Tangga Bahagia (6)
Oleh aminuddin
ORANG yang hidup hanya diikat oleh mencari sesuap nasi, bukan diikat dengan keenakan mengerja kan pekerjaan, amat sukarlah me rasai bahagia. Tetapi kian lama kian mundurlah tenaganya, dan kecewa hatinya.
Yang kelima, kebahagiaan itu bukanlah ayapan (anugerah) Allah SWT yang dapat diterima dengan mudah saja. Yang selalu kejadian, mencapai bahagia setelah berjihad, berjuang.
Setiap manusia perlu berjuang. Ha kikat perjuangan teguh tiangnya di kalangan bangsa Barat, dan sunyi sekali di kalangan bangsa Timur. Terutama udara dan pergaulan Ba rat menyebabkan "kerja" lebih di sukai orang daripada malas.
Itulah sebabnya maka berlainan pandangan Barat dengan Timur dalam perkara mencapai bahagia. Bagi Timur, dengan berdiam diri bermenung bersemedi dan suluk, terdapatlah bahagia.
Tetapi bagi Barat, bermenung atau menyerah saja tidak akan dapat me nghasilkan bahagia. Bangsa Barat tidak hendak mencukupkan keper lu an sekadar yang perlu setiap hari saja, tetapi menghendaki lebih dari itu.
Karena kemenangan yang berhasil (sukses) itulah kebahagiaan yang sebenarnya bagi mereka. Cuma sa yang pada masa akhir-akhir ini suk ses itu telah diukur dengan ukuran materi, kebendaan.
Disinilah keteledoran dinamik Ba rat. Sayang pula, bagi Barat pada hari ini sebagaimana kebahagiaan itu sudah mulai kendor, yaitu hubu ngan yang setia di antara suami dan isteri.
Di negeri Inggeris saja, umum ke dua belah pihak (laki-laki dan pe rempuan), sama-sama mengakui bahwa pihak mereka lebih dari yang lain.
Kalau diingat dan diinsyafkan kem bali oleh bangsa Barat, bahwa ke menangan atau kekayaan dan penghasilan yang mereka peroleh dalam perjuangan hidup ialah buat keberuntungan anak dan turunan di belakang hari, haruslah mereka per baiki kembali hubungan suami isteri itu.
Sebaliknya dengan Timur, mereka belum banyak memikirkan apa arti perjuangan. Itulsh sebabnya kema juan masih sangat jauh dari bangsa Timur.
Manusia berkehendak pada kekua tan. Ada orang yang menggunakan kekuatan untuk memelihara diri sen diri, dan ada pula menggunakan ke kuatan buat menguasai dan mem pengaruhi orang lain, atau diguna kan untuk mengubah aturan yang pincang di masyarakat, maka se mua kekuatan ini tidak diiringi oleh perjuangan.
Orang yang tidak merasa perlu ada kekuatan, artinya yang tidak sudi menghadapi perjuangan. Itu berarti pula tidak berani menanggung jaw ab di dalam medan prikemanusi aan.
Saya kritik bangsa Barat yang pada masa akhir-akhir ini hendak meniru "Kebijaksanaan Timur", menying kirkan perjuangan, hanya hendak tenteram dalam diri sendiri.
Padahal orang Timur sendiri sudah mulai membenci "kebijaksanasn" itu.
Demikian Bertrand Russel ...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar