Tangga Bahagia (13-habis)
Oleh aminuddin
3. Sehat Jiwa
RUKUNNYA yang pertama ialah beriman dengan Allah SWT. Tetapi iman itu tidak ada artinya apa-apa kalau tidak kelihatan bayangannya pada hal ikhwal setiap hari, atau pada hubungan antara kehidupan dengan alam.
Tampak alamatnya pada kerinduan yang terbit dari cinta yang memper hubungkan dengan hayat, dan de ngan cita-cita yang menghubung kan engkau dengan alam.
Kalau engkau telah duduk dengan sendirimu, lepaskan ikatan badan mu, unjurkan kaki dan bebaskan akal, picingkan mata, jangan dibe lokkan pikiran kepada yang lain.
Setelah terasa istirahat, di bawah pengaruh kebaikan hasil, niscaya akan menjalarlah jiwa ke dalam alam yang lain dari alam kita ini.
Perhatikan diri sendiri, ingat perta liannya dengan alam yang diliputi cahaya, kesehatan dan kekuatan. Setelah itu bermohonlah kepada Tuhan : " Ya Ilahi, tambahlah kekuatanku dan tambahlah cahayaku!"
Setelah itu ingat pula bahwa diri engkau ini satu bagian dari satu masyarakat besar ; masyarakat itu menghendaki supaya tiap-tiap tia ngnya teguh, dan menghendaki su paya engkau menjadi salah satu tiang yang teguh itu.
Ketika itu bermohonlah kepada Tu han dan akuilah dihadapan-Nya : "Ya Ilahi! Saya mulai memperbaiki diriku sendiri, supaya perbaikan itu berpindah kelak kepada sesama manusia yang ada di sekelilingku."
Setelah itu ingat pula bahwa diri mu satu bagian cari rumah tangga yang harus sama-sama menang gung kesakitan dan kesulitan da lam hidup ini, di dalam memikul kewajiban yang berat.
Ketika itu bermohon pula kembali kepada Tuhanmu : "Ya Ilahi! Perto longan engkaulah yang aku harap kan supaya dilapangkan jalanku menuju cinta, menuju kemudahan langkah, menuju hikmat, dan kese derhanaan!"
4. Kaya (Cukup)
Satu perkara lagi yang tinggal, yaitu kemiskinan atau putus asa. Kalau bertemu perkara yang dua ini, wa laupun badan sehat, akal cerdas, dan roh bersih, namun keduanya adalah racun bahagia.
Tangkal atau obat menyingkirkan racun ini mesti ikhtiarkan segera. Yaitu hendaklah segala usaha dan pekerjaan selalu digandengkan dengan tiga syarat.
Apa sajakah tiga syarat itu?
• Tahu harga diri.
• Percaya kepada diri sendiri.
• Menyerah kepada diri.
Jika dalam usaha pertama engkau jatuh, kedua engkau jatuh, ketiga engkau jatuh juga, ingatlah bahwa segala sesuatu itu beredar menurut untung nasib yang selalu berputar.
Saya tidak suka memberi engkau nasehat supaya dalam kekalahan itu engkau tawakal saja, tidak diiringi oleh cita-cita.
Tetapi kalau percobaanmu itu ber hasil, sekali-kali jangan engkau cu kupkan begitu saja. Karena kalau berhenti hingga itu saja pekerjaan itu akan usang, akan basi, kegiatan mu habis, cita-citamu terkurung, ke mauanmu jadi lemah.
Sungguh, kebahagiaan itu didapat dalam perjuangan yang terus-teru san. Bahagia yang paling besar ia lah pada kemenangan yang silih berganti. Dan kemenangan tidak ada tanpa perjuangan.
Ada pula yang perlu saya pesan kan ...
Terima dengan hati yanh besar apa yang ada ini, dan tiap-tiap hari mes ti bersungguh-sungguh, walaupun kesungguhan itu ada yang tidak berbuah.
Tidurlah dengan hati tenang dan ridha, penuh kepercayaan kepada Allah SWT, kemudahan itu kepada dirimu sendiri, kelak kalau engkau bangun pagi-pagi, engkau akan beroleh kegiatan dan kemauan baru, untuk berjuang pula.
Dan sebagai pucuk semua nasehat itu, saya ulangkan suatu pepatah yang sangat berharga, yaitu :
"Kekayaan ialah pada perasaan telah kaya."
Kalau engkau telah disebut kaya, sepeserpun tak berarti kekayaan itu, kalau tidak engkau pergunakan untuk kemaslahatan umum, untuk membela fakir dan miskin. Orang yang mensucikan (menzakatkan) hartanya, baiklah untungnya.
Ingat pula --- sebelum kita berpisah -- bahwa berpacu di gelanggang hi dup itu, pun mengandung perpacu an kesucian jiwa. Dan perpacuan yang semulia-mulianya ialah berpa cu di dalam berpacu.
Moga-moga engkau dijadikan Tu han orang yang masuk gelanggang perpacuan itu, sehingga engkau me rasa kebahagiaan sejati karena kemenangan berpacu ...
_____
Tulisan ini disarikan dari buku 'Tasauf Modern' (sub bahasan: Tangga Bahagia) karya almarhum Prof Dr Hamka, Cetakan XVII, Januari 1980, Diterbitkan oleh Yayasan Nurul Islam.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar