Mang Kerio (133)
Oleh Wak Amin
"HEBAT sekali. Cium dulu ah," kata Cek Leha, cium pipi kiri dan kanan Sinta yang masih berkeringat.
"Hebat kamu Dik," uji Hasan sem bari mempersilakannya duduk di tempatnya semula.
"Terima kasih Kak Hasan," jawab Sinta, agak malu-malu.
"Mamang salami juga dong." Tanpa diminta, Sinta cium tangan Mang Kerio.
Plak .. Pak .. Plak .. Pak ..
"Nah gitu, itu namanya calon me nantu," goda Cek Leha.
Yang digoda senyum-senyum sa ja ...
"Mamanya enggak dipeluk Sin?"
"Enggak mau Kak."
"Lho, emangnya kenapa?"
"Belum mandi ..."
He he he he ...
Kesel, dia cubit pahanya Sinta. Meri ngislah kesakitan. Saat ditanya Cek Leha kenapa, Sinta bilang hanya ke
jepit kaki kursi saja.
Sepulangnya dari rumah makan, Yu nita masih penasaran dengan laki-laki idaman yang dinyanyikan Sinta di rumah makan Pagi Berseri.
Dia cuma pengen tahu siapa gera ngan bakal calon pendamping hi dup si buah hati.
"Ada deh Mam. Tenang aja," kata Sinta, mempersilakan Mamanya mencicipi teh manis racikannya.
"Minum dulu Mam. Santai aja."
"Oke. Mama minum ..."
Kata Sinta, si calon laki orang baik. Bukan pengangguran dan dari ke luarga biasa-biasa saja.
"Bukan Ali kan?"
"Bukan Mam."
"Bukan Manaf kan?"
"Bukan Mam."
"Bukan Saiful kan?"
"Juga bukan Mam."
Heeeemmm ...
"Ini bukan, itu bukan. Lalu siapa ya? Atau jangan-jangan kamu ngeboho ngi Mama aja. Enggak ada laki-laki idaman itu."
"Ya memang enggak ada Mam."
"Nah, betul kan?"
"Ya memang enggak ada sekarang. Karena dia tak Sinta minta datang sekarang Mam."
Sang Mama masih tak percaya. Sin ta cuma berbohong saja.
"Kapan-kapan Sinta kenalin deh sa ma Mama." Sinta menyeruput teh. Sejak tadi belum minum. Sedang kan teh Mamanya sudah habis diseruput.
"Enggak kapan-kapan. Kalau bisa sekarang," kata Yunita, setengah memaksa.
Takutnya, kalau sudah jadian, sem entara kita selaku ibunya kurang sr eg sama itu calon laki anak, cova gimana.
Mumpung nasi baru masuk panci, lebih cepat tahu sosok calon man tu, itu lebih baik agar tidak ada pe nyesalan di kemudian hari.
Betul tidak?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar