Senin, 01 April 2019

Tangga Bahagia (10)

Tangga Bahagia (10)
Oleh aminuddin




CUMA satu yang perlu diobati, yaitu penyakit jiwa yang perlu dioperasi dengan penyelidikan ilmu jiwa mo dern, yakni perasaan sombong.

Dengan demikian, kalau alam lua ran tidak pula dapat kecelakaan yang umum, tidaklah pula manusia akan terhambat mencapai bahagia.

Oleh karena itu, wajiblah pendidi kan dan pengajaran zaman seka rang didasarkan atas memperse suaikan alam  bahagia dalam (jiwa) dengan bagian luar.

Karena manusia yang bahagia ialah yang hidupnya buat alam, bukan bu at dirinya seorang. Apa juga yang ada di alam ini, semuanya mengan dung sebab-sebab buat menyena ngkan masyarakat.

Saya kurang setuju dengan sete ngah ahli fikir yang menyemboyan kan keperluan orang lain saja de ngan melupakan diri sendiri.

Tidak ada orang yang akan menga jak kawin seorang perempuan de ngan perjanjian bahwa maksudnya kawin ialah kebahagiaan perem puan saja, biar dirinya celaka.

Yang sebenarnya ialah diri sese orang, satu bagian dari kedirian masyarakat. Menimbang kemas lahatan bersama, bukanlah artinya kehendak orang seorang, karena kumpulan seseorang itulah yang jadi masyarakat ramai.

Dari seorang dan masyarakat itu hanya satu tubuh yang bermama dua, dari masyarakat juga, masya rakat diri juga. Kebahagiaan manu sia ialah persetujuan kehendak diri dengan kehendak masyarakat.

Manusia yang beroleh bahagia ia lah yang tidak merasa kecewa ke pada dirinya sendiri, dan tidak me rasa kecewa setelah diri itu teng gelam ke dalam masyarakat.

Terpisahnya di antara kepentingan masyarakat hanyalah bilamana ora ng tidak merasa bahagia lagi.

Habis keterangan Bertrand Russel.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar