yang luas dan sudah meng gunakan teknologi modern dalam menjalankan pertaniannya.
Berkat penerapan teknologi modern, sistem pertanian di sana menjadi jauh lebih efisien dan hasilnya jauh lebih maksimal bagi kesejahteraan petani.
Maka, menurut Bambang, paradigma pertanian di Indonesia harus digeser. Bukan lagi pada produksi pangan dan berbagai program subsidi seperti pupuk, melainkan lebih pada orientasi mensejahterakan petani.
Salah satunya dengan menggalak kan pola Agribisnis yang mampu menciptakan kesejahteraan lebih baik bagi petani.
Mengenai masalah kemiskinan, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan mengungkapkan, salahsatu tingginya angka kemiskinan disebabkan karena masih kurangnya infrastruktur di daerah pedesaan.
Seperti kasus kemiskinan yang terjadi di wilayah pantai selatan Sukabumi hingga Banten. Sepanjang pantai selatan Sukabumi dan Banten memang wilayah yang sebagian warganya masih berada di bawah garis kemiskinan.
Kurangnya infratruktur menyebabkan potensi komoditas desa yang tinggi dan bisa mendorong peningkatan kesejahteraan warga menjadi tidak bisa berkutik karena kurangnya sarana.
Ambil contoh di daerah Sukabumi. Banyak desa yang tak bisa mengi rimkan produknya untuk dijual ke kota karena sarana jalan raya yang kurang memadai.
Saat ini pemerintah terus berupaya meningkatkan kesejahteraan warga terutama pedesaan sehingga me ngurangi kemiskinan.
Langkah itu bukan hanya dilakukan satu kementerian saja melainkan melibatkan berbagai kementerian yang memiliki program yang sama seperti Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi, Kementerian UMKM dan Koperasi dan berbagai institusi lainnya. (www.berdesa.com)



Tidak ada komentar:

Posting Komentar