Peluk Aku Ya Allah (22)
Oleh Wak Amin
"AYO sedikit lagi ..." Teriak Jenderal Komar, menyemangati anak buah nya yang mulai disergap rasa bo san dan kelelahan.
"Sedikit lagi .. Sedikit lagi. Kapan nyampenya? Celetuk prajurit berba dan tegap dan paling tinggi postur tubuhnya di pasukan pemberontak.
Ssssst ...
"Jangan keras-keras Bro. Nanti ke na kempelang tau," kata prajurit ber telinga besar mengingatkan.
"Iya Bro. Kalau kempelang yang itu enak bisa dimakan pake' cabe. Lho yang ini kempelang bikin kepala pusing dan muntah-muntah."
He he he he ...
Mendengar sebagian anak buahnya tertawa, Jenderal Komar meminta pasukannya berhenti sejenak.
Dia mendekati anak buahnya yang tertawa tadi .."
"Kenapa tertawa?"
"Ada yang lucu saja Pak," jawab si telinga besar, yang diketahui ber nama Azis.
"Lucu kenapa haa?" Tanya Jenderal Komar dengan nada tinggi.
"Beliau Pak." Azis menunjuk teman nya yang paling tinggi, Herman. Ka rena dia lah yang memulai pergu rauan ini.
"Ada apa Sersan Herman?"
"Tidak kenapa-kenapa Pak," jawab Sersan Herman.
Paaak ...
Kena tampar ...
"Jangan main-main dengan saya ya. Saya ini pemimpin kalian. Mengerti?"
"Mengerti Jenderal."
"Push up seribu kali sekarang!" Pe rintah Jenderal Komar.
"Siap Jenderal."
Sersan Azis dan temannya yang ju ga ikut tertawa, Sersan Doni geli be rcampur iba melihat Sersan Her man dihukum push up.
Apa mungkin dia sanggup dalam keadaab kelelahan seperti sekara ng ini ...
"Kamu juga Sersan Azis. Push up!"
"Seribu Jenderal?"
"Dua ribu kali .."
Haaaa?
"Kamu juga Sersan Doni. Push up tiga ribu kali.".
"Siap Jenderal."
"Yang lain berjaga- jaga." Menunjuk beberapa anak buahnya mengawa si keadaan sekitar.
"Siap laksanakan Jenderal."
"Yang lain sama saya sekarang. Mengawasi Sersan Azis, Sersan Herman dan Sersan Doni."
"Siap Dan. Laksanakan!"
Tidak ada komentar:
Posting Komentar