Sabtu, 25 Mei 2019

Peluk Aku Ya Allah (4)

Peluk Aku Ya Allah (4)
Oleh Wak Amin




KALA itu kami bertempur melawan pasukan musuh. Meski jumlah pa sukan kami hanya berkekuatan se ratusan personil, kami nyaris meme nangi pertempuran yang berlang su ng beberapa hari itu.

Merasa terdesak, pasukan lawan mengibarkan bendera putih. Mere ka  menawarkan gencatan senjata. Utusan kedua belah pihak bertemu di perbatasan.

Disepakati kedua belah pihak tidak akan melakukan penyerangan. Ti dak menakut-nakuti, menjarah dan membunuh rakyat jelata yang tidak bersalah.

Sayang, gencatan senjata itu hanya dipatuhi beberapa hari saja. Sam pai suatu ketika, di pagi yang buta,  pasukan yang terkenal kejam itu menyerang balik dan  menghabisi warga desa dengan cara disiksa sampai mati.

Harta benda dijarahi, rumah dibakar dan banyak dari kaum wanita yang tak sempat menyelamatkan diri, akhirnya ditawan dan dijadikan bu dak pemuas nafsu.

Mendengar kabar kelam ini, atasan ku Jenderal Fauzi marah besar. Dia memintaku menyiapkan pasukan dan bersiap menyerang lewat jam dua belas malam.

"Kita tak ingin mereka berbuat seke hendak hatinya. Paham Kolonel?"

"Paham Jenderal."

"Siap laksanakan sesuai jadwal."

"Siap Jenderal."

Selama tiga hari kami bertempur. Selama itu pula banyak korban ber jatuhan. Kekuatan kami mulai go yah karena lebih dari separo 'orang terbaik' kami tewas.

Jenderal Fauzi menginstruksikan anggota pasukannya untuk mun dur dari perbatasan. Menuju ke se buah hutan dan bersembunyi sem bari menghimpun kekuatan di sana.

Sesampainya kami di hutan yang dikelilingi lautan luas itu kami dise rang beberapa lelaki bertopeng. Me reka turun dari pohon dengan tiba-tiba, lalu memenggal leher pasukan kami satu persatu.

Sejak kejadian itu, aku yang hampir saja terbunuh oleh mata pedang, tak tahu dimana keberadaan Jen deral Fauzi, komandanku. Yang ku tahu teman-temanku tewas secara mengenaskan.

Aku marah. Tapi melawan mereka dengan seorang diri percuma. Tak akan menang ..

Door ...

Dooor ...

Sebuah tembakan nyaris mengenai kepalaku. Aku melompat ke arah se mak jalan setapak.  Si penembak  ta di berusaha mengejarku ..

Anak panah berseliweran. Menan cap tajam di batang pohon. Disusul lompatan tanpa suara dari satu po hon ke pohon lainnya yang dilaku kan beberapa pria bertopeng ..

Mereka terus mendekat. Salah seo rang dari mereka melompst dari atas pohon dan berhasil menyer gapku ...

Kami saling jual beli pukulan. Ta ngan ke muka, kaki ke perut, silih berganti ..

Aku mundur beberapa langkah ke belakang. Lalu berlari kencang. Kudengar suara gemuruh air ...

Ohhh lautan lepas ...

Apa yang harus kuperbuat seka rang?

Melompat atau melawan?

Kupilih melompat dari atas tebing hutan yang curam, meski ketinggi annya dari permuka an air lautan tak terhitung olehku.






Tidak ada komentar:

Posting Komentar